SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 176


__ADS_3

Putra Mahkota bergerak gesit, maju mendekati Pandji dengan satu keyakinan, menang. Dua telapak tangannya mengembang dan seluruh cakar panjangnya mencuat membentuk sepuluh belati berwarna hitam.


Selanjutnya serangan tangan kosong mengandalkan kuku sebagai senjata dilancarkan putra mahkota dengan beringas. Putra bungsu raja itu jelas terlihat konyol bagi tiga pangeran lain, karena pilihan senjata putra mahkota menghadapi Pandji dianggap sangat tidak bijak.


Pedang Pandji terlalu panjang dan berbahaya, sementara gerakan putra mahkota masih kurang cepat. Tapi apa mau dikata, sudah menjadi rahasia umum di kalangan kerajaan iblis kalau putra mahkota tidak begitu mahir menggunakan senjata tambahan seperti pedang dan sejenisnya.


Putra mahkota lebih percaya diri dengan mengandalkan dua tangan untuk mencabik lawan. Pandji menyeringai heran, tapi dia tidak peduli dengan keputusan putra mahkota untuk menghadapinya dengan tangan kosong.


Dalam satu tarikan nafas, Pandji juga langsung mempersempit jarak dan mengayunkan dua pedangnya untuk menyerang lebih dulu. "Kau berniat membunuhku dengan mengandalkan sepuluh cakar tak berguna itu, pangeran? selain tampak lucu ternyata kau cukup bodoh dibandingkan yang lain!"


"Sepuluh cakar merobek hati," teriak putra mahkota garang menyebutkan jurusnya. Dia membuat gerakan menerkam dengan kedua tangan difokuskan mengarah ke jantung Pandji. "Kau akan sakit hati karena sudah menghinaku, manusia durjana!"


Satu sabetan dihindari Pandji dengan mudah, satu sabetan berikutnya Pandji memapras dengan arah pedang melintang di depan dada.

__ADS_1


Tangan yang sudah terulur untuk mencabik jantung tidak bisa ditarik begitu saja, butuh sepersekian detik untuk mengubah arah serangan. Hal itu membuat pedang Pandji berhasil memotong lima cakar, berikut jari-jari putra mahkota.


"Auuuu!" Raungan putra mahkota spontan menarik perhatian tiga pangeran lain dan juga seluruh pasukan iblis di medan laga.


Seperti sebuah perintah tegas, seluruh makhluk kegelapan yang ada di lokasi pertempuran ikut melolong dan bergerak lebih cepat. Bertarung mati-matian demi mempertahankan kehidupan putra mahkota.


Kenaikan mana sihir meruap di seluruh penjuru, menekan aura petarung milik Pandji, Mika dan semua pasukan yang tunduk terhadap mantra sihir Mpu Sapta.


Pandji bergidik, bukan hal mudah menghadapi kegilaan iblis di dunia mereka, meskipun dia sudah menyatukan kekuatannya dengan Damar Jati. Pertarungan semakin tidak menguntungkan dan tidak terkendali.


"Damar, apa yang sedang dilakukan Mpu Sapta? Mengapa dia malah menggambar di atas tanah daripada membantu Mika menghadapi pasukan iblis yang menggila di sana?" Pandji melirik ke arah Mpu Sapta dan Mika, juga barion hitamnya yang berada di tengah kerumunan pasukan iblis di sela-sela pertarungannya melawan empat pangeran kegelapan.


"Ehm … anu, mertua saya sedang membuat formasi sihir!" jawab Damar Jati hati-hati.

__ADS_1


Pandji sekali lagi melirik ke arah Mpu Sapta untuk meyakinkan jalan pikirannya, "Jangan bilang yang digambar oleh Mpu Sapta adalah bintang daud bertumpuk seperti yang ada di kitab sihir kuno milik Welas, Damar!"


"Sayangnya tebakan Mas Pandji benar! Beliau memang sedang mempersiapkan heksagram sihir terbesar sepanjang sejarah saya hidup. Sepertinya beliau ingin mengaktifkan formasi dengan kekuatan Mas Pandji!" Damar menjawab apa adanya karena Pandji sudah tau apa yang sedang dilakukan mertuanya.


"Untuk memanggil lima pusaka lain yang konon tidak diketahui rimbanya?!" tanya Pandji tidak percaya. Dia tidak perlu jawaban dari Damar, bagaimanapun dia bisa sedikit membaca pikiran orang tua yang sedang berkonsentrasi menggores tanah dengan tangannya.


Damar memang tidak menjawab, dia memfokuskan diri membentuk kabut kegelapan yang sangat tebal di bawah angkasa. Seluruh mana sihirnya dipompa untuk memanggil kekuatan kegelapan agar bisa masuk ke dalam pedang sihir.


Pilar hitam terbentuk antara langit dan pedang Pandji yang sedang menghunus ke atas. Dan dalam satu tebasan lebar, gelombang kejut bertekanan tinggi menghempas dari ujung pedang menuju empat pangeran yang sedang merapal sihir bersama.


BLAR!!! BLAR!!!


Dua kegelapan beradu dan ledakan dahsyat beberapa kali tercipta, menggetarkan bumi tempat tinggal para iblis. Kastil penjara berderak seperti hendak roboh dan debu kerikil bertebaran di udara terbuka.

__ADS_1


***


__ADS_2