
Sombong adalah sifat dasar iblis, jadi Nergal tidak mendengarkan hati kecilnya. Mungkin dia merasa seperti itu karena sedang bersemayam dalam tubuh manusia. Sebelumnya … tidak sedikitpun Nergal memiliki rasa takut.
Kematian tiga panglimanya tidak membuat Nergal merasa iba, dia masih tidak mau mengakui kekuatan sejati Pandji.
"Itu hanya kebetulan, anak muda! Ehm … aku rasa keberuntunganmu cukup sampai di sini, kau memang bisa menghabisi tiga panglima pasukan ku, tapi kau bisa lihat sekelilingmu … pasukan manusia tidak berguna mu sudah mulai mencapai batasnya. Mereka sudah lelah bertarung, mereka hanya tinggal menunggu waktu saja untuk hilang dari muka bumi ini!"
Nergal tertawa terbahak mengejek Pandji. Dia tidak sedang membual atau bicara tanpa fakta, jumlah pasukannya yang masih sangat banyak sudah mendesak ksatria muda yang sedang berjuang dalam heksagram sihir.
"Aku juga memahami bahwa bertarung dalam heksagram sihir membuat pasukanku kehilangan separuh mana, tapi dalam jumlah besar dan terus menerus … benteng pertahananmu itu tidak akan banyak membantu mereka yang sudah kelelahan!" Nergal menghina dan optimis dalam kemenangan yang hampir diraihnya.
Pandji menatap nanar aliansinya, hatinya gundah dan membenarkan apa yang dikatakan Nergal. Korban di pihaknya sebentar lagi akan jatuh dan darah akan membanjiri tanah yang dipijaknya jika dia tidak segera mengakhiri pertarungan.
"Kau terlalu memandang rendah kami sebagai manusia, Nergal!" sahut Pandji menenangkan diri. Dalam pandangan jauhnya, dia melihat ayahanda Al bertarung sengit melawan tujuh paranormal yang menghunus keris secara bersamaan.
Pandji jelas tidak bisa membebankan pasukan aliansi yang sedang bertempur dalam heksagram di bawah pimpinan Aswanta dan dua temannya pada ayahandanya. Terlebih tiga sahabatnya itu juga sibuk melindungi Mika saat mengembalikan iblis yang merasuki penduduk desa ke neraka.
Nergal tertawa mengejek, “Aku berbicara fakta, bocah! Bagaimanapun kau menyangkal … keadaan sudah berbicara kalau takdir baik ada pada kaum iblis. Bukankah itu artinya Tuhan berpihak padaku?"
Pandji tidak mau mendengarkan omong kosong Nergal soal takdir apalagi Tuhan. “Jangan mengasihani diri sendiri dan berusaha tidak terkejut karena kehilangan pasukan begitu banyak, Nergal!”
Ya, di sisi lain apa yang diungkapkan Pandji juga tidak salah. Pemandangan di depan mata Nergal adalah pukulan halus pada mentalnya. Dia berkorban terlalu banyak hanya demi sebuah kitab sihir yang belum pasti kesaktiannya.
__ADS_1
Bagaimana dia bisa percaya begitu saja tanpa pernah melihat hasil? Buku kuno itu seperti sebuah cerita yang dibesar-besarkan hingga menjadi rebutan semua kalangan. Namun, menyesalinya sekarang sudah terlambat. Nergal sudah kehilangan separuh pasukannya dan dia tidak mungkin mundur dari perang besar itu.
Pandji menyilangkan dua pedangnya untuk menangkis ayunan pedang Nergal yang berniat membelah dadanya. Dua cahaya merah dan biru menyilaukan mata saat dua kekuatan kembali beradu.
BLAR!!!
Ledakan besar karena benturan energi meluas hingga beberapa ratus meter. Menghempaskan debu dan daun kering bersama udara yang berhembus kencang.
Pandji mengalirkan mana sihir sangat besar dan memburu Nergal dengan ayunan pedang menyilang. Menyerang bagian kepala dan juga seluruh tubuh Nergal.
Perubahan serangan yang sering terjadi mendadak kadang membuat Nergal menjadi tidak cukup cepat untuk menghindar.
Tidak hanya menghentikan serangan Pandji, tapi gumpalan kabut hitam itu memberikan gelombang kejut yang sangat besar dan memaksa Pandji untuk melompat mundur.
WUSS!!!
Pandji membelalakkan mata, gumpalan besar yang menghadang pedangnya berubah menjadi Nergal dalam bentuk bayangan. Tidak hanya satu, tapi sekaligus menjadi tiga. Total Nergal ada empat jika dihitung dengan aslinya.
“Oughh … sihir ilusi?” tanya Pandji datar.
Nergal terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos dari Pandji. "Menciptakan ilusi adalah hal utama yang harus dikuasai iblis untuk memperdaya manusia, Pandji! Kau terlalu naif … maksudku terlalu kecil untuk memahami ini."
__ADS_1
"Aku tidak perlu penjelasan panjang, Nergal! Aku sudah bisa menduganya," ujar Pandji cuek.
"Dari segi kekuatan kita mungkin berimbang, tapi dari segi pengalaman … kau hanya anak ingusan, Pandji!" Nergal dan tiga bayangannya serentak menyerang dan memojokkan Pandji dalam tebasan dan pukulan mematikan.
Pandji menyadari teknik bertarung Nergal cukup bagus dibandingkan Levron. "Hm … baiklah, anggap saja aku memang masih ingusan, tapi sihir ilusi bagiku hanya permainan milik anak-anak!"
Putra Abisatya lebih mengeratkan pegangan pada dua pedangnya dan menyambut serangan Nergal dengan sangat hati-hati. Dengan gusar Pandji menimpali lagi ucapan Nergal, "Aku paham kalau maksudmu kau sudah sangat berumur alias tua bangka tidak tahu diri, Nergal!"
Dua pedang yang terus mengayun dengan kecepatan tinggi lambat laun mampu membuat bayangan Nergal kembali menjadi gumpalan awan hitam dan masuk ke dalam tubuh Dirga lagi. Meninggalkan tubuh asli yang masih tegak berdiri.
Nergal menyeringai sinis, "Mana sihirmu mulai menipis, Pandji!"
Pandji mengumpat dalam hati sambil mengatur nafasnya yang berantakan karena menguras banyak mana saat menghabisi tiga bayangan Nergal.
“Aku masih belum mati, jadi lupakan ambisimu untuk bisa berkuasa di tanah ini!” kata Pandji dengan ekspresi bosan.
Nergal mendongak dan melolong senang, "Kemenanganku sudah ada di depan mata!"
"Belum!" sahut Pandji cepat. "Never!"
***
__ADS_1