
Setelah bertukar serangan lagi beberapa waktu, akhirnya Nergal mengambil jarak aman untuk menghindari tebasan mematikan Damar Jati.
Nergal semakin sulit menutupi rasa terkejut melihat situasi berbahaya di hadapannya. Damar Jati yang dikenalnya dulu tidak sekuat yang ada di depannya.
Wadah yang dipakai Damar lah yang menjadi penyebabnya. Ibarat pusaka yang tepat berada dalam warangkanya.
"Cuih! Aku tidak mungkin lupa padamu, Damar! Kerusakan yang kau timbulkan di dunia iblis membuat namamu melegenda sebagai pemberontak yang harus diburu dan dihabisi!" Nergal melampiaskan amarahnya dengan serangan tangan kosong, berusaha menggapai leher Damar Jati yang bersemayam dalam tubuh Pandji.
"Tidak perlu semarah itu Nergal, kau tidak perlu mengingatkan aku tentang masa lalu. Aku sudah melupakannya! Urusan kita sekarang ada pada anak ini, kau sudah tau kalau anak ini istimewa kan? Aku di sini hanya bertugas membantu mengeluarkan kekuatan aslinya agar pertarungan berimbang," sambung Damar Jati dengan senyum tipis khas Pandji.
“Bagus! Sekarang kau bahkan pandai membuat alasan, tapi tak masalah … sekali mendayung dua pulau kudapatkan! Membunuhmu dan mengambil raga yang kau tempati!"
"Kekuatan fisiknya masih belum maksimal, Nergal! Kau harus lebih bersabar jika ingin menggunakan tubuh ini untuk putra mahkota, kau mesti menunggu kepadatan tulangnya terbentuk sempurna!"
"Persetan dengan ocehanmu, Damar!"
TRANG!!! TRANG!!! TRANG!!!
Gelombang kejut dan udara keras kembali menerbangkan pasir di sekitar pertarungan.
"Ngomong - ngomong apa yang membuatmu berpikir memilih membantunya dari pada membantuku, Damar? Kita berasal dari kegelapan yang sama!” Nergal merendahkan suara dan menjatuhkan sedikit harga dirinya untuk bertanya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa membiarkan kau mengambil alih tubuhnya, itu saja! Aku membutuhkan anak muda ini untuk kepentingan yang kau tidak perlu tau alasannya! Sebab lainnya, aku dulunya juga manusia, Nergal! Sudah kewajiban untuk membantu sesama!” Damar Jati menjawab dengan nada monoton.
Nergal tertawa kesal sambil merapatkan kedua tangan saat menggenggam pedangnya, "Omong kosong suci! Kau tidak bisa mengubah apapun, Damar! Selamanya kau tetap makhluk kegelapan meskipun menempel pada manusia berbudi luhur yang menjanjikan kebebasan untuk tua bangka pembuat pusaka yang sedang membusuk di bawah sana!"
"Masih ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Damar Jati tak acuh.
"Kau sudah disahkan sebagai putra iblis dengan perjanjian darah, kegelapan akan tetap abadi bersamamu … dan hal terakhir yang aku ingat tentang dirimu adalah, kau bukan manusia, tapi iblis dari golongan manusia!"
Damar Jati menyeringai bengis, "Aku janji kau akan mendapatkan kematian yang menyakitkan karena sudah menyiksa beliau, Nergal! Soal kekuatan hitam ini, soal setengah iblis setengah manusia, aku sama sekali tidak menyesalinya … yang pasti, pemilik asli tubuh ini membutuhkan bantuan, dia yang memanggil dan membangkitkan sisi gelapku!"
"Kita pernah bersaudara, Damar!"
"Kau berusaha membunuh saudaramu ini di masa lalu, Nergal!" sahut Damar Jati santai.
"Aku tidak bercinta dengan bangsa iblis, Nergal! Aku masih menyukai wanita cantik dari bangsa manusia waktu itu!"
"Pembohong! Aku tidak menyangka kau memilih menjadi pelayan daripada penguasa, Damar!" Dengan cekatan, Nergal mengambil inisiatif untuk kembali menyerang, mengikis jarak dalam waktu singkat hingga keduanya kembali bertukar jurus beberapa waktu.
"Itu sama sekali bukan urusanmu, Pangeran Nergal!" Damar Jati meladeni serangan Nergal dengan imbang. Ingatannya pada Romo Guru yang bisa menundukkan dirinya dan istri sebagai pusaka terkutuk, membuatnya berjanji akan melayani trah Ganendra hingga lahirnya anak dalam ramalan.
Nergal menghujani Damar Jati dengan bola sihir berwarna kehijauan berisi racun yang bisa melemahkan syaraf sambil sesekali menggerutu, "Kalau saja aku diperbolehkan membunuh anak sial ini pasti aku akan memakai sihir racun merah!"
__ADS_1
Setiap kali satu bola sihir meledak dan menimbulkan asap hijau pekat, Damar melompat mundur lalu menyabetkan pedang hingga gelombang udara memecahkan gunungan racun yang mengejarnya. “Aku terkejut kau masih berhati-hati dan tidak ingin melukai tubuh anak ini, Nergal!"
Nergal melompat ke udara dan mengembangkan kedua sayap lebarnya, melesat cepat ke angkasa dan hilang bersama malam.
“Trik lama?” gumam Damar Jati bersiaga. Kepalanya mendongak, mata iblisnya mengamati langit malam yang seketika menjadi sangat gelap seperti akan hujan.
Tak lama, satu bayangan hitam dengan kekuatan dahsyat menukik tepat di atas Damar Jati berdiri, dan selarik cahaya hijau pekat yang keluar dari pedang Nergal menjadi ujung tombak serangan mematikan tersebut.
Damar Jati mengangkat pedangnya dan beradu kekuatan dengan Nergal, kakinya yang berpijak kokoh, melesak ke dalam tanah saat menahan kekuatan makhluk abadi yang hendak menghancurkannya.
DUAR!!!
Ledakan besar menimbulkan lobang menganga di tanah dengan Damar Jati sebagai titik pusat. Roh pusaka itu menyeringai sambil mengusap darah yang menetes dari sudut bibir Pandji, menghina Nergal yang terkapar beberapa meter di depannya. "Kau sangat mengecewakan, Nergal! Kemampuanmu tidak juga bertambah setelah beberapa abad!"
Nergal menarik nafas berat dan berdiri seketika, kembali mengembangkan sayap dan terbang memutari Damar Jati seraya melancarkan serangan kombinasi antara cakar dan pedang. Sesekali Nergal melempar bola sihir berwarna hijau … dan akhirnya bola racun merah untuk mencari peruntungan.
"Matilah bersama racun sihir merah, Damar!"
Cairan hitam merembes dari moncong Nergal karena luka dalam, meski tidak dihiraukan tapi mempengaruhi Nergal dalam mengambil keputusan, dia tidak sudi diubah jadi abu oleh Damar Jati.
Nergal harus membunuh Pandji sebelum fajar, jadi bola-bola sihir merah dan hitam yang sangat beracun dilemparkan pada Damar Jati dengan kecepatan dan kekuatan penuh.
__ADS_1
***