SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 148


__ADS_3

Pandji menyudahi meditasi setelah dirasa seluruh tubuhnya dalam kondisi paling baik. Seperti sebuah mesin gawai yang direset ke setelan pabrik, situasi Pandji juga kembali seperti sebelum terjadi pertarungan. Lelahnya hilang, begitu juga dengan pikiran buruk dan rasa khawatir berlebihan yang semula bercokol dalam kepalanya.


"Sudah bangun, Cah bagus?" Romo Guru bertanya dari arah lain, sudah tidak rebahan di bale-bale yang sama dengan Pandji. Tapi duduk di kursi goyang di dekat rumah. Entah sejak kapan Pandji juga tidak tahu.


Menganggukkan kepala sopan, Pandji turun dari bale-bale dan berjalan ke arah Romo Guru yang sedang membaca sebuah perkamen. "Sedang apa, Romo?"


"Membaca sejarah!" Romo Guru bergumam sendiri sambil mengusap beberapa simbol yang hampir tidak terlihat karena lusuhnya perkamen kuno tersebut.


Pandji masih sabar menunggu hingga beberapa waktu dengan makin banyak keluhan dalam hati, dia merasa sudah terlalu lama meninggalkan raganya dalam kuasa roh pusaka yang mendadak berubah menjadi setengah iblis. Pandji mulai khawatir pada tubuhnya.


Meskipun begitu, tetap saja Pandji tidak berani menyela kegiatan leluhurnya yang terkenal angkuh itu dengan bertanya sesuatu. Pandji hanya sengaja menguap beberapa kali meskipun tidak mengantuk untuk menarik perhatian Romo Guru yang sedang khidmat membaca.


Pemuda yang mondar mandir karena Romo Guru masih juga belum bereaksi dengan kelakuannya mulai berkomat kamit menggerutu saat melihat arah lain, ke jalan tak berujung berselimut kabut senja. Pandji sedang memikirkan jalan pulang yang harus ditempuh sendirian jika leluhurnya ini tidak mau mengantarkan.

__ADS_1


"Apa kau sedang mempelajari ilmu sihir kutukan, Cah bagus?" Romo Guru mengangkat kepala dan menggulung perkamen, menandakan kalau acara membacanya telah usai.


"Kutukan? Apa maksud Romo?" tanya Pandji mengamati wajah di depannya dengan tatapan penuh selidik.


"Kau berkomat kamit tidak jelas, apa kau sedang merapal mantra untuk mengutuk kakek buyutmu ini?" Romo Guru memasang wajah jenaka saat melihat Pandji yang sedang skeptis.


"Tentu saja saya tidak berani, saya hanya merasa bosan disini … tidak ada penunjuk waktu, televisi, ponsel atau apapun, terasa sangat kuno, terlalu sepi!" Pandji berbicara sopan, melirik ke arah kolam katak yang sedang ramai, tempat sumber suara serupa nyanyian religi bagi para spiritualis sejati.


“Kau butuh istirahat, ini adalah tempat terbaik dan tidak berbahaya untuk jiwamu, Cah bagus! Apa kau sudah merasa sehat sekarang?"


"Saat kau merapal mantra sihir pedang darah, memang begitu proses yang akan terjadi. Saudara kembar Asih sengaja menciptakan sihir itu untuk membangkitkan kekuatan gelap dan tersembunyi Damar Jati. Kekuatan itu tidak bisa bangkit pada tubuh yang tidak terpilih, Cah bagus! Tubuh biasa akan langsung meledak saat menerima kekuatan iblis Damar!"


"Apakah itu artinya saya sudah kehilangan tubuh saya? Damar Jati akan menempati raga saya selamanya?" Pandji berkeringat dingin membayangkan dia harus tinggal di tempat sepi bersama leluhurnya ini.

__ADS_1


Aku bahkan belum menikah, baru sekali menggandeng tangan perempuan di dunia, aku juga belum menulis surat wasiat soal warisan kekayaan eyang buyut untuk Raksa dan Gia … haruskah aku disini dan menjadi orang suci? Setidaknya aku diberi kesempatan untuk pamit pada keluarga dan juga Ratna kan?


Romo Guru tergelak membaca pikiran Pandji yang kemana-mana. "Ada batas waktu untuk Damar Jati saat berada dalam tubuhmu. Ketika kau masuk kembali ke ragamu dan menyuruhnya pergi, dia akan kembali masuk ke dalam pusaka. Dia hanya bisa menguasai tubuhmu selamanya jika kau merapal sihir pemindahan jiwa."


"Oh, syukurlah jika begitu!" Pandji memasang wajah lega. "Tapi untuk apa penyihir kembaran Asih itu menciptakan sihir pedang darah, Romo Guru?


“Kau bisa memaksimalkan kekuatan dengan menggabungkan energimu dengan milik Damar, pertarungan dengan iblis di bawah sana bisa segera kau atasi setelah ini! Alasan diciptakan sihir pedang darah … karena butuh tenaga yang sangat besar untuk masuk ke dimensi bawah tempat ayahnya disekap!” Romo Guru menerangkan perjalanan yang mungkin akan dilalui Pandji bersama Damar Jati jika ingin membebaskan sang empu.


"Lalu bagaimana jika kami tersesat di dunia gelap bagian bawah dan tidak bisa kembali ke dunia manusia, Romo?" tanya Pandji gusar.


Romo Guru melempar perkamen kuno ke arah Pandji. "Pelajari peta itu saat kitab sihir kuno kembali terbuka!"


Leluhur Pandji mengakhiri kalimatnya dan bergerak secepat angin menyambar tubuh Pandji yang belum siap melakukan perjalanan pulangnya. Meski bukan sekali itu Pandji dibawa terbang kakek buyutnya, tapi bukan berarti Pandji terbiasa. Telinganya tetap berdenging seperti kemasukan air dan kesadarannya hampir hilang karena besarnya tekanan perpindahan dimensi.

__ADS_1


***


__ADS_2