SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 177


__ADS_3

Pandji menyusulkan petir merah Ganendra untuk menghujani empat pangeran dengan badai halilintar yang menyambar dengan kekuatan kegelapan.


Hasilnya, dua pangeran sibuk mengerahkan tenaga dalam untuk memadamkan bara yang melekat di tubuh gosong di beberapa bagian.


Putra Mahkota sekarat, seluruh tubuhnya penuh dengan luka menganga dan luka melepuh karena terbakar. Nafasnya yang terengah-engah hanya bertahan sebentar. Menit berikutnya, kehidupan putra mahkota menghilang bersama hancurnya seluruh raga besarnya menjadi debu.


Satu pangeran yang masih dalam kondisi lebih baik segera melarikan diri dari area pertarungan. Tujuannya hanya satu, istana raja iblis.


Pandji tidak bisa mengejar, dia harus menghabisi dua pangeran yang menghadangnya lebih dulu jika ingin memburu pangeran kelima yang sengaja meloloskan diri meninggalkan dua saudaranya.


Tidak memakan waktu lama, hanya dalam beberapa pertukaran serangan saja, dua pangeran iblis sudah terpotong bagian paling fatal anggota tubuhnya dan menghilang menyusul putra mahkota.


Pandji lega, juga gusar melihat ke arah Mika yang sudah kepayahan dan kehabisan mana. Pandji berlari dengan dua pedang yang terus bergerak membabat pasukan iblis yang menghadangnya.

__ADS_1


Pandji mengeluarkan semua teknik pedang yang dipelajarinya untuk membantai apapun yang ada di depannya. Pandji tidak ingin ada gangguan yang dapat memperlambat gerakannya untuk melindungi Mika dan Mpu Sapta.


Sesampai di dekat Mika, formasi sihir berupa heksagram bertumpuk dengan tujuh simbol berbentuk pusaka sudah dinyalakan paksa oleh seluruh mana sihir yang tersisa milik Mpu Sapta, hujan mulai turun dengan sangat deras, suara angin ribut dan petir menggelegar mengiringi pertarungan Pandji dan Mika yang berada di dekat Mpu Sapta.


Semesta ikut murka dengan carut marut dunia. Cuaca semakin ekstrim karena suhu turun dengan cepat dan gelap abadi semakin pekat tiap menitnya. Namun, heksagram sihir tetap menyala redup keemasan di antara hujan dan hitamnya malam.


"Ayo lakukan sekarang sebelum raja iblis dan pasukannya datang! Kita tidak akan selamat jika itu sampai terjadi, waktu kita pendek untuk melarikan diri dari sini, Cah bagus!" Mpu Sapta berbicara pelan, tubuh tuanya mulai menggigil karena seluruh energi cadangan juga telah habis terpakai.


"Tahan mereka sebentar saja, Mika!" seru Pandji melompat ke dalam heksagram, berdiri tepat di tengah sebagai pusat utama simbol keris penganten lanang Damar Jati berada.


Tanpa menunggu waktu lagi, Pandji bersama Damar Jati membaca mantra pemanggil pusaka. Dua suara pria bersahutan berucap bahasa kawi kuno membuat cuaca semakin memburuk, aura gelap sangat pekat pun melingkupi formasi tempat Pandji berdiri.


Dari atas angkasa yang gelap gulita, lima cahaya seterang bintang melesat sekedipan mata dan jatuh ke dalam heksagram sihir. Tepat memenuhi lima simbol pusaka yang tergambar jelas di sekitar Pandji.

__ADS_1


Tujuh pusaka sihir kini sudah berada dalam satu bintang segi enam yang menyala menyilaukan mata.


“Kita bisa pulang sekarang, Mas pandji!” bisik Damar gelisah.


“Maksudmu dengan cara membuka portal utama?" tanya Pandji pada roh pusakanya dengan nada terkejut. Jantungnya berdegup kencang dan mulai sesak, ototnya menegang karena rotasi mana yang terlalu besar dan tidak stabil dalam tubuhnya.


"Ya, kita semua akan pulang melalui portal utama. Jalan pintas tercepat untuk pergi ke dunia manusia. Aku harus membawa pasukan yang sudah tunduk ke dunia kita, dan membawa mereka lewat jalan lain itu mustahil dilakukan. Kita akan tertangkap raja iblis sebelum keluar dimensi ini."


"Bukankah ini tindakan terlarang, Mpu?"


"Jujur, aku membutuhkan pasukanku untuk mengisi pusaka. Bukankah kau ingin memiliki toko pusaka dan benda mistis terbesar di Nusantara, Cah bagus?" Mpu sapta menjawab tenang pertanyaan Pandji, mengesampingkan maksud Pandji yang sebenarnya.


Pandji ingin terbatuk dan juga menggerutu dalam waktu bersamaan, dia mulai tidak mempercayai Mika atau Damar-Asih yang mungkin membocorkan rencana masa depannya pada Mpu Sapta.

__ADS_1


***


__ADS_2