SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 37


__ADS_3

Di dalam kamar, Pandji tak mampu menahan kantuk. Energinya habis, pertandingan dan latihan tadi membuat tubuhnya lelah dan minta istirahat total.


Ratna, calon tunangan yang membuat Pandji sakit kepala karena galau, tidur di kamar Mika. Meskipun wajah kakak cantiknya terlihat masam saat menerima Ratna, tapi Pandji dengan tak acuh tetap menitipkan Ratna padanya.


Tengah malam masih satu jam lagi, tapi Pandji langsung lelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Rasa bahagianya terbawa ke alam mimpi.


Wanita yang tak terlihat jelas wajahnya itu berbisik mesra padanya, "Ada satu ilmu kanuragan yang tidak ada tandingannya di dunia ini … dan ilmu itu hanya aku pemiliknya."


"Anda siapa?" Pandji mengerjap beberapa kali untuk mendapatkan penglihatan lebih jelas. Tapi kabut tipis selalu menutupi wajah di depannya, seperti tirai yang hanya membiaskan sedikit cahaya.


Tawa nyaring seperti lonceng menggelitik pendengaran Pandji, "Aku datang dari jauh, dari tempat yang tidak pernah kamu bayangkan, jian rupomu kok bagus tenan … aku kesengsem!" (duh wajahmu kok ganteng banget … aku naksir)


Pandji berusaha bangun dari tidurnya tapi tak berhasil, mimpi anehnya tak kunjung usai. "Kamu … bukan manusia?"


"Mas Pandji … aku bisa jadi manusia," desis wanita yang tak terlihat jelas wajahnya, indah sekali di telinga Pandji. "Aku datang untuk memberikan ilmu itu padamu."


"Pasti ada syaratnya … males yo!" tolak Pandji monoton.


"Kau akan membutuhkannya, Cah bagus. Syaratnya mudah …," rayu wanita itu dengan tawa menggoda.


"Aku sudah tau, kamu pasti minta dinikahi … iya kan?" Pandji bertanya dengan ejekan tegas.

__ADS_1


Membaca buku sihir dan ilmu kanuragan selama beberapa tahun, Pandji banyak menemukan celah. Bukan hanya harta yang bisa didapatkan dari alam gaib, tapi juga ilmu.


Pesugihan jika itu mencari harta dengan bekerja sama dengan makhluk gaib, disebut ngelmu jika itu bersekutu dengan iblis untuk kesaktian.


"Tidak juga … kau bisa membayarnya dengan yang lain!"


"Aku tidak menjual jiwaku …," sahut Pandji cepat.


Wanita cantik itu mendekat dan membelai wajah Pandji, "Kita akan membuat kesepakatan yang saling menguntungkan, tidak ada hubungan pernikahan juga tidak ada penyerahan jiwa!"


Pandji menatap stagnan wajah yang makin dekat dengannya, kabut yang menutupi wajah di depannya menipis dan menghilang dengan cepat, menampilkan sosok wanita matang yang sangat cantik dengan ekspresi tergila-gila padanya.


Tak terlalu kaget saat Pandji mendengar wanita cantik itu hanya meminta sebatas hubungan badan selama 40 hari.


Kau pikir aku sudah gila? Bagaimana mungkin aku melepas perjaka pada makhluk bukan manusia?


Setelah menyentuh ringan pada wajah, wanita cantik yang tiba-tiba duduk di sebelah Pandji menyandarkan kepalanya di bahu pemuda yang mulai linglung karena bau harum tubuh yang tidak biasa.


"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu! Bagaimana jika kamu mendadak berubah jadi ular betina atau kambing bau saat kita sedang bersama?"


"Aku akan tetap cantik di hadapanmu!" ujar wanita yang mulai memeluk Pandji rapat. Menggesekkan dadanya pada lengan Pandji.

__ADS_1


"Jadi … sebenarnya kamu sama sekali nggak cantik ya? Sayang sekali, aku hanya tertarik dengan perempuan cantik beneran, yang natural bukan hasil oplas apalagi yang jadi-jadian!"


“Semua pasti sepadan dengan apa yang akan kamu dapatkan, Cah bagus. Sihir hitam tanpa tandingan, bukan hanya untuk kekayaan, tapi untuk kesaktian dan kejayaan." Tanpa putus asa wanita cantik itu terus saja merayu dengan berbagai cara.


“Anda salah paham …,” ujar Pandji hampir tersedak ludah.


Melirik benda lembut dan kenyal yang menempel pada lengannya, dia mengeluh dalam hati.


Haruskah salah paham ini diteruskan?


Pandji tercekat karena ada seseorang yang menyentak tangannya dengan kuat, membawanya terbang dari mimpi manis ke alam nyata. Dia membuka mata dan merasa kebas pada tangan yang barusan dicengkram erat penyelamatnya.


Aura yang sangat dikenali Pandji milik ayahnya berada di sekitar, menyelimutinya sebentar lalu menghilang entah kemana.


Menatap jam dinding yang menunjukkan jam 12 malam tepat, Pandji sadar kalau dia tidur terlalu awal.


Mimpi yang sangat nyata itu mengganggu kepalanya, tanpa pikir panjang Pandji keluar kamar mencari ayahnya seraya mengusap lengannya dengan pikiran rumit.


Jangan bilang kalau Ayahanda adalah penjelajah mimpi! Itu sangat tidak sopan meskipun yang dimasuki adalah mimpi anaknya.


***

__ADS_1


__ADS_2