
Aswanta menggeser duduknya dekat Pandji dan berbisik pelan, "Apa aku boleh ikut berpendapat di depan Ayahandamu, Sobat?"
Pandji mengangguk ringan, menyetujui keinginan sahabatnya. Berbicara dengan Ayahandanya bukanlah hal yang dilarang.
Meskipun keluarga Pandji penuh tata krama tapi semua anak bisa mengungkapkan pendapat dengan bebas.
"Mungkin jika saya diperbolehkan bergerak untuk mengumpulkan orang … maksudnya menyebar undangan kepada kesatrian yang ikut dalam turnamen tahunan untuk membantu mengatasi ancaman ini, maksudnya jika mereka juga ikut turun tangan … kita semua bisa selamat," tutur Aswanta dengan kalimat tak teratur karena menahan cemas.
Ayahanda Pandji tersenyum bijak, "Putra Ganendra sudah mengirimkan undangan untuk bergabung, tapi belum ada yang memberikan jawaban untuk mengirimkan bantuan. Sepertinya mereka tidak mempercayai ancaman yang tidak bisa dilihat mata itu."
Aswanta mengangguk kecewa dan menelan ludahnya kasar, "Saya akan mengajak beberapa teman dekat yang kemarin ikut turnamen, terutama mereka yang bertanding dengan murid Paman Candika."
Pandji mengangkat satu alisnya, “Tidak ada paksaan, Aswanta! Kau tau kita sedang mempertaruhkan nyawa mereka jika ikut ambil bagian.”
“Aku mengerti, Sobat. Tidak ada salahnya dicoba,” timpal Aswanta singkat. “Aku akan segera bergerak, mumpung masih pagi. Apa aku boleh mengajak kakakmu?”
Pandji menggeleng keras, “Dia akan pergi bersamaku."
Aswanta kembali berbisik, "Kau tau kan kalau anak-anak muda pasti tertarik bergabung jika ada perempuan cantik yang ingin mereka lindungi."
__ADS_1
Pandji menjauhkan dahi Aswanta dengan jari telunjuknya, "Kau sudah minum obatmu?"
“Kau menghinaku, Sobat. Aku hanya sedikit membuat jebakan agar mendapat banyak bantuan. Jika kau keberatan aku mengajak kakakmu, bisakah aku mengajak Atika?”
Pandji mendengus kesal, "Sebenarnya apa rencanamu? Aku mencium bau-bau pdkt terselubung dalam acara mendapatkan tenaga bantuan."
Aswanta melebarkan senyum konyolnya, "Aku sedang berusaha, Sobat. Aku belum pernah punya pacar …."
"Ehm … apa sudah selesai rapat pribadinya?" tanya Ayahanda Pandji dengan wajah datar.
Aswanta dan Pandji mengangguk bersamaan tak berani menjawab. Mika tersenyum mengejek dua pemuda yang baru beranjak dewasa itu.
“Kesiangan saya, Mas!” ucap Paman Candika dengan senyum tipis.
“Ya tadi dikira Selia mau ikut sarapan. Ngomong-ngomong mana Risa? Kenapa nggak ikut?”
Wajah Paman Candika berubah sedih dan tertekan, “Saya bingung mau mengatakannya, bingung mau memulai dari mana cerita yang saya bawa ini!”
“Ada apa? Apa istrimu baik-baik saja?” tanya Ayahanda pandji memasang mimik serius.
__ADS_1
"Semalam Badrika pulang, Mas! Saya tidak melihat ada iblis di dalam tubuhnya, dia juga masuk rumah tanpa kesulitan.”
“Lalu?” Mata Ayah Pandji menyorot tajam, diikuti oleh semua yang ada di pendopo, memaku Paman Candika agar segera menuntaskan ceritanya.
"Saya pikir itu benar Badrika … saya mempersilahkan dia menemui Ibundanya. Pada saat itu, Badrika yang saya pikir telah sembuh memasang gelang aneh di tangan Risa.
Dia bilang Ibundanya adalah jaminan agar saya membantunya mendapatkan buku yang dijanjikan Mas Pandji saat menolong Arum tempo hari."
Pandji mengepalkan kedua tangannya, amarah langsung memenuhi darah mudanya. “Dimana Badrika sekarang, Paman?”
“Pergi setelah meninggalkan kekacauan, beberapa murid Hargo Baratan yang memakai sihir hitam iblis mendadak kejang-kejang dan kesurupan. Mereka semua kehilangan elemen kehidupan dalam waktu bersamaan," terang Paman Candika miris.
"Keadaan semakin rumit saja, jika begini akan banyak jatuh korban saat malam puncak kejayaan setan," kata Ayahanda Pandji monoton.
"Kecuali …." Paman Candika tidak berani melanjutkan kalimatnya. Membiarkan keluarga Pandji menarik kesimpulan atas masalah yang sedang dihadapinya.
Pandji mengetuk-ngetuk sandaran tangan kursi dengan jarinya, "Kecuali saya memberikan buku itu pada Badrika, benar begitu maksud Paman Candi?"
Paman Candi diam lesu, baginya keselamatan istrinya adalah yang utama. Kalau Badrika anaknya, hanya ingin buku itu kenapa tidak diberikan saja? Toh semua akan tetap hidup seperti biasa, tidak perlu ada kematian yang sia-sia karena ikut menanggung keserakahan putranya.
__ADS_1
***