SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 162


__ADS_3

Damar Jati melempar koin emas pada sang kusir, lalu menyebut satu tempat di kota iblis yang menjadi tujuan mereka. Pandji dan Mika baru saja meletakkan bokong ketika pedati tersebut melesat secepat angin, membelah jalanan yang ternyata sangat ramai jika dilihat dengan mata tak biasa.


"Ini kendaraan khusus kalangan elit dan bangsawan iblis, Mas Pandji!" tutur Damar Jati dengan seringai miring. Jelas roh pusaka Pandji tidak ingin mengecewakan tuannya yang berasal dari trah bangsawan juga di dunia manusia saat menjelajahi dunia kegelapan.


"Aku merasa seperti pengantin wanita beberapa abad lalu yang diarak dengan kereta kencana. Tidak kusangka ada kendaraan mewah disini meskipun bentuknya begini," ujar Mika mengagumi.


Pandji setuju dengan Mika, dia menyeringai aneh sebelum menimpali, "Yang membuat aku takjub bukan kereta kudanya, tapi ternyata kau cukup kaya, Damar! Kau bahkan membayar perjalanan ini dengan koin emas, jika itu diubah dalam bentuk rupiah … jika kau memiliki beberapa koin saja, kau bisa membeli apapun di dunia manusia!"


"Saya menyimpan koin karena merencanakan perjalanan ini dari beberapa abad lalu, saya menyimpan semuanya di hutan hitam sebagai persiapan kalau mungkin kembali ke dunia ini lagi. Beberapa pemburu dan bangsawan iblis suka disuap dengan koin emas." Damar Jati menjawab rasa penasaran Pandji sedikit demi sedikit.


"Dan ternyata, saat saya menikahi Asih dan mertua saya dibawa ke dunia iblis … saya rasa pas sekali waktunya untuk menggunakan kekayaan saya sekarang!" Damar menyambung kalimatnya dengan menertawakan keberuntungan yang mungkin tidak sengaja terjadi.


"Dari mana kau dapat semua itu, Damar? Apa menjadi putra angkat iblis menjadikanmu kaya mendadak?" tanya Pandji usil sekaligus semakin penasaran dengan masa lalu roh pusakanya.

__ADS_1


"Selain mendapat uang saku dari raja, saya mendapatkan pembayaran saat selesai melakukan misi yang diberikan pihak istana. Semakin sulit dan berbahaya sebuah misi, semakin banyak emas yang akan didapatkan. Selain itu … saya juga dapat koin emas dari para selir, putri raja dan iblis wanita yang tergila-gila pada saya!" Damar Jati menjawab santai.


Pandji terbatuk-batuk tidak senang dengan tawa jengah, sementara Mika menatap Damar Jati dengan ekspresi kesal, seperti menatap playboy insaf tapi masih merasa bangga dengan masa lalunya. Matanya sengit saat melirik ke arah Pandji yang justru tersenyum lebar padanya.


Ternyata, hanya menghabiskan beberapa obrolan ringan, bahkan tidak lebih dari waktu minum teh Pandji yang biasanya hanya berlangsung sepuluh menit, kereta yang membawa tiga penumpang itu berhenti di tengah kota. Mereka turun seperti wisatawan yang sudah pernah berkunjung dan tidak merasa asing dengan keadaan.


Damar mendadak mengepalkan tangan erat saat turun dari pedati, matanya mengedar sekeliling ke tempat dulu dia pernah tinggal. Kota yang pernah menjadi pusat pertempuran karena raja iblis menurunkan seribu ksatria dan pemburu untuk membunuhnya.


Pelariannya yang tidak begitu mulus dan menimbulkan banyak luka membuat Damar kembali terbakar emosi saat mengingat semua. Pria setengah iblis itu mungkin akan sulit meredam keinginannya untuk membantai dan membalas dendam jika ada kesempatan.


"Sendiko, Mas Pandji. Tangan saya hanya sedikit gatal karena kenangan masa lalu." Damar melihat ke arah tertentu, lalu mengajak Pandji dan Mika pergi ke tempat yang ditunjuknya. Kastil kuno yang tampak angker dan penuh misteri dari depan.


“Apa itu penjara dunia bawah, Damar?"

__ADS_1


"Itu penginapan, Mas Pandji. Kita akan menunggu sambil istirahat di sana. Untuk membuka gerbang kegelapan tempat Mpu Sapta berada, paling tepat pada saat pergantian penjaga esok hari. Karena kita tidak mungkin mengelakkan pertarungan nantinya." Damar Jati menjawab sembari mengulum senyum.


"Jadi kapan waktunya?" tanya Pandji mengejar penjelasan pasti.


"Besok adalah hari perayaan pernikahan raja iblis dan sang ratu, semua ksatria akan lebih banyak dikerahkan untuk berjaga di istana. Kita akan bergerak di malam saat acara puncak pesta."


Pandji mengangguk, menoleh ke arah Mika sekilas agar mengikuti langkah Damar Jati bersamanya.


Dengan rasa penasaran tinggi, Pandji masih berusaha melontarkan pertanyaan konyol. "Darimana kamu tau kalau besok ada perayaan di istana? Kita bahkan belum berbicara dengan siapapun di tempat ini."


Damar terlihat lelah, menjawab pertanyaan Pandji seperti takut didengar oleh istrinya. "Sebenarnya saya sedikit mengobrol saat bertemu dengan nona siluman di hutan hitam, tapi sudahlah … toh dia sudah mati!"


Pandji dan Mika membuka mulut bersamaan, hanya satu kata seperti desah yang keluar. "Oh pantesan…."

__ADS_1


***


__ADS_2