SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 132


__ADS_3

Melihat pemandangan tidak biasa di depan mereka, semua mata teman-teman Pandji ikut menajam dan memperhatikan dengan lebih teliti.


Selanjutnya, satu tangan Mika memegangi perut dan satu tangannya menutup mulut, "Hoek … hoek!"


Aswanta memijat dua alisnya, tidak meneruskan pandangan matanya. Sementara Tirta menggaruk kepala dengan ekspresi bodoh, "What the hell they are doing, Mika?"


Mahesa mengusap pipinya tenang, "Aku rasa ada yang salah dengan tiga orang itu!"


Pandji keluar dari mobil diikuti teman-temannya. Mereka mendatangi ketiga orang yang sedang jongkok mengelilingi sesuatu dan sibuk berebut santapan.


"Apakah rasanya enak?" Pandji bertanya dengan sinis dan tidak bersahabat.


Tiga pria dewasa berbadan besar itu menghentikan kegiatan makan mereka. Mereka menatap Pandji dengan mata garang. Seringai aneh menyembul di setiap mulut yang berwarna merah. Tiga pria tersebut terlihat kompak saat mengusap cairan pekat yang belepotan di wajah dan leher.


"Ya, ini sangat lezat dan bergizi!" jawab salah satu dari tiga pria yang langsung berdiri dalam sekejap, bersiap memburu mangsa lagi.


"Apa kau juga ingin memakanku? Mungkin salah satu dari temanku? Kami masih muda dan empuk dibandingkan kakek itu!" kata Pandji menawarkan diri.


Kakek yang disebut Pandji sudah tidak berbentuk utuh manusia, tubuhnya sudah kehilangan banyak daging dan beberapa anggota badannya terlepas. Hanya kepala dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar yang bisa dikenali.


“Apa maksudmu, Sobat? Apa kau sengaja mengajakku kemari untuk diumpankan pada kanibal? Aku bahkan belum menikah,” gerutu Aswanta jengkel.


“Aku terlalu kurus, tidak berdaging dan otakku sedikit miring. Aku paling tidak enak rasanya diantara yang lain!” celetuk Tirta serius.


Mika masih menutup mulutnya menahan mual. Seumur hidup baru kali ini dia melihat manusia memakan manusia. “Hoek …!”


“Biarkan aku yang menghabisi mereka," seru Mahesa marah. Perisai kuningnya menyala seketika saat dia melangkahkan kaki maju dan berdiri paling depan di antara Pandji dan teman-temannya. Tombaknya menyilang di depan dada dan sikapnya siaga sebagai ksatria.

__ADS_1


Namun, belum sempat Mahesa bergerak, satu sosok pria yang masih menyeringai jatuh terkapar dengan logo heksagram di dahinya. Mika melanjutkan aksinya dengan menyapu kaki pria berikutnya yang tidak siap dan kembali menghantamkan gagang belatinya tepat di atas hidung pria tersebut. Semua terjadi hanya dalam hitungan detik.


Asap hitam keluar dari mulut dan hidung mereka yang sudah tumbang, mengumpul di udara dan membentuk dua sosok tinggi besar.


Mahesa yang sadar dengan situasi langsung menghunus tombak pada kepala yang baru menyembulkan telinga lebar. Diikuti Tirta dengan ayunan pedang ombaknya yang masih tampak ragu. Membabat dua sosok hitam yang masih berupa bayangan hitam.


SRET!!!


Dua sosok iblis yang belum sempat mewujud sempurna kembali hilang dalam udara dingin, meninggalkan dua jasad sehat yang sedang coba disadarkan Aswanta dan Mika.


Pandji menangkap pria terakhir tanpa memukul, dia hanya membanting keras ke tanah dan menjepit leher pria itu dengan kakinya. "Ngomong-ngomong … aku belum pernah menyiksa iblis!"


Pria di bawah kaki Pandji tercekik dan hampir kehilangan nafas, "Aku tidak akan mengampunimu manusia!"


"Tidak ada yang memohon ampun padamu! Pertama kau jelas bukan Tuhan, kedua … bagaimana kau bisa lupa posisi? Bukan aku yang berada di bawah kakimu dan minta diselamatkan!" kata Pandji sambil menguap lebar.


"Tidak ada gunanya kau mematahkan leher inang yang kau rasuki, aku akan tetap membiarkannya hidup! Dimana Nergal?" Pandji mengalirkan tenaga dalam untuk menghisap mana pria itu perlahan.


Sambil terbatuk tercekik, pria itu justru tertawa lantang. "Kami mengabdi pada yang mulia sampai mati."


"Baiklah jika kau lebih suka mati, aku akan mengirimmu ke neraka dengan menyakitkan!" Pandji mulai bermain dengan mana sihirnya. Menyiksa iblis di dalam tubuh pria yang masih tergolek tak berdaya dengan elemen es dan api secara bergantian.


"Arrggg ampun!"


"Dimana Nergal dan pasukannya berada sekarang?" tanya Pandji sambil menghisap kembali mana milik pasukan Nergal yang menyatu dengan tubuh manusianya.


"Ampun manusia! Lepaskan aku sekarang, aku akan memberitahumu dimana Nergal berada!" pekik tersiksa terdengar mengiba.

__ADS_1


Lalu, suara lolongan ganjil memekakkan telinga Panji dan timnya, bukan suara manusia … tapi lebih mirip lengkingan aneh yang meremangkan bulu roma.


Pandji terkesiap, udara dingin menghempas dengan sangat keras di depannya, menerbangkan rambutnya dan membuatnya tegak membeku.


Dan hanya dalam sekejap mata, saat Pandji bisa menguasai dirinya … iblis di dalam tubuh manusia yang berada di kakinya, keluar dari mulut sudah dalam bentuk debu tak berjiwa.


“Pandji, apa yang terjadi barusan?” seru Mika. “Apa itu Nergal?”


Pandji membaca aura di sekitarnya yang memudar dengan cepat, apa yang dicarinya sudah pergi. “Entahlah … siapapun dia, sebaiknya kita waspada!”


“Kekuatannya sungguh menakutkan!" keluh Mika dengan wajah ngeri.


"Nergal dan pasukannya bukan hanya menggunakan tubuh manusia, tapi mereka juga memanen yang tidak berguna sebagai santapan. Banyaknya hal berbau manusia lah yang membuat aura mereka tidak terbaca." Pandji menarik kesimpulan yang diyakininya.


Mika mengangguk setuju, "Mereka berusaha hidup normal layaknya manusia biasa. Lalu, apa tindakan kita?"


"Kita tidak mungkin membiarkan mereka memburu manusia tidak bersalah seperti binatang lalu memakannya hidup-hidup. Kabari ayahanda untuk mengirim semua aliansi yang sudah terbentuk ke sini, kita bergerak secepat mungkin sebelum semua jadi terlambat!" perintah Pandji mutlak.


Mika mengangguk setuju, “Kita akan menerobos array pelindung Nergal dan masuk duluan?”


"Aku akan memasang barrier sihir dan membuat heksagram besar sebagai benteng. Kita perlu tanah lapang," ujar Pandji singkat.


Mika mengedikkan kepala ke arah lapangan sepak bola yang berada tepat di sebelah sawah. "Apa itu memadai?"


Pandji menimbang sebentar, menatap dinding tak kasat yang hanya berjarak lima puluh meter di hadapannya lalu mengangguk samar. "Aku akan mencobanya!"


***

__ADS_1


__ADS_2