
Pandji duduk berhadapan dengan Mika, di sekelilingnya duduk kedua orang tua dan juga Oma Dina.
"Rasanya aneh," gumam Pandji melihat sekitar. Matanya berputar tak jenak menyisir ruangan yang jelas-jelas hanya ada mereka.
"Itu hanya aura dari buku sihir di depanmu," jawab Ayahanda Pandji singkat.
Cahaya bulan menerobos kaca dan memantulkan bayangan rak buku yang berjajar di sana. Perubahan hawa terasa oleh seluruh orang yang sedang duduk di perpustakaan. Lebih hangat dan menekan.
Tiba-tiba, Pandji merasa diselubungi oleh tirai tak kasat. Memisahkan dia dan Mika dengan sekelilingnya. Hampa udara dan tekanan terasa lebih berat, rasanya seperti sedang menyelam ke dalam dasar danau.
"Mas Pandji …." Satu suara lembut memanggil nama pemuda yang sedang memejamkan mata mengatur nafas dan mana dalam tubuhnya.
Membuka penglihatan perlahan, Pandji mendapati Mika tersenyum misterius padanya. Senyum dan ekspresi yang belum pernah sekalipun Pandji lihat ada pada Mika. Lebih mirip ekspresi Asih Jati daripada Mika yang dikenalnya.
"Asih?" tanya Pandji menatap lurus mata Mika. "Kau kah itu? Kau jelas bukan Mika!"
"Aku meminjam tubuh penjagamu, aku juga bukan Asih Jati," jawab perempuan yang merasuki tubuh Mika. Suaranya seperti bergema di telinga Pandji, memiliki efek sihir pikiran tingkat tinggi.
"Siapa? Tapi kau begitu mirip dengan Asih, begitu juga dengan auramu. Boleh aku menebak? Kau pasti punya hubungan dengan istri Damar Jati!" kejar Pandji menolak larut dalam suara mistis dari mulut Mika.
Pandji tidak mampu menyimpan rasa penasaran, pemuda itu terus mencerca dengan banyak pertanyaan dan juga pernyataan logisnya.
"Aku pemilik buku sihir yang sedang kau pegang itu. Hubunganku dengan Asih Jati tidak bisa aku jelaskan sekarang," ucap roh penyihir yang ada dalam tubuh Mika. "Aku datang untuk membukakan kitab pusaka yang kau temukan. Maksudku kitab yang aku wariskan padamu! Bukalah sekarang karena waktunya tidak banyak!"
Pandji membuka buku kuno perlahan, takut merusak kertas usang yang sebelumnya hanya terlihat seperti lembaran polos.
__ADS_1
Mika merapal mantra perlahan dan tulisan tangan muncul sedikit demi sedikit di tiap lembarnya. Melihat keajaiban itu, bukannya takjub … Pandji mengeluh dalam hati.
Astaga, haruskah aku membaca buku yang ditulis dengan aksara kawi kuno ini?
"Uhuk … ngomong-ngomong kau hidup di abad berapa, Asih? Bukankah aksara kawi ada di abad delapan sampai enam belas?"
Mika yang dipanggil Asih oleh Pandji tersenyum tipis, "Aku memang tidak muda lagi sekarang, sekali lagi aku bukan Asih. Saudariku itu …."
"Ehm … jadi kalian bersaudara? Sudah kuduga!"
Merasa kelepasan bicara, Mika diam dan kembali tersenyum canggung. "Ada beberapa sihir utama yang sangat berbahaya yang aku tulis dalam kitab itu. Sihir terlarang! Mana yang paling penting untuk kebutuhanmu, Mas Pandji?"
"Bagaimana aku bisa memilih jika aku tidak tahu sihir apa saja yang ada dalam buku kuno ini?" Pandji menatap penuh tuntutan, "Mungkin menutup portal-portal kecil yang sudah terbuka di bagian timur Jawa?!"
“Baiklah, aku akan menerangkan beberapa hal yang paling penting isi dari buku itu. Bagian pertama dari kitab adalah sihir pemindahan jiwa," tunjuk penyihir cantik dari dalam tubuh Mika pada aksara kawi yang ditulis dalam bentuk tubuh manusia. Persis rajah.
Mendengar hal itu, tubuh Pandji bergetar hebat. Jiwanya seolah lepas dan berada di luar tubuh, sakit tidak kepalang menyerang kepala dan lalu merambat ke seluruh tubuh, hingga ke bagian terkecil tubuh seperti inti sel dan sistem saraf.
Pandji menggelepar seperti orang sedang meregang nyawa saat satu tangan halus merenggut kesadarannya.
Gelap, mata Pandji terpejam rapat, hanya saja telinganya masih mendengar alunan mantra yang tidak lagi jauh. Tapi semakin dekat hingga seperti dibisikkan di telinganya, ditanam dalam otaknya, permanen dalam ingatannya.
“Bangunlah, Den baguse Abisatya! Mas Pandji!” perintah suara lembut itu dengan kekuatan magis yang tidak bisa ditolak Pandji.
" … " Pandji mengernyitkan dahi cukup lama seraya menatap Mika. "Apa aku baik-baik saja? Kenapa mantra sihir itu masih terngiang dan berputar di dalam kepalaku yang rasanya jadi sedikit … pusing?"
__ADS_1
"Itu adalah sihir mantra untuk melepas jiwa dari tubuh dan memindahkannya pada tubuh baru, itu sihir yang diinginkan iblis yang akan menguasai tubuhmu," terang Mika dengan wajah dingin.
"Wow … terdengar keren, seperti mantra pencabut nyawa?"
"Ya, bedanya tubuh yang ditinggalkan tidak mati dan bisa digunakan oleh siapa saja!"
"Jika semudah itu memindahkan jiwa, kenapa mereka menginginkan tubuhku? Bukankah di dunia ini di atas langit banyak langit? Banyak tubuh yang lebih istimewa dariku?"
Seperti biasa Pandji terus saja banyak bertanya dengan penasaran, dengan berbagai kemungkinan dalam otak mudanya yang ingkar dengan kondisi tubuhnya.
“Sayangnya tubuhmu adalah satu dari yang terbaik, dan sangat cocok untuk digunakan oleh kaum iblis.”
“Ya ya aku tahu kau ingin mengatakan karena aku lahir di hari sial ini kan?”
“Kau lahir bersama putra mahkota klan mereka, bakat dan kekuatan kalian seperti tertukar … jadi dia merasa berhak untuk mengambil tubuhmu, mungkin seperti itu logikanya! Dia akan membacakan mantra sihir ini untuk mengusir jiwamu pergi ke neraka!"
Pandji hanya mengangguk beberapa kali mendengarkan penjelasan apapun yang berhubungan dengan pemindahan jiwa.
Pantas saja ini dimasukkan dalam sihir terlarang. Bagaimana tidak? Mencabut nyawa manusia semudah bernyanyi balonku ada lima!
"Baiklah, aku mulai paham cara kerjanya. Aku akan bertanya nanti jika ada yang terlewat," ujar Pandji heran. Dia sekarang tidak yakin kalau kedua orang tuanya bisa mendengar pembicaraannya dengan Mika. Pandji sendiri tidak merasakan elemen kehidupan lain selain milik Mika.
"Aku tidak tahu apakah aku akan bisa datang lagi setelah malam ini!"
"Maksudmu? Kau mau kemana memangnya?"
__ADS_1
Penyihir dalam tubuh Mika tersenyum tipis, tidak menjawab pertanyaan Pandji tapi menunjuk ke dalam lembaran yang terbuka otomatis mengikuti keinginannya. "Sihir terlarang berikutnya yang perlu kau pelajari adalah kekuatan pedang darah."
***