
Pandji memasang wajah biasa saja meskipun Mpu Sapta masih heboh dengan gelar Satrio Pamungkas yang terus diucapkannya.
"Bisakah kita tidak bicara mengenai gelar aneh yang tidak pantas untuk saya itu, Mpu?" Pandji akhirnya keberatan dan merasa risih dengan orang tua yang memujanya seperti dewa. Dia melihat skeptis pada raut keriput yang sekarang seperti orang jatuh cinta padanya.
"Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan ini, Den bagus Satrio Pamungkas! Wisik itu menghantuiku selama tujuh belas tahun, itu benar-benar menjadi sebuah renjana kerinduan yang sangat dalam."
Pandji menggeleng lemah, "Saya tidak paham! Saya juga lebih suka dipanggil Pandji."
Selain ahli membuat pusaka, ternyata mertuamu pandai merangkai kata, Damar.
Dalam pikiran Pandji, Damar terkekeh membenarkan.
"Aku ingin menjadi bagian dari perjalananmu menumpas angkara, Cah bagus! Itu mengapa aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu, aku bahkan tidak pernah merasa sangat bersemangat seperti ini sebelumnya." Mata Mpu Sapta berbinar-binar mengutarakan kegembiraan yang sedang mendera hatinya.
"Tapi Mpu adalah pembuat pusaka, bukan ksatria seperti Damar Jati." Pandji menyebut nama sang menantu dengan suara lirih.
"Oh anak itu … aku sampai lupa tidak menanyakan kabarnya. Tapi aku bisa merasakan auranya ada di sini bersama putriku, mereka memang pasangan abadi yang sangat cocok denganmu."
"Benar, mereka ada bersamaku sekarang," ucap Pandji dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Pada malam aku menyatukan Damar dan Asih, sebuah kutukan dari kegelapan melengkapi ritual permintaanku. Kau pasti sudah tau kalau mereka tidak boleh dipisahkan satu sama lain! Dan ya … kau sama sekali tidak salah, aku hanya orang tua yang kerjanya membuat pusaka, bukan ksatria petarung seperti Damar!" Mpu Sapta bicara datar dan apa adanya sembari mengenang masa lalu.
Pandji mendengarkan kisah Damar versi asli dengan antusias meskipun dia sudah mendengar sebagian cerita pusaka penganten miliknya itu dari ayahandanya dan juga romo guru. "Mohon maaf harus menyela, Mpu! Bisakah dongeng yang sepertinya panjang ini kita jeda dulu? Saya harus segera membawa Mpu Sapta kembali ke dunia manusia secepatnya!"
Mpu Sapta mengangguk serius, "Ohya baiklah, terlalu lama di penjara kegelapan membuatku lupa kalau masih ada dunia lain di luar sana! Tapi aku berniat menceritakan lima pusaka sihir lain yang sempat menggegerkan tanah Jawata … jika ada waktu!"
Pandji mengangguk sopan lalu menyuruh Mika untuk berjalan duluan, diikuti oleh Mpu Sapta dan dia paling belakang. Mereka bertiga bergerak cepat ke arah formasi sihir teleportasi berada.
Damar Jati berinisiatif membacakan mantra yang membawa mereka masuk ke dunia terbawah. Dan tak lama, mereka sudah berhasil keluar dari kastil besar yang biasa disebut penjara iblis dunia bawah.
"Aku tidak menyangka kau masih sempat mencuri dengar mantra pengaktif lift gaib ini, Damar!"
Mika bergegas keluar formasi sihir setelah mereka kembali menjejak lantai utama, menuntun jalan untuk menuju beranda samping tempat Pandji melubangi kubah kegelapan yang menjadi pelindung kastil penjara.
Mereka memang berhasil keluar area penjara dalam waktu singkat, hanya saja situasi sama sekali tidak sesuai harapan. Pandji, Mika dan Mpu Sapta disambut ribuan ksatria iblis dengan satu panglima perang berdiri paling depan.
Pandji berdehem kesal, meski dia sedikit memprediksi resiko seperti ini mungkin saja terjadi, tapi menghadapi jumlah iblis yang tidak sedikit, membuat Pandji memikirkan strategi bagus untuk lolos dari kepungan.
Dibandingkan jumlah pasukan Nergal, Pandji mengira-ngira kalau iblis yang ada di depannya mungkin lima kali lebih banyak karena mereka terbagi dalam lima kelompok dan dipimpin oleh lima iblis dengan baju zirah kerajaan.
__ADS_1
"Berhenti di tempatmu, manusia laknat!" Jenderal iblis melempar bola sihir merah yang langsung meledak di depan Pandji.
"Ehm … terima kasih sambutannya, tapi rasanya ini terlalu berlebihan. Bukankah seharusnya kalian masih sibuk berjaga di istana? Apa kalian tidak menjaga raja dan ratu kalian yang sedang berpesta?" tanya Pandji dengan ekspresi monoton.
“Kau terlalu banyak bicara, bocah! Kau hanya belum tau berhadapan dengan siapa sekarang!”
Pandji menyahut dengan ekspresi malas, “Kau pasti iblis tua yang sudah berumur lebih dari seribu tahun, tempatmu seharusnya bukan di sini lagi … tapi di neraka!”
Menahan geram, panglima perang iblis menatap Pandji sinis saat bicara. "Aku panglima perang tertinggi kerajaan iblis dan mereka adalah lima pangeran kegelapan, putra raja yang akan berebut untuk mendapatkan mangsa, harta dan pusaka!"
"Berapa persen peluang kita untuk bisa kabur dari mereka, Damar? Aku merasa pertarungan ini tidak akan mudah!" Pandji menghembuskan udara berat dari paru-parunya. Gumaman lirihnya membuat Mika dan Mpu Sapta spontan menoleh dan mengamati wajah dinginnya.
"Selalu ada peluang," jawab Mpu Sapta dan Mika hampir bersamaan. Begitu juga dengan suara Damar Jati di dalam kepalanya.
Pandji mengangguk dan merentangkan dua pedang kembarnya, dan dengan posisi siap bertarung, bibirnya bergerak mengucap selarik kata sembari menatap tajam ke arah barisan iblis yang tidak kelihatan ujungnya.
"Baiklah jika kalian semua optimis, aku tidak perlu menitip wasiat pada Damar Jati untuk menyampaikan pesan terakhir pada ibunda!"
***
__ADS_1