
Raungan keras Gentala terlalu pendek, dia terlambat menyadari kalau Pandji sudah memisahkan kepala dengan tubuhnya.
Pandji menangkap pedang merahnya, tanpa ampun dia memotong tubuh gentala jadi beberapa bagian dan meninggalkannya saat terurai jadi kabut hitam dan menghilang.
Dengan dua pedangnya Pandji berlari ke arah kerumunan makhluk gaib yang sedang mengepung Mika agar tidak bisa mendekati heksagram.
Satu tebasan menjatuhkan satu korban, dengan sisa tenaganya Pandji berusaha bertarung dengan hati-hati. Mereka memang makhluk kelas rendahan, tapi dalam jumlah banyak juga jadi satu ancaman.
"Megakill …!" teriak Pandji saat pedangnya menebas maroz keempat tanpa jeda.
"Godlike …!" seru Pandji dengan gila. Tujuh monster yang sudah jadi abu membuat Pandji membabi buta mengumpulkan dan mendesak mereka untuk mendekati heksagram buatannya.
Pedang kembar beda elemen di tangan Pandji menghabisi sisa kawanan dengan cara yang berbeda, bau hangus santar dari pedang merah yang membakar musuh. Sementara bau busuk datang menyengat dari cairan hitam yang membeku dan pecah karena dinginnya pedang biru.
Heksagram yang menyala hijau kebiruan perlahan padam setelah melebur habis beberapa maroz yang masuk ke dalam lingkaran.
"Kerja bagus, Damar-Asih!" puji Pandji melepas kedua pedangnya ke udara karena pertarungan telah selesai. Mengembalikan pusaka penganten ke penyimpanan gaibnya.
__ADS_1
Nafas Pandji memburu dan tubuhnya kelelahan, keringat membasahi bajunya. Tampang Pandji tampak letih dengan rambut berantakan.
Sial bagi Mika, justru Pandji yang seperti itu terlihat sangat tampan dan jantan. Gadis cantik yang tak kalah kacau penampilannya itu mendekat dan memeluk Pandji singkat, "Kamu terluka?"
Pandji menggeleng ringan, menatap nanar pada luka terbuka di bahu dan lengan Mika. "Ayo pulang sekarang! Biar Ibunda membersihkan lukamu!"
"Ini tidak terasa, Pandji!" lirih Mika menatap lukanya yang terus mengeluarkan darah. Berusaha untuk tidak mengeluh apalagi mengaduh kesakitan.
"Nonsense!" sahut Pandji tak acuh, dia mengangkat tubuh Mika yang terkulai lemas karena kehilangan banyak darah.
Mika mengulum senyum sebelum kesadarannya menipis dan hilang, dia memang belum sehat dan seharusnya beristirahat.
Keras kepala! Itulah mengapa aku berencana menempatkan wanita di dalam harem kaputren … membawa mereka dalam pertarungan sungguh merepotkan!
Pandji menengadah, memperhatikan bulan redup yang cahayanya meluas hingga batas cakrawala.
Sesuatu yang sangat pekat ada di luar sana, mungkin di angkasa atau di suatu tempat yang tak terlihat oleh mata.
__ADS_1
Tidak ada kegelapan yang lebih pekat yang pernah dirasakan Pandji selama hidupnya daripada yang baru saja terasa.
Menunjukkan kekuatan hitam yang sangat besar, entah itu hanya dari satu makhluk atau dari kawanan yang sedang menyeberang portal masuk ke dimensi manusia.
Proses kemunculan berbagai ragam makhluk aneh ke dunia nyata sudah dimulai. Mungkin beberapa hari lagi adalah malam puncak migrasi.
Sang Pemimpin pasti sudah menentukan kapan semua pasukannya akan menyebrang, lalu dilanjutkan dengan perpindahan besar-besaran seluruh klan iblis ke dunia manusia.
Malam terasa mencekam bagi yang bisa merasakan, bagi Pandji dan bagi keluarganya.
Ancaman besar ada di depan mata, baik itu makhluk buruk rupa dalam bentuk asli atau yang sudah merasuk dalam bentuk manusia.
Pandji mendengus, jiwa mudanya sulit menerima keadaan. Seperti ada sebuah ketidakadilan yang melanda dirinya. Benaknya penuh dengan pertanyaan kenapa harus dia yang lahir dan memikul beban berat semua warga Yogya?
Pemuda itu mulai membayangkan perpindahan jiwanya. Jika sampai tubuh yang tujuh belas tahun menjadi miliknya diambil alih … Pandji akan lahir sebagai orang baru di dunia nyata.
Bukankah aku akan jadi Sang Pemimpin dan bergelar iblis tertampan?
__ADS_1
Pandji menyeringai konyol seraya menghayal andai dia menjadi Raja Iblis ….
***