
Begitu pembicaraan dengan kedua orang tuanya selesai, Pandji menuju halaman pendopo belakang.
Ditemani Atika pemuda itu berlatih memanipulasi elemen sihir miliknya, hawa dingin berganti dengan cepat menjadi panas. Tak lama menjadi normal dan kembali membeku.
Kegiatannya membuat tubuhnya penuh keringat dan lelah, rencananya untuk libur latihan dibatalkan. Pandji penasaran dengan aura aneh yang dirasakannya saat di kesatrian.
Pandji duduk mengatur nafas, "Mika keluar?"
"Ada di kamarnya, apa Mas Pandji ingin saya memanggil Mbak Mika?" tanya Atika sopan. Dia mengulurkan handuk kecil dan juga air putih.
Menggelengkan kepalanya ringan, Pandji menjawab, "Apa dia kelihatan marah?"
"Saya tidak paham, Mbak Mika hanya lebih diam hari ini." Atika menatap Pandji yang sedang rumit, lalu melanjutkan, "Sepertinya bukan marah …."
Pandji menautkan kedua alisnya penasaran, "Lalu apa namanya?"
"Maaf, saya tidak berani menyimpulkan. Takut salah," jawab Atika menunduk dalam.
"Inikan bukan ujian, Tika! Lagian kalau salah 1 masih dapat nilai 9."
Atika merasa tidak nyaman jika Pandji sudah bicara lembut dan menatap intens. Dia menjawab dengan ragu, "Mungkin karena Mas Pandji lebih perhatian sama Mbak Ratna beberapa hari ini."
Pandji dan Atika menoleh ke arah yang sama, ke arah Gia yang datang tergesa diikuti Ratna di belakangnya.
__ADS_1
Gia cengengesan menyapa kakaknya, "Mas Pandji udah selesai latihannya?"
Ratna mengangguk dan tersenyum manis pada Pandji. Hal sepele dari perempuan cantik yang membuat hati Pandji hangat.
Atika pamit masuk ke rumah, sehingga Pandji dan Ratna ditemani Gia yang sibuk bermain game. Tak peduli pada Pandji yang melihatnya dengan geregetan.
"Gia … berisik suara gamenya, masuk sana!" usir Pandji sedikit sarkas.
"No, Ibunda bilang Gia harus temani Mas Pandji di sini!" Gia menatap Pandji dengan tatapan polos, merasa tak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya. Terlebih kehadirannya di sana untuk mematuhi perintah Ibundanya. Mengawasi kakaknya!
Pandji hampir mengumpat, "Eh …?"
Gia tertawa mencibir, "Ok, Gia pindah di ujung situ biar nggak bisa lihat Mas Pandji sama Mbak Ratna pacaran kan?!"
Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Gia bergeser sedikit menjauhi kakaknya yang memasang wajah tak ingin diganggu.
Gia sudah duduk tak acuh dan kembali bermain game, tak ingin terlibat dengan obrolan kakaknya meskipun dia agak penasaran. Waktu bermain bersama Mas pandji-nya berkurang karena kesibukan latihan … dan sekarang waktu berharga itu justru diambil oleh orang lain.
Pandji tersenyum tipis, "Kamu datang sama siapa?"
"Sendiri," jawab Ratna malu-malu.
"Ibundamu membolehkan kamu ke sini? Bagaimana dengan Eyang putri?"
__ADS_1
"Sebenarnya mereka khawatir, tapi aku beralasan kalau harus menemuimu karena ada barangku yang tak sengaja terbawa oleh Mas Pandji." Ratna menyesal dengan alasan yang terlihat dibuat-buat.
Pandji tertawa geli, memandangi Ratna yang bingung menyimpan rasa malu karena ketahuan berbohong pada orang tuanya. "Baiklah, jadi apa rencanamu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin ikut merayakan kemenangan Mas Pandji."
"Besok itu hanya makan-makan biasa bersama keluarga, tidak ada yang istimewa!" Pandji menatap lekat-lekat wajah Ratna yang sesekali mencuri pandang padanya.
Ratna menggigit bibir bawahnya, tak sanggup ditatap oleh Pandji. Dia merasa kepalanya menunduk tanpa diperintah, sebaris kalimat lembut keluar dari bibirnya, "Jika Mas Pandji tidak keberatan tentunya …."
Senyum lebar mengembang di bibir pandji, dia begitu gemas dengan gadis muda yang mencuri sebagian hatinya, "Aku senang sekali kamu bisa ikut. Apa kamu menginap?"
"Ibunda sudah minta izin pada Ibunda Selia dan juga Eyang agar aku bisa menginap di sini malam ini. Ibunda hanya mengantar tadi, langsung pulang ke Solo. Besok setelah selesai acara aku juga langsung pulang."
"Naik apa?" tanya Pandji konyol. Bukankah dia seharusnya mengantar?
"Jalan kaki …," jawab Ratna kalem.
Pandji terbahak mendengar lelucon Ratna, "Aku bahkan sedang berpikir untuk mengantarmu pulang ke Solo naik delman. Agar kita memiliki lebih banyak waktu berdua di perjalanan. Uhuk …!"
Melirik ke arah Gia yang sepertinya tak mendengar rayuan gombalnya, Pandji diam-diam tersenyum jahil.
Sebenarnya aku ingin mengajakmu naik barion … tapi itu bisa kapan-kapan kalau kita jadi bertunangan!
__ADS_1
Kalaupun Gia tau kelakuan konyolnya dan melaporkan pada Ibunda, Pandji sepertinya tak keberatan dimarahi asalkan dia bisa sedikit lebih lama bersama perempuan cantik yang sedang merona di depannya.
***