
Perjodohan yang disepakati untuk remaja seumuran Pandji sebenarnya hanya kalimat sederhana dari kedua orang tua, bahwa Pandji dan Ratna diperbolehkan untuk mengenal satu sama lain sampai mereka mampu memutuskan sendiri langkah mereka kedepannya.
Ratna diberikan hak untuk datang dan bertemu Pandji lebih sering di Yogya mesti tanpa pendampingan orang tua. Begitu juga dengan Pandji yang bebas mengunjungi Ratna di Solo meski tetap dalam pengawasan kedua orang tua.
Tidak lebih dari itu! Meskipun efek yang ditimbulkan lumayan besar bagi aliansi. Beberapa petinggi menyayangkan hubungan mereka yang diumumkan sederhana oleh ayahanda Pandji pada rapat aliansi yang membahas evaluasi kejadian di Jombang.
Hal itu terjadi karena pihak perempuan hanya bangsawan biasa, bangsawan yang tidak pernah berhubungan dengan aliansi apalagi memiliki dedikasi tinggi dalam perguruan bela diri. Pembahasan tidak penting yang membuat Pandji kehilangan selera untuk bertemu gadis-gadis yang ditawarkan padanya.
Hingga akhirnya, beberapa hari berikutnya Pandji memutuskan segera menyelesaikan urusan Damar Jati daripada hanya menikmati petaka karena harus membawa Gia atau Mika saat menikmati waktu bersama Ratna.
Tengah malam, Pandji keluar kamarnya dengan cara mengendap-endap setelah pamit pada ibundanya, dia tidak berniat mengajak Mika dalam petualangannya kali ini. Selain sangat berbahaya, Pandji merasa cukup dengan Damar saja untuk menyeberang dimensi.
Di halaman belakang rumah tempat biasanya Pandji berlatih, barion hitamnya sudah menunggu dengan tidak sabar. Makhluk besar serupa macan kumbang bertanduk itu langsung melompat ke depan Pandji dan menggosokkan kepalanya pada tangan yang baru saja terulur menyambutnya.
"Wow … lama tak jumpa kawan, sepertinya kau sangat merindukanku!"
__ADS_1
"Groar!" Auman barion hitamnya membuat Pandji tertawa. Bukan hanya rindu pada tuannya, tapi tunggangannya marah karena diabaikan. Pandji lebih banyak bepergian menggunakan mobil daripada berada di punggungnya.
"Oke kawan, beberapa waktu ke depan kita memiliki waktu lebih banyak untuk bersama. Aku akan memberikan kehormatan padamu untuk mengantarku kemana-mana di sana. Apa kau suka mendengarnya?"
Seperti mengerti ucapan Pandji, barion hitamnya mendongak meminta sedikit garukan di leher sebelum merendahkan punggungnya agar Pandji bisa naik dengan mudah.
"Kamu tidak berniat menghilang seperti pencuri malam kan, adik kecil?" Satu suara merdu yang sedang kesal terdengar oleh telinga Pandji. Mika langsung mendengus mendapati Pandji menatapnya dengan mata tidak setuju.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Pandji pura-pura terkejut. Gadis cantik yang berjalan ke arahnya bahkan sudah seperti seorang Srikandi yang siap bertarung. Dua belatinya mencolok terselip di pinggang. Pandji menelan ludah setelah mengamati penampilan perempuan yang seharusnya menjadi kakak untuknya tersebut. Pikirannya sedikit rumit dan sesat.
Kau memang cantik dan mempesona saat berpakaian seperti jagoan wanita, Mika!
"Bukankah seharusnya kamu mengajakku, Mas Pandji?" tanya Mika dengan nada sedikit manja, seperti istri yang tak rela saat akan ditinggal kerja suaminya. Benar-benar di luar kebiasaan Mika yang ketus dan sok galak setiap harinya.
Pandji benci mendengar nada kalimat seperti itu keluar dari mulut Mika. Hal itu membuat sarafnya melemah dan harus mengambil keputusan mengalah dengan menyetujui keinginan perempuan keras kepala yang duduk santai di belakangnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu berpegangan, aku tidak bertanggung jawab kalau sampai kamu terjatuh dari atas barion ini," ucap Pandji pelan. Dia menyentak tunggangannya setelah merasakan Mika memeluknya erat dari belakang.
"Siap, Bos!" Mika tersenyum menang seraya mengetatkan lingkaran tangannya pada pemuda yang sudah membuatnya jengkel beberapa hari terakhir, dia cukup menderita melihat Pandji bersama Ratna menikmati hari bahagia sesaat setelah acara perjodohan.
Ada saatnya Mika juga ingin menghabiskan waktu bersama Pandji tanpa ada Ratna ataupun teman-teman Pandji yang lain seperti sekarang. Meski terkesan seperti abg dan kurang pantas untuk wanita seumurannya, tapi Mika benar-benar tidak peduli.
Pandji bertanya dalam pikirannya saat Damar Jati menyapa, "Kita pergi ke arah mana, Damar?"
"Utara, Mas Pandji! Kita akan lewat jalan gelap yang biasa dipakai Mpu Sapta saat pergi ke hutan hitam." Damar Jati terdengar lebih tegang dari biasanya saat membicarakan mertuanya.
"Bagaimana situasi jalan tersebut?" tanya Pandji ingin tau. Setidaknya dia bisa membuat persiapan dan lebih waspada saat melewatinya nanti.
"Saya rasa masih aman, jalan tersebut tidak pernah menjadi pilihan saat iblis ingin pergi ke dunia manusia." Damar Jati meyakinkan diri sendiri bahwa pilihan yang diambilnya tidak salah.
"Baiklah, aku percaya padamu, Damar! Kita kesana sekarang." Pandji memilih untuk mempercayai intuisi roh pusakanya daripada membuka portal sendiri untuk menembus dimensi. Dia mempercepat laju barion menuju arah gunung yang sedang mengeluarkan asap tipis dari kejauhan.
__ADS_1
"Sendiko dawuh, Mas Pandji!"
***