SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 160


__ADS_3

Damar Jati berdiam diri memperhatikan pertarungan yang sudah mulai berat sebelah. Dia tidak perlu khawatir meskipun tidak ikut turun tangan membantu Pandji. Dengan kemampuan Pandji sekarang, bukan hal sulit mengurus kawanan siluman anjing yang tergolong iblis tingkat menengah.


Pandji menebas dan menusuk beberapa kali lagi, dan perbedaan kekuatan langsung terlihat nyata. Sisa siluman anjing yang ada di sekitarnya mulai berpikir untuk menerkam atau berusaha melukai Pandji dengan bola sihir. Mereka mulai sadar setiap lompatan yang diciptakan kawanan, hanya menghasilkan debu hitam yang memadati hutan.


Bau besi berkarat semakin kental. Namun, aura gelap dari nona siluman anjing mulai memudar dan terurai, dua belati Mika memberikan banyak luka di seluruh tubuhnya. Cairan hitam kental menetes dari ujung bulu, begitupun dengan moncong yang sudah kesulitan untuk membuat dengkingan perintah untuk bawahannya.


"Kau sudah kepayahan, kenapa tidak menyerah dan bunuh diri saja?" tanya Mika dingin.


"Kau terlalu cerewet jadi wanita!" Nona siluman menjawab dengan terengah-engah. Jika dia tidak bereaksi dengan cepat, mungkin bukan hanya cakarnya yang hilang terpotong oleh belati Mika. Tapi kedua kaki depannya pasti juga sudah buntung.


Nona siluman anjing mengambil jarak cukup jauh dari Mika, nafasnya hampir putus menahan sakit di sekujur tubuh. Terlebih darah berwarna hitam sudah membanjiri bulunya. Moncongnya bergerak gelisah, mungkin menahan sakit bercampur kesal. Sudah sangat lama sejak dia tinggal di hutan hitam dan menjadi pemburu, belum ada yang bisa melukainya begitu mudah seperti sekarang.


Namun, Mika tidak berniat memberi ampun kepada siluman licik yang berani bertaruh nyawa untuk mendapatkannya. Dia benar-benar tidak ingin menjadi selir persembahan bagi raja iblis seperti yang direncanakan nona siluman anjing yang sedang mati-matian melawannya. Menurut Mika, membiarkan siluman itu hidup lebih lama hanya akan membuat masalah di kemudian hari.

__ADS_1


Pandangan mata anjing siluman tersebut terpusat pada dua belati Mika. Bukan hal mudah untuk membuat luka di tubuhnya, apalagi bulu hitamnya yang lumayan tebal itu adalah perisai yang tidak mudah ditembus.


Kesimpulannya hanya satu, gadis cantik yang akan dipersembahkan pada raja iblis itu memakai belati yang masuk dalam kategori pusaka tingkat tinggi. Hampir sama dengan pedang yang digunakan oleh tuan dari dari Damar Jati.


Serangan jarak jauh beruba bola-bola sihir berwarna biru dan merah yang dilancarkan nona siluman dipatahkan dengan mudah oleh Mika dengan dua belatinya. Hal yang membuat siluman anjing semakin geram, menjerit marah dan terus mengumpat kasar.


"Serahkan saja nyawamu sekarang! Tidak baik jika wanita terlalu keras kepala," tutur Mika menasehati. Dia mengangkat dua belati dan mengayunkan buas ke tubuh siluman anjing yang melompat menerkamnya, membuat sayatan panjang untuk mengakhiri pertarungan.


"Kau begitu arogan karena memiliki pusaka yang bagus, tanpa belati itu aku yakin … kau hanya sampah tak berguna!" hina nona siluman anjing dengan emosi tak terkendali.


Mika menyeringai aneh, berbicara sendiri dalam hatinya.


Bukankah seharusnya Asih Jati yang bicara seperti ini? Apa aku memang mewakilinya dalam hal ini? Aku sungguh tidak bisa mengontrol ucapanku pada nona siluman itu.

__ADS_1


"Arrgghhh!" Suara terakhir yang keluar dari moncong nona siluman anjing serentak membubarkan kawanan yang masih ada di area pertarungan. Mereka lari tunggang langgang untuk menyelamatkan selembar nyawa berharganya.


Pandji dan Mika membiarkan hal itu terjadi dan tidak berusaha mencegahnya. Tanpa pemimpin, mereka hanya akan menjadi penghuni hutan hitam layaknya siluman biasa.


"Apa kamu terluka?" tanya Pandji mengamati Mika yang sedang menyimpan dua belatinya.


"Tidak sama sekali." Mika mengelap peluh di dahi dengan ujung jarinya.


"Sebaiknya kita segera menuju perbatasan hutan, Mas Pandji. Saya khawatir pertarungan barusan membuat siluman penunggu hutan yang lain penasaran dan datang kemari. Mereka bisa saja mengganggu dan memperlambat perjalanan kita." Damar Jati bersuara di dalam pikiran Pandji.


"Baiklah, Damar! Aku setuju denganmu." Pandji memanggil barion hitamnya dan menaiki dengan gesit. Mika tak kalah cepat segera menyusul mendaratkan bokongnya di belakang Pandji.


Mereka melaju seperti angin, membelah hutan belantara yang keseluruhan isinya hanya pepohonan hitam dan makhluk bermata merah. Hutan yang teramat luas untuk manusia biasa. Hutan mistis penuh misteri yang hanya ada di bagian tergelap dunia.

__ADS_1


***


__ADS_2