SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 96


__ADS_3

Pandji tidur sepanjang siang, begitu juga dengan teman-temannya. Rasa lelah karena berhari-hari harus menghadapi masalah di berbagai tempat menguras kinerja otak dan juga energinya.


Selepas magrib, Tirta menyusul Pandji yang berada di pendopo belakang bersama Mika. Melatih tenaga dan menyesuaikan dengan energi milik Asih Jati yang mengendap lama di dalam raganya.


Kini, energi yang baru dibangkitkan itu meluap memenuhi setiap sel tubuh Mika.


"Badanku panas sekali … rasanya mau meledak," keluh Mika memejamkan mata.


"Konsentrasi penuh, Mika!" perintah Pandji yang duduk dalam posisi yang sama di depan Mika.


Mika bergumam lirih, "Aku bisa mati kelebihan mana, ini terlalu besar!"


Pandji menyuruh Mika merapatkan telapak tangan pada kedua tangan Pandji yang sedang membentang padanya. "Transfer sebagian mana yang tidak kau butuhkan padaku sekarang!"


Mika fokus membenahi aliran mana dalam tubuhnya yang meluap kacau. Tubuh rampingnya bergetar saat telapak tangan Pandji menyerap sebagian mana yang menumpuk pada tubuhnya.


Pembuluh darah yang tadi nyaris pecah mulai terasa membaik dan tidak lagi sakit. Suhu badannya kembali normal saat kebutuhan energi dalam tubuhnya terasa pas.


Selain merasakan lelah yang amat sangat, tidak ada hal lain yang dikeluhkan Mika. Gadis cantik itu tetap memaksa membuka mata meskipun berat.


Melihat Mika butuh istirahat, Pandji tidak berniat mengajak pergi ke rumah Tirta.


"Sekarang?" tanya pemuda jangkung yang masih menunggu Pandji dengan wajah serius walaupun tetap saja terlihat konyol.


Pandji mengangguk sekilas pada Tirta sebelum pamit pada Mika, "Aku mau ke tempat Tirta sebentar!"

__ADS_1


"Aku ikut, kamu tidak bisa meninggalkanku di rumah sendirian!" protes Mika dengan wajah mengeras.


"Apanya yang sendirian? Semua anggota keluargaku ada dan bisa kamu jadikan teman mengobrol … maksudku kamu juga harus istirahat atau aku akan minta ayah mengirimmu kembali ke Surabaya jika tetap saja keras kepala!" Pandji menanggapi datar. "Kamu bisa pulang bareng oma beberapa hari lagi!"


"See … kamu selalu mengancam dengan kalimat yang sama setiap saat. Aku bosan mendengarnya!" sengit Mika melebarkan mata. Menantang mata Pandji yang menyorotnya dengan geregetan.


Merasa lebih tua dan harus menjaga Pandji dimana saja membuat Mika sering lupa dengan keadaannya yang tidak baik-baik saja.


Pandji menatap tajam pada wajah lelah kakaknya hingga Mika merasa jengah. Tapi, Mika tidak mau mengalah begitu saja pada adiknya yang jarang sekali memasang wajah seperti saat di depannya sekarang.


Mata Mika semakin berat dan tubuhnya bereaksi aneh, lemas seketika saat Pandji mendekatkan wajah padanya.


Mika mengumpat karena tidak bisa menahan kantuk, jadi saat pandji mengulurkan tangan … saat itu juga Mika jatuh tertidur menabrak dada di depannya.


Pandji membaringkan Mika di pendopo dan meminta Atika menemani sampai Mika bangun dan lepas dari kuasa mantra tidurnya.


"Tidak … otakmu terlalu mesum!" jawab Pandji singkat.


Tirta mendengus konyol, "Bagaimana dengan kiat-kiat mendapatkan wanita cantik?"


"Maksudmu apa, Tirta?" tanya Pandji lelah. Dia masuk ke dalam mobil diikuti Tirta, Aswanta dan Mahesa.


"Begini … Guru Aswanta bilang calon tunangan Mas Pandji itu sangat cantik, lalu Mika cantik, Atika cantik, satu lagi di sekolah yang bernama Elok juga cantik. Jadi bagaimana bisa semua perempuan cantik itu menginginkan pemuda yang sama?"


Tirta menyeringai penuh kemenangan, lalu melanjutkan kalimatnya kepada Aswanta yang duduk di sebelah Pandji, "Benar begitu, Guru?"

__ADS_1


Aswanta melirik Pandji yang menaikkan satu alis padanya, "Uhuk … ehm aku tidak mengatakan seperti itu, Sobat! Tirta hanya salah mengambil kesimpulan."


"Jadi selain berlatih kalian juga rajin bergosip?" Suara Pandji terdengar seperti orang mendongkol saat menyindir.


Mahesa tergelak melihat Aswanta dan Tirta yang saling menyalahkan, "Mungkin karena mereka berdua sama-sama tidak punya pacar."


"Jadi kau punya?" tanya Aswanta dengan nada iri. Matanya melirik wajah mahesa yang menurutnya hanya sedikit lebih baik darinya.


"Apalagi kalau bukan perjodohan keluarga … tapi aku menerimanya, Rengganis terlalu cantik untuk dilewatkan. Kalaupun mencari sendiri belum tentu juga dapat yang lebih manis," jawab Mahesa cengengesan.


Tirta meminta Pandji mengurangi kecepatan mobil setelah masuk komplek perumahan. “Sudah dekat, beberapa rumah lagi!”


Pandji melewati rumah gelap tanpa penerangan dan berhenti setelahnya. Tirta mengatakan kebablasan dan minta mobil mundur agar berada tepat di rumah yang seluruh lampunya padam.


"Kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini?" Pandji mengamati rumah tanpa sedikitpun penerangan itu sekilas, lalu turun dari mobil diikuti teman-temannya.


"Perasaanku tidak enak … ada apa dengan rumah ini? Kenapa aku merasa tidak senang saat melihat bangunan yang seharusnya terang benderang malah tampak suram mengerikan begini?" sambung Pandji lirih.


Tirta menelan ludah kasar, "Ini kediaman keluargaku … setauku rumahku tidak pernah berbuat salah pada Mas Pandji, jadi kenapa Mas Pandji merasa tidak senang?"


Aswanta menonyor kepala Tirta, "Kau ini … apa tidak ada hal konyol lain dalam otakmu yang miring itu?"


Tirta menghembuskan nafas berat, "Aku juga heran kenapa tidak ada yang menyalakan lampu … dan ini terlalu sepi, aku jadi ikut tidak senang. Jangan-jangan …!"


Pandji tidak memperdulikan ocehan Tirta, dia mendekati gerbang yang tidak terkunci dan masuk ke dalam lebih dulu. Tiga pemuda yang mengekor di belakangnya mengambil sikap diam dan waspada.

__ADS_1


Sampai di teras, suasana berubah perlahan … aliran mana sihir hitam memenuhi udara, dan bayangan yang awalnya bersembunyi di dekat taman mulai menyatu dengan elemen kehidupan seseorang, membentuk satu aura pekat dalam kegelapan.


***


__ADS_2