SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 105


__ADS_3

Pemuda kekar dengan otot bisep menonjol berang karena tiga makhluk melepuh di depannya dihancurkan oleh keris Oma Dina dengan mudah.


Pedang panjangnya menghunus dan membabat buas perempuan sepuh yang tidak jauh dari tempat Pandji bertarung.


Gia menjerit melihat oma terdesak dan dalam bahaya besar, "Mas Pandji … bantu oma sekarang!"


Seketika, sebuah pukulan mendarat telak di dagu pemuda kekar yang sedang bersiap menebas, tubuhnya terjungkal ke belakang menerbangkan dua gigi ke udara bersama cairan merah kental. Pedang panjangnya terlempar ke samping Pandji.


Pemuda itu jatuh dengan kepala membentur tanah, kesadarannya hilang begitu saja. Pandji langsung memburu maroz yang berusaha keluar lewat tujuh lubang di wajah yang bersimbah darah mencium tanah.


Tanpa memberi kesempatan untuk membentuk wujud aslinya, Pandji mengobrak abrik asap hitam yang ada di depannya dengan dua pedang hitamnya.


"Maaf kawan, sepertinya kau harus memakai gigi palsu setelah ini!" kata Pandji jahil. "Tapi itu jelas lebih baik daripada memakai jiwa palsu."


Oma Dina menatap Pandji sekilas, nafasnya mulai memburu menghadapi banyaknya gumpalan daging busuk yang terus memburu.


Sebenarnya, Oma butuh istirahat memulihkan energi yang baru saja terpakai membentuk kubah raksasa, tapi rasa ingin melindungi keturunannya begitu kuat. Dia tidak mau mundur barang sedetik.

__ADS_1


Oma Pandji berpikir, jika harus berakhir hari ini pun tidak masalah. Dia sudah cukup lama hidup di dunia. Dia pula yang sudah membawa petaka yang dimulainya dari sejak muda pada anak cucunya.


Bagi Oma Dinara, kehilangan satu putri sudah cukup (cerita ada di Selikur Lanjaran), oma tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada keluarga putranya, Alaric. Tidak ada yang akan menyusul almarhum adik Al malam ini sebelum dirinya!


Keris pusaka berisi roh buaya siluman yang dipegang oma masih menderu mencari sasaran, menikam tepat di perut pemuda yang menyerang dengan senjata seperti golok.


Oma menarik keris besarnya, membawa keluar usus dan isi perut lainnya yang telah membusuk.


Pemuda dengan muka melepuh memegangi luka bekas tusukan oma, kakinya banjir oleh cairan hitam yang keluar deras dari sela-sela tangannya. Dia ambruk menjadi lelehan daging, lalu hilang bersama bau amis yang tertiup angin malam.


Menarik nafas berat dan tersengal, oma mundur ke arah Gia.


"Tidak perlu!" sergah oma keberatan. "Oma masih kuat!"


Merasakan suara oma yang sedikit bergetar, Pandji mempercepat pertarungannya. Menghabisi mayat hidup dalam satu kali tebasan dan membuat pingsan ksatria yang masih hidup dengan sedikit kekerasan.


Aku yakin mereka tidak akan ada yang berterima kasih padaku setelah diselamatkan! Aku sudah membuat beberapa orang kehilangan gigi dan ketampanan.

__ADS_1


Gia mengernyit tidak tega melihat tubuh yang baru saja menghantam pilar pendopo karena ulah kakaknya. "Habisi makhluk yang keluar dari pemuda itu sebelum kabur, Gia!"


Gadis kecil sebelas tahun itu melesat cepat, menghunus Kujang Cakrabuana miliknya tepat di mata maroz yang baru saja membuka kelopak hitamnya. Memaksa si iblis untuk menutup mata selamanya.


Pandji memberikan perintah yang sama beberapa kali pada adiknya agar menyelesaikan misi penyelamatan pada pemuda yang kocar kacir saat terlempar, jika tidak karena tendangan keras … pasti kena hantaman gagang pedangnya.


Jumlah manusia pingsan makin banyak, menyisakan mayat hidup yang lebih mudah dihabisi.


"Sebaiknya oma tidak menghabiskan tenaga, akan lebih berbahaya jika kubah kita runtuh dan yang kita hadapi iblis dengan wujud asli dari alamnya," ujar Pandji mengingatkan oma dengan nada sopan dan meminta pengertian.


Pemuda tampan itu berharap omanya mau mundur dari pertarungan sekarang.


Melihat wajah cucu yang sangat mengkhawatirkan kondisinya, Oma Dina mengalah. "Baiklah, mungkin opa di dalam juga sudah kangen sama oma!"


Pandji tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar cerita dua orang sepuh yang masih saja seperti pasangan muda, terpisah beberapa saat saja sudah saling merindukan.


Setelah membuat perlindungan agar oma bisa aman pergi ke dalam rumah, Pandji melanjutkan aksinya … menjegal beberapa orang yang bermaksud menghancurkan dan memaksa masuk rumahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2