SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 73


__ADS_3

Ratna menyingkirkan tirai, membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Membiarkan cahaya redup rembulan masuk ke dalam ruangan, bayangan panjang tubuhnya yang berdiri di dekat jendela membentuk garis besar di lantai hingga dinding.


Hatinya resah, entah mengapa pikirannya tidak bisa dikendalikan. Sesuatu sedang terjadi di sana, tapi dia tidak memahami. Perasaan diawasi oleh mata tak terlihat membuat Ratna nekat mencari dalam gelap luar kamarnya.


Angin berhembus luar biasa dingin, jangkrik penghuni taman bunga yang biasanya terdengar dari balkon kamar Ratna di lantai dua seperti dibungkam paksa. Malam terlalu sunyi, deru kendaraan yang sesekali lewat depan rumah juga menghilang ditelan malam.


Ratna memutari balkon kecil di depan kamar, mencari mata yang mengawasi dari kegelapan. Hatinya berdesir, suara tawa perempuan lembut menyapa indera pendengarannya. Tawa yang sangat ganjil.


Tangan yang mulai kebas karena dingin dirapatkan Ratna, saling mengusap untuk menciptakan kehangatan. Setelah itu kedua telapaknya ditempelkan di leher hingga tengkuknya yang sedang merinding hebat.


Tiba-tiba satu bayangan hitam menghampiri, berdiri dalam jarak dekat di depannya. Ratna tersudut bersandar dinding saat tangan putih di depannya mencekik lehernya dengan kuat.


Kedua tangan Ratna menggapai tempat kosong, mencoba mencakar wajah perempuan cantik yang sedang tersenyum mengejek padanya.


Udara serasa disedot paksa keluar paru-paru, tubuh Ratna terkulai lemas. Mata bundar indahnya membelalak menatap atas, siap melihat kemana arah perginya jiwa yang nyaris terlepas itu.


Namun, tangan yang mencekik kuat mendadak mengendur … berubah menjadi gumpalan kabut hitam dan tertarik masuk ke dalam tubuh Ratna yang menghirup udara dengan rakus untuk memenuhi paru-parunya yang kosong.


Sinar mata Ratna berubah menjadi liar seperti binatang malam, jiwanya yang lemah terdesak dan terinjak oleh jiwa lain yang menempati tubuhnya.

__ADS_1


Bagaimanapun Ratna berusaha sadar dan mengusir makhluk lain yang menempati tubuhnya, dia tetap tertindas dan tidak punya kemampuan bangkit.


Satu hal yang tidak hilang dari ingatan Ratna yang mulai memudar adalah nama seseorang, nama pemuda umur belasan yang menjadi cinta pertamanya. Pandji Satria Abisatya.


"Pandji …," desis Ratna sesaat sebelum kehilangan dirinya.


Setelah itu Ratna jadi manusia tak berdaya, manusia yang tidak bisa mengendalikan jasadnya. Dia persis dengan boneka hidup yang menjalani kehidupan menuruti kehendak jiwa lain yang ada dalam tubuhnya.


Pandji terhenyak, telinganya berdengung keras seperti kemasukan banyak air. Wajah Ratna yang sedang ketakutan melintas di pelupuk matanya.


Aswanta menyapukan tendangan ke arah kaki, menyebabkan Pandji terpelanting dan berdebam nyaris mencium lapangan futsal. Konsentrasinya bubar karena sesuatu mengganggu pikirannya dengan tiba-tiba.


"Kita sudahi latihan sekarang, aku ada keperluan penting!" seru Pandji seraya menepuk baju dan celananya. Menghilangkan debu yang melekat dengan tergesa dan menghampiri Atika yang datang membawa dua gelas teh herbal hangat.


"Antarkan Aswanta ke kamar tamu depan ya Tik, aku buru-buru!"


Atika mengangguk sopan dan menunjuk ke dalam rumah dengan ibu jarinya, "Silahkan, saya antar Mas Aswanta ke kamar sekarang!"


Aswanta tidak langsung mengikuti Atika, melainkan mengawasi Pandji yang menjauhinya dan pergi ke sudut lapangan tempat mereka baru saja latihan.

__ADS_1


Hembusan angin meniup rambut Aswanta, dia memicingkan mata berusaha melihat apa yang dikerjakan sahabatnya.


Satu makhluk hitam besar mengaum seperti harimau, tanduknya yang terlihat aneh membuat Aswanta bergidik penasaran.


“Pandji …!” teriak Aswanta, kakinya berlari cepat mengikis jarak. Tenaga dalamnya dipompa keluar untuk menghantam hewan gaib yang duduk dalam posisi menerkam di depan Pandji.


Pandji melompat cepat ke arah punggung barion yang menggeram senang karena dipanggil tuannya, "Kau merindukanku, Blacky?"


Aswanta ternganga, mulutnya yang terbuka serasa sulit untuk mengatup. Sumpah serapahnya keluar karena dia salah menduga. "Jerk!"


Pandji menyeringai, "Istirahatlah … kita latihan lagi besok!"


"Jika kau memang temanku, harusnya kau menawari untuk ikut kan?" tanya Aswanta sarkas.


"Mungkin lain kali," jawab Pandji tak acuh.


Aswanta memaki tak terima melihat Pandji menghilang di depannya bersama macan hitam aneh dalam satu kali lompatan.


Pure Jerk!

__ADS_1


***


__ADS_2