SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 135


__ADS_3

Lengkingan panjang di tengah malam menghentikan semua aktivitas aliansi. Suara yang menyerupai lolongan anjing malam tersebut ibarat sebuah pertanda bagi aliansi putih bahwa perang akan segera dimulai.


Mereka yang sedang bercakap-cakap ataupun yang sedang melakukan latihan kecil dalam barisan tertegun cemas.


Senjata langsung terhunus dan hati dimantapkan dengan satu tekad, yaitu berjuang sampai mati. Semua orang mulai berdoa dalam hati untuk keselamatan dan keberuntungan masing-masing, lalu mereka semua diam dalam siaga menunggu aba-aba berikutnya.


"Apa sudah waktunya?" Suara bisikan terdengar lirih pada malam yang mendadak mencekam.


Bisikan lain menjawab dengan nada ngeri, "Sepertinya begitu, udara lebih dingin dan aura gelap sangat menyakiti kulit. Aku tidak bisa menghentikan bulu kudukku yang terus berdiri."


"Apa ada peluang untuk menang?"


"Aku tidak tau kawan, kalaupun ada … peluang itu tidaklah besar dan pasti juga tidak mudah untuk dicapai!"


Satu pemuda yang belum pernah bergabung menjadi ksatria pejuang muda masih saja penasaran dan terus berbisik penuh tanya. "Menurutmu … berapa banyak iblis yang mampu ditangani oleh pemuda dari keluarga Abisatya itu?"


"Aku tidak tahu, tapi jelas jauh lebih banyak daripada yang bisa kita lakukan berdua!"


"Bukankah dia masih terlalu muda? Maksudku bagaimana dia bisa memiliki dua pusaka langka itu? Aku sungguh iri padanya." Pemuda itu mulai menerawang dan berandai-andai.


"Apa kau dengki karena berada di sini, hingga ingin berdiri di depan sebagai ujung tombak pasukan aliansi seperti yang dilakukan Pandji?" gerutu kesal terdengar sedikit lebih keras dari suara sebelumnya.


"Oh kalau itu aku sama sekali tidak tertarik, aku hanya ingin dua pedang hitam itu!"

__ADS_1


"Turu wae, Dab! Trus ngimpio yo!" sungut pemuda yang dari tadi menjawab dengan emosional. "Sebelum pedang milik putra Abisatya bisa kau rebut, mungkin kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu yang kerempeng itu!"


"Apa dia semengerikan itu? Kelihatannya biasa-biasa saja."


"Kita akan tahu jawabannya sebentar lagi! Dan seharusnya kau simpan saja pertanyaan bodoh mu itu!" Jawaban geram si pemuda akhirnya mengakhiri bisik-bisik dalam pasukan ksatria muda.


Di depan pasukan aliansi yang bersiap rapi dalam formasi, dua sosok siaga sedang menunggu detik-detik pertempuran dengan wajah tegang.


"Aku seperti akan tersapu gelombang air bah," gumam Mika. Dia melirik ke arah Pandji yang fokus menatap ke depan. "Aura mereka begitu kuat!"


"Kenapa kamu jadi sangat khawatir, Mika?"


"Apa aku terlihat seperti itu? Aku sudah berusaha tenang dan menyembunyikannya sebaik mungkin!" jawab Mika gusar.


Mika menyumpahi pemuda yang tidak punya adab bicara di sampingnya dalam hati, sekaligus menahan tawa karena lelucon tak bermutu yang mampu mengurangi sedikit ketegangannya. "Aku belum bersuami jika kamu lupa!"


Kubah sihir Nergal berderak bersamaan dengan hawa dingin yang merembes keluar dari retakan. Suhu udara jatuh ke titik beku dengan cepat, menyesakkan dada karena peredaran darah yang terganggu kinerjanya seketika.


Aura membunuh sangat pekat meruap di udara, bersinggungan dengan energi yang dikenali Pandji sebagai milik leluhurnya. Energi para Lanjaran.


Dan akhirnya, kubah sihir hitam milik Nergal hancur berkeping-keping, membuat udara di sekitarnya bergoyang keras dan berhembus kencang ke segala arah.


Pandji tidak tahu harus gembira atau bersedih, ayahnya dan banyak orang sakti sudah menghabiskan sebagian energinya untuk meruntuhkan selubung pelindung milik Nergal.

__ADS_1


Hal itu bisa jadi bencana karena mereka tidak akan bisa bertarung secara maksimal. Namun, jika kubah sihir hitam tersebut tetap berdiri … Nergal ibarat lawan hebat yang tidak terjangkau karena benteng pertahanannya yang sangat kuat.


Selanjutnya, heksagram sihir yang dirajah Pandji di atas tanah menyala, cahaya kuning terlihat sekilas pada gambar bintang daud bertumpuk yang lebih rumit dari biasanya.


Pandji sengaja membuatnya berlapis-lapis sehingga memiliki kekuatan berkali lipat melindungi golongan putih yang ada di bawah kepemimpinannya.


Sebelum pertarungan benar-benar dimulai, awan hitam besar berkumpul di angkasa dengan cepat. Situasi mendadak senyap karena suara binatang malam menghilang. Cuaca semakin seram seperti akan terjadi bencana besar.


"Petir Merah Ganendra!" Suara Pandji terdengar menggema memecah sunyinya malam. Nada dengan tekanan tinggi karena dialiri tenaga dalam tersebut tidak kalah lantang dengan lengkingan dari panglima pasukan Nergal yang mengumandangkan persiapan perang.


Jika dilihat, perbedaan pasukan antara aliansi putih dengan pasukan Nergal tidak berimbang, jumlah iblis jauh lebih banyak dari pada para pejuang aliran putih.


Pandji yakin ahli strategi paling hebat sepanjang sejarah pun tidak akan menemukan cara yang tepat untuk mengatasi situasi tersebut.


Meski beberapa persiapan sudah mereka lakukan atas kesepakatan dan perhitungan dari anggota aliansi yang lebih tua, tapi tetap saja kalah dalam jumlah besar bisa mengakibatkan mereka dalam situasi bahaya.


Pandji menyarankan aliansi untuk bertempur dalam heksagram sihir dan tidak terpancing keluar mengejar lawan. Hanya dengan cara itu pertarungan mungkin lebih menguntungkan aliansi dan mengurangi resiko paling fatal dalam pertempuran.


Fungsi heksagram sendiri selain untuk menutupi perbedaan jumlah, lawan juga tidak akan mampu memberikan serangan balik karena energi dalam heksagram berputar sangat besar seperti tornado. Siap menghancurkan iblis tingkat rendah dengan mudah.


BLAR!!!


Satu kilat besar berwarna merah turun dari balik awan hitam yang mengumpul di langit. Pertanda jika Petir Merah Ganendra sedang bekerja mengikuti mantra yang diucapkan pemiliknya.

__ADS_1


***


__ADS_2