
Setetes darah yang mengalir di ujung jari tangan kiri Pandji, diusapkan pada bilah pedang hitam pendar birunya hingga sampai ke ujung. Damar menyala terang dalam genggaman pemuda yang masih memejamkan mata dan merapal mantra sihir dari kitab kuno yang dipelajarinya beberapa waktu lalu.
Malam sontak mendapatkan cahaya biru angker sesaat dan udara yang semula dingin menjadi jauh lebih dingin hingga suara gemeretak gigi terdengar jelas dari pasukan aliansi yang berada dalam heksagram.
Damar Jati mewujud di depan Pandji dengan wajah kejam serupa iblis, matanya menghitam sempurna seperti dua lorong gelap di wajah tampannya. "Saya datang memenuhi panggilan Anda, Denmas Genendra!"
"Apa maksudmu, Damar?" Pandji bergidik mendengar suara berat Damar Jati yang tidak seperti biasanya. Lebih mencengangkan lagi bahwa roh pusaka yang dikenalnya sekarang memiliki aura luar biasa hitam seperti makhluk dari alam kegelapan.
"Saya bangkit karena darah anda, keturunan terbaik ksatria Ganendra yang lahir pada hari tergelap dalam masa dunia manusia." Damar Jati menjura dalam sebelum menghilang kembali masuk ke dalam pedang.
"Kau! Apa yang akan kau lakukan, Damar?" Pandji membuka mata memperhatikan pedang yang ada dalam genggamannya berubah warna menjadi sekelam malam. Cahaya biru yang biasanya ada pada bilahnya tertelan oleh aura gelap yang sangat pekat.
"Izinkan saya melayani anda!" Damar Jati hanya terdengar sesaat di pikiran Pandji sebelum pemuda itu mulai menyadari kalau pedang di tangannya mengalirkan kekuatan sangat dahsyat melalui genggamannya.
Pandji mengumpat dalam hati pada wanita penyihir pemilik kitab kuno yang tidak menerangkan secara lengkap sihir hitam yang baru saja dirapalnya. Bahwa darah Pandji digunakan untuk membangkitkan kekuatan gelap pedangnya, kekuatan sejati Damar Jati yang akan menyatu dengan tubuhnya. Sisi lain Damar Jati sebagai makhluk kegelapan yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Pandji.
Urat-urat di tangan Pandji mulai menghitam seiring masuknya iblis Damar Jati ke dalam tubuhnya. Aura berwarna hitam pekat perlahan merembes dari tubuh Pandji tanpa bisa dibendung, dan saat kedua mata Pandji berubah hitam secara keseluruhan … Pandji sudah kehilangan kesadaran dan berganti menjadi Damar Jati.
__ADS_1
Roh pusaka yang berada dalam tubuh Pandji mulai menggerakkan leher ke kiri dan ke kanan. Menyabetkan pedang hitamnya beberapa kali dan juga melompat-lompat kecil seperti orang sedang olahraga pemanasan. Membiasakan diri dengan tubuh Pandji yang mulai menyatu dengannya.
Damar jati berdehem beberapa kali untuk mencoba suara Pandji yang masih terdengar seperti pemuda belasan. Satu tangan yang tidak memegang pedang mengusap leher dan memastikan dia bisa berbicara. "Ehm … ehm, tes … tes!"
Selanjutnya Damar Jati mengaliri pedangnya dengan mana dari alam kegelapan, membuat pedang tersebut menderu menggidikkan. Damar Jati memandang sinis ke arah Nergal dan tiba-tiba mengayunkan pedangnya ke arah pangeran iblis tersebut.
Seketika pedang di tangan Damar melepaskan energi hitam pekat yang bergerak secepat petir menyambar.
Nergal yang menyadari perubahan aura di sekitarnya tercekat, dia mengenali energi kegelapan yang sedang mendatanginya. Seluruh tubuh Nergal mengirimkan sinyal bahaya hingga kepalanya tidak mampu lagi mengingat siapa pemilik aura yang mirip dengan aura miliknya.
BLAR!!!
Energi pedang yang melewati Nergal menghantam sebagian pasukan iblis yang berada di sekitarnya.
Nergal menghunus pedangnya yang berwarna hijau pekat dan menahan serangan susulan Damar Jati yang mengayun cepat padanya.
Gelombang kejut yang dihasilkan dari pertemuan dua senjata membuat badai angin di sekitar dua orang yang bertarung sengit tersebut. Semua mata menyempatkan waktu sekilas untuk melirik pertarungan yang menjadi penyebab udara di area penuh dengan tekanan mana kegelapan.
__ADS_1
"Kau! Makhluk kegelapan sialan! Apa yang sedang kau lakukan, Damar?" Nergal mengumpat saat menyadari mata Pandji sepenuhnya berwarna hitam dan aura yang keluar dari tubuh pemuda itu mulai dikenalinya.
"Seperti yang kau lihat Nergal, aku hanya melakukan tugasku!" Damar menjawab dengan nada santai.
Nergal mendengus penuh kebencian, "Rupanya aku tidak salah! Jadi kau menyembunyikan aura gelapmu dengan menjadi roh pusaka yang baik budi di dunia manusia, Damar?! Aku hampir saja tertipu olehmu!" Nergal melanjutkan dengan umpatan menghina, "Kau sungguh iblis penghianat paling menjijikkan!"
"Aku tersanjung kau masih mengenalku setelah sekian abad berlalu, Nergal! Dan disinilah aku berada selama ini, dan karena kau sudah tau keberadaanku … aku tidak bisa membiarkan kau bicara soal ini pada yang lain! Aku harus membungkam moncongmu selamanya!" Damar Jati menyunggingkan senyum menawan namun penuh dengan janji kematian.
Nergal menerjang dengan tebasan besar yang diimbangi Damar Jati dengan gerakan balasan yang membahayakan. "Kau berani mengancamku, Damar?"
"Aku tidak akan hanya mengancam, tapi lebih dari sekedar itu!" Damar Jati menjawab dingin dengan ayunan pedang yang semakin cepat.
***
...Have nice Sunday!...
...Cium jauh - Al...
__ADS_1