SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 64


__ADS_3

Aswanta meraung keras, mengepalkan tangan lebih erat dan memberi pukulan pada rahang bawah salah satu temannya.


Tubuh Aswanta terdorong mundur karena cekikan di leher yang semakin mengetat.


Dengan sekuat tenaga Aswanta mendorong wajah di depannya hingga cekikan pada lehernya sedikit mengendur.


Kesempatan itu dimanfaatkan Aswanta untuk mencengkeram tangan dan memelintir sebelum membanting keras lawannya ke tanah.


Aswanta pucat pasi, suaranya serak seperti kambing terjepit pohon, "Pandji … tolong satu yang terakhir ini! Aku sudah hampir mati."


Pandji membuat tusukan kecil pada dada kiri atas temannya yang langsung melolong panjang, tubuh di atas lantai itu kejang-kejang sebentar sebelum tak sadar. Kabut hitam yang keluar dari tujuh lubang di kepalanya pun langsung terbang dibawa angin.


"Kau baik-baik saja?" tanya Pandji menyeringai miring.


"Aku babak belur, Pandji …," teriak Aswanta menahan kesal. "Kau benar-benar sahabat yang penuh rasa peduli," sambungnya dengan sedikit mendengus.


Pandji melepas Damar-Asih ke udara dan membiarkannya hilang dari pandangan mata.


Pak Broto, beberapa guru dan siswa yang berani keluar aula mendatangi Pandji dan Aswanta yang berdiri kokoh diantara teman-teman brutalnya yang baru bisa berkedip dan bernafas.


"Pandji … Aswanta, kalian tidak apa-apa?" tanya Pak Broto khawatir.


Semua mata menatap dua pemuda tampan yang cengar-cengir tak berdaya.


"Kami baik-baik saja, Pak!" jawab Aswanta lantang. Wajahnya yang mulai bengkak tak dirasa sakit demi mendapatkan perhatian dari perempuan cantik bernama Prameswari.


Sebagian guru dan siswa laki-laki membantu temannya yang baru saja pingsan ke ruang kesehatan, luka ringan yang dibuat Pandji dianggap tak membahayakan.

__ADS_1


"Obati lukamu!" perintah Pandji mendorong bahu Aswanta untuk ikut rombongan ke UKS.


Aswanta menatap Pandji dengan ekspresi ngeri, begitu juga Pak Broto dan beberapa orang yang memahami perubahan hawa.


Gelombang aura gelap sangat pekat dirasa Pandji mendekat, dia mempersiapkan mana untuk menghalau kemungkinan buruk.


BLAR!!!


Satu suara seperti geledek menyambar di siang bolong terdengar memekakkan telinga. Barrier sihir yang melindungi sekolah berguncang hebat dan retak.


Pandji termundur satu langkah, memegangi dadanya yang berdenyut sakit karena menahan benturan energi yang sangat besar.


Pak Broto terkesima melihat Pandji masih berdiri, sementara dirinya jatuh terduduk saat membantu melindungi kubah pertahanan muridnya. Pak Broto mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Pandji menatap tajam ke arah datangnya gelombang aura gelap datang. Matanya menangkap pemuda hitam manis yang sedang menyeringai sinis padanya. Pemuda yang telah mengambil nyawa adiknya tanpa merasa berdosa.


Wajah dingin Pandji stagnan menunggu lawan tandingnya, tapi Badrika bukan mendekat, melainkan pergi menghilang dalam beberapa kedipan mata.


Tak ada lagi yang menyadari kehadiran Badrika selain Pandji dan Pak Broto, mereka hanya heran ada petir aneh yang mengguncang area sekolah di siang hari tanpa tanda-tanda akan hujan.


Pandji membantu Pak Broto berdiri, "Ada luka dalam, Pak?"


"Tidak … ini ringan, akan membaik setelah minum ramuan obat. Terima kasih sudah melindungi sekolah ini," ucap Pak Broto menepuk pundak Pandji bangga.


"Sepertinya sudah aman, sebaiknya sekolah dibubarkan sekarang saja, Pak!"


"Apa perlu besok diliburkan? Saya khawatir, ini menyangkut keselamatan banyak orang!" Pak Broto berbicara setengah berbisik, tak ingin didengar siswa-siswi yang masih berdiri bingung di sekitarnya.

__ADS_1


"Badrika mengejar saya, Pak! Demi keamanan sekolah, saya izin tidak masuk besok!"


"Ya, Bapak pahami soal itu. Kejadian di rumah Den Bagus Candika pasti berbuntut panjang," ucap Pak Broto lelah.


Pandji mengangguk sopan, "Kalau begitu saya pamit pulang, Pak!"


Mendapat anggukan dari Pak Broto, Pandji melangkahkan kaki ke arah sahabatnya. "Kau pulang dengan siapa?"


Aswanta menatap Pandji skeptis, "Aku bukan anak kecil yang harus diantar, Sobat! Jangan rendahkan harga diriku di depan Pram." Aswanta mengedikkan kepala ke arah gadis yang berdiri tak jauh darinya.


Pandji menatap sekilas ke arah kepala Aswanta mengedik, "Baiklah … mampir ke rumah kalau butuh obat herbal."


"Pandji …," panggil Prameswari lembut. "Kita pulangnya searah, aku takut … aku pulang bareng kamu ya!"


"Uhuk …." Aswanta terbatuk-batuk dengan sengaja.


Pandji tersenyum miring pada Aswanta, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menolak Prameswari sopan. "Aku kotor, juga bau amis … ada darah yang lengket di rambut, nanti kamu nggak nyaman. Selain itu, aku pulang bareng Elok!"


Prameswari yang cantik, yang tidak pernah ditolak pemuda manapun meradang. "Elok?"


Pandji tak menjawab, dia melangkah ke arah Elok. "Jadi pulang bareng?"


Elok mengangguk dan berjalan di belakang Pandji, "Kamu menolak Prameswari?"


"Berisik!" jawab Pandji monoton.


Elok hanya diam, Pandji memang seperti itu dan dia sudah terbiasa.

__ADS_1


***


__ADS_2