
Langit benar-benar bersih tanpa awan sedikitpun, bulan purnama bersinar terang. Cahaya indahnya dinikmati Pandji, Mika dan Gia di pendopo depan.
Atika masih menunggu perintah selanjutnya setelah meletakkan minuman dan camilan di atas meja.
"Apa ada lagi yang perlu saya kerjakan untuk Mas Pandji sama Mbak Mika?" tanya abdi dalem muda cantik dengan sopan dan kepala menunduk. "Mungkin Mbak Gia butuh sesuatu untuk dibawakan kemari?"
Pandji tidak menjawab. Mika bergumam pelan, "Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi, Tik. Entah kalau Gia?!"
"Gia juga nggak, tapi mungkin sebentar lagi pingin makan nasi goreng," jawab Gia serius. "Mbak Tika di sini saja temani Gia!"
Atika mengangguk dan duduk tidak jauh dari Gia. Diam seperti patung hidup yang hanya bernafas tanpa melakukan gerakan lain.
Pandji duduk berhadapan dengan Mika yang terus saja melipat wajah.
"Bagaimana jika super blood moon itu tidak pernah ada?" tanya Pandji membuka obrolan.
" ... " Mika mengedikkan bahu. Tidak menjawab atau berusaha menanggapi pertanyaan Pandji meskipun dia ingin membahasnya.
"Aku rasa bisa saja ramalan tentang bulan abang itu meleset. Bagaimana menurutmu?" Pandji mengamati Mika yang duduk tak nyaman di depannya.
"Mungkin," jawab Mika singkat.
__ADS_1
"Kamu masih marah soal sore tadi?" tanya Pandji datar. Dia akhirnya kehilangan mood untuk berbicara.
"Nggak usah dibahas lagi, aku sudah lupa!" jawab Mika ketus seraya melirik Atika.
Pandji merasa aneh, Mika selalu saja tidak suka dia dekat dengan siapa saja yang berjenis kelamin perempuan. Apalagi jika itu cantik dan kelihatan mempesona.
"Baiklah, kalau kamu masih saja nggak mau bicara dan menyimpan marah … lebih baik aku ke kamar. Ada buku yang harus aku baca!" pamit Pandji singkat.
"Jadi kamu mengajakku kemari hanya untuk bertanya soal itu?" tanya Mika kesal. Dia berharap Pandji minta maaf.
"Anggap saja begitu, aku sudah tidak tertarik untuk melanjutkan obrolan. Wajahmu dari tadi sangat tidak ramah, seperti nenek sihir!"
"Pandji!" teriak Mika menghentikan langkah pemuda tanggung yang ngeloyor pergi meninggalkannya. "Kamu mau kemana?"
"Bisakah kita membaca di perpustakaan? Aku ingin melihat apa yang ingin kau baca!" Mika melunak, kalimatnya lembut seperti biasa.
"Hanya buku pelajaran, aku sudah lama tidak belajar! Aku tidak ingin tinggal di sekolah sementara semua temanku lulus dan pergi ke universitas!" kata Pandji seperti orang baru ingat kalau dia adalah pelajar.
"Berhenti membuat alasan konyol, Pandji! Aku tahu kamu menunggu tengah malam untuk membaca buku sihir kuno itu," sahut Mika tak berhenti kesal. Dia berdiri berkacak pinggang di depan pemuda yang jauh lebih tinggi darinya. Kepalanya mendongak dengan ekspresi jengkel yang tidak bisa disembunyikan.
“Jam dua belas di perpustakaan," ujar pandji ringan. Dia butuh Mika untuk membacakan buku yang hanya bisa dibuka nanti tepat tengah malam. Buku yang katanya hanya bisa dibaca oleh perempuan.
__ADS_1
Mika mengulum senyum, "Aku akan kesana lebih awal. Apa ada yang harus aku bawakan untukmu?"
"Aku sudah bilang jangan ambil alih pekerjaan Atika di rumah ini, Mika! Berhentilah menjadi orang lain!" sergah Pandji tak suka.
"Apa salahnya menawarkan kebaikan sama orang? Aku hanya membantu meringankan beban Atika. Bukannya dia harus sudah pergi beristirahat setelah jam sepuluh? Bagaimana jika kamu haus saat sedang membaca?" Mika bersedekap di depan Pandji yang bersiap meninggalkannya.
Pandji tertawa geli, "Akhir-akhir ini aku merasa kamu lebih lucu dari biasanya! Bukan lucu … tapi lebih tepat jika dibilang aneh!"
"Aku penjagamu, wajar jika aku memantau apapun yang kamu kerjakan. Aku harus memastikan kamu selamat sebelum aku, menjaga itu bisa berarti juga … melayani," ucap Mika dingin.
Pandji menaikkan kedua alisnya tinggi, menatap tajam ke mata Mika. "Ini di dalam rumah, banyak abdi dalem keluarga disini! Trus apa yang mau kamu jaga? Yang ada kamu itu memata-mataiku, Mika!" sahut Pandji tak mau kalah.
"Yah bisa dibilang aku sedang belajar memaksimalkan skill eyes agar lebih berguna, tidak ada maksud lain!" tukas Mika membual.
"Berguna yang bagaimana? Kamu mengintip kegiatanku, Mika!" sinis Pandji masih menyoroti mata Mika.
Mika tergelak, lalu mendesis pelan agar suaranya tidak terdengar Atika dan Gia. "Aku lihat kamu yang sering mengintip Atika di dapur kalau pagi, kadang malam juga."
"Aku tidak merasa seperti itu!" elak Pandji membela diri.
"Lalu apa namanya berdiri diam-diam memperhatikan perempuan cantik dari tempat tersembunyi?"
__ADS_1
"Itu bukan mengintip, tapi … mengawasi dari balik bayangan," jawab Pandji mengangkat sedikit bibirnya dan pergi menyelamatkan harga dirinya dari kata-kata Mika yang sama sekali tidak salah.
***