
Ranjang batu ruang penyembuhan kediaman Pandji dipakai oleh Badrika. Kesadarannya masih belum kembali meskipun jiwanya terselamatkan. Selain luka tubuh yang sudah mendapatkan perawatan, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari Badrika.
Sihir hitam yang dikuasai Badrika hilang bersama terbukanya tujuh gerbang tubuh dan kekuatan lanjaran yang menguncinya.
"Dia seperti tidur pulas, apa mungkin karena dia kelelahan?" tanya Ibunda Badrika yang tidak beranjak dari sisi putranya.
"Badrika butuh istirahat dan memulihkan kondisinya. Dia sudah tidak apa-apa, hanya saja tidak bisa lagie jadi ksatria. Ilmu bela dirinya aku lenyapkan, terutama yang berhubungan dengan sihir," jawab Ayah Pandji menyesal.
Ayah Badrika mengangguk mengerti, "Saya tidak keberatan, Mas! Yang penting dia hidup sehat dan normal."
"Ngomong-ngomong soal kejadian kemarin, apa tidak lebih baik jika kau menutup kesatrian Hargo Baratan, Candika?
Terlalu banyak masalah yang ditimbulkan, sepertinya tidak etis setelah banyaknya murid kehilangan nyawa dan orang tua yang berduka cita … kau masih ego membuka perguruan!" ujar Ayahanda Pandji solutif.
"Iya saya mengerti, Mas! Tidak seharusnya orang tua menguburkan anaknya, saya paham perasaan mereka pasti persis sama saat saya dan Risa kehilangan Ayunda!"
"Jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Jika Mas Al berkenan, semua guru dan murid yang selamat akan saya rekomendasikan pindah ke Putra Ganendra." Ayah Badrika menghembuskan nafas berat sebelum melanjutkan rencananya.
"Saya mungkin tidak bisa mengembalikan nyawa mereka yang telah pergi, tapi saya akan mengurus dan memberi ganti rugi sebagai permintaan maaf kepada keluarga murid Hargo Baratan."
__ADS_1
Ayah Pandji mengangguk setuju, "Sewajarnya memang begitu, Candika! Ohya aku sempat mendengar iblis yang merasuki Badrika menyebut nama Nergal. Apa kau tau siapa yang dimaksud pangeran kegelapan itu?"
Candika menggeleng keras, "Saya belum pernah mendengarnya sekalipun!"
"Bagaimana dengan tempat utama mereka yang katanya dari Jawa Timur?" kejar Ayah Pandji penasaran.
"Soal itu saya juga tidak paham, perempuan bercadar yang membawa Badrika pergi tidak pernah mengulas apapun selain ilmu sihir dan sang pemimpin!"
Dua pria mantan guru dan murid saling berpandangan. "Apa Badrika pernah menyebutkan tempat mereka belajar sihir?"
"Kenapa kita tidak bertanya langsung pada anaknya nanti setelah dia sadar, Mas? Jujur saja, saya juga penasaran!"
"Aku tidak yakin apakah putramu masih memiliki ingatan tentang masa lalunya," tukas Ayah Pandji dengan ekspresi iba.
"Aku tidak bisa memastikannya, tapi secara logika tubuhnya diambil terlalu lama oleh iblis. Jadi, yang ada dalam kepalanya adalah ingatan milik iblis, saat iblis itu keluar tubuh Badrika … otomatis ada ingatan Badrika yang pergi bersamanya. Putramu mungkin akan ingat saat sebelum dia bertemu perempuan bercadar itu!"
Kedua orang tua Badrika mengangguk bersamaan. Candika berucap syukur, "Aku rasa itu malah lebih baik, dia tidak akan trauma atau memikirkan hal yang tidak disadarinya terjadi."
"Tapi kondisi kejiwaannya bagaimana? Tidak gila kan, Al?" tanya Risa memastikan keadaan mental putranya.
"Semoga saja tidak, hanya saja butuh pendampingan intensif saat kesadarannya mulai kembali."
__ADS_1
Ibunda Badrika tersenyum tipis, "Aku akan melakukan yang terbaik untuknya. Terima kasih banyak untuk semuanya, Al. Aku bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun pada Pandji. Aku akan segera menemuinya, mungkin memberikan sedikit hadiah."
"Soal hadiah … kau tidak perlu repot-repot menyediakannya, Pandji akan lebih suka kalau pagar rumah yang rusak olehnya diperbaiki dengan biaya dari Candika," kata Ayah Pandji tertawa terbahak-bahak.
Bukan menertawakan orang tua Badrika yang ikut tersenyum masam, tapi mengingat Pandji, putra sulungnya yang selalu saja perhitungan.
"Begitukah?" tanya Risa menahan takjub.
"Kau tidak akan percaya dengan cara Pandji berpikir soal uang," jawab Ayah Pandji ringan.
Risa menatap Al skeptis, "Bukankah Pandji pewaris utama kekayaan keluarga Abisatya?"
"Tentu saja, tapi dia selalu beralasan belum bisa menggunakan hartanya sebelum usia 21 tahun."
"Maksudnya?" tanya orang tua Badrika hampir bersamaan.
"Apalagi kalau bukan modus agar warisan dari eyang buyutnya tidak terjamah siapa-siapa."
Di kamarnya, Pandji mengusap telinganya yang berdenging. Dia merasa ada yang menyebut namanya. Dia seperti sedang mendengar ayahnya bicara di dalam kepalanya.
Bagaimana bisa ayah membuka aib anaknya di depan orang lain? Tapi … terima kasih sudah dibantu untuk meminta biaya tagihan perbaikan pagar pada Paman Candi!
__ADS_1
***