SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 165


__ADS_3

Pandji melompat tinggi untuk menghindari sabetan pada bagian kakinya, lalu menukik dengan tusukan tepat ke dada salah satu iblis darah yang mati langkah karena serangannya hanya mengenai tempat terbuka.


BLES!!!


Satu tusukan membakar satu iblis darah dan jutaan debu bertebaran di sekitar pedang merah Pandji. Tidak berhenti atau menjeda serangan, dengan gerakan cepat Pandji membuat tebasan memotong kepala iblis darah yang terlambat menghindar setelah menangkis keganasan Asih Jati.


Debu hitam kembali bertebaran di sekitar Pandji yang masih terus bergerak dalam kecepatan tinggi agar bisa segera menghabisi tujuh iblis darah yang tersisa.


CRAS!!! CRAS!!!


Dua sabetan Pandji telak mengenai sasaran dan lima iblis darah yang tersisa spontan mundur dengan sikap waspada. Mereka hampir tidak percaya kalau pemuda yang terlihat masih ingusan itu mampu menghabisi empat anggotanya dengan cepat dan tepat.


Teknik pedang sepuluh iblis darah tidak bisa dibilang sepele, mereka direkrut sebagai penjaga penjara selama beberapa abad karena sudah mengukir nama di dunia iblis sebagai ksatria elite. Namun, lima dari sepuluh anggota merasa formasi mereka tidak cukup kuat untuk menghadapi pemuda misterius yang datang dari dunia manusia tersebut.


“Gunakan formasi enam pedang iblis terbang menembus bumi!” teriak iblis kepala pada empat kawannya.


"Tapi jumlah kita hanya lima, adik pertama sedang pergi memanggil pimpinan!" ujar salah satu anggota iblis darah tak mengerti.

__ADS_1


"Sama saja, bodoh! Memangnya kita punya jurus lima pedang menembus bumi?"


"Kenapa tidak memakai jurus lima pedang iblis memotong angsa?" gerutu satu iblis masih kurang puas dengan perintah kepala tim.


Dengan mata melotot, kepala tim iblis darah berteriak garang. "Serang sekarang!"


Seketika, lima pedang secara bersamaan menghambur ke arah Pandji.


"Pppffff …." Sebelum mengangkat dua pedangnya untuk menangkis, Pandji menahan tawa karena mendengar jurus pedang memotong angsa sembari mengamati sekilas teknik pedang tersebut.


TRANG!!! TRANG!!!


Suara benturan logam dan bunyi pedang patah terdengar nyaring di udara. Lima ujung pedang jatuh di dekat kaki Pandji dan lima iblis darah melepaskan senjatanya karena tidak kuat menahan efek benturan yang diikuti dengan tekanan tenaga dalam yang sangat besar.


"Bukankah ini terlalu berisik, Damar?"


"Bagaimanapun pertarungan dengan menggunakan pusaka dan tenaga dalam pasti menimbulkan suara dan getaran pada udara, Mas!"

__ADS_1


"Yeah, artinya kita harus bermain dengan waktu ... sebelum seluruh ksatria iblis yang sedang berjaga di istana datang, kita harus sudah meninggalkan tempat ini."


"Sendiko dawuh," jawab Damar Jati terdengar serius di dalam kepala Pandji.


Cairan hitam meleleh dari mulut, hidung dan telinga lima iblis darah. Pandji tidak membuang kesempatan sedikitpun untuk menghabisi kelimanya. Tebasan mematikan mengayun dan mengubah semuanya menjadi serbuk hitam sebelum mereka sadar sepenuhnya dari efek kejut kekuatan pedang sihir Pandji, lima iblis darah terlalu terlambat untuk menghindar.


Pandji menarik nafas lega, dia bersiap melangkahkan kaki untuk mengejar Mika saat satu sosok jangkung berdiri mencegatnya.


"Masih sangat muda dan berbakat, sayang sekali kau memilih menjadi musuh ras iblis, manusia! Padahal banyak hal yang bisa kau dapatkan di sini dengan kekuatanmu itu!"


"Apa kau sedang bernegosiasi?" tanya Pandji skeptis.


"Tidak, aku hanya sedang kasihan padamu! Menghabisimu pasti membuatku mendapatkan promosi jabatan dan bayaran besar dari raja," jawab iblis jangkung penuh ejekan.


Pandji menghembuskan nafas berat dan bergumam lirih, "Sepertinya kau harus sedikit bersabar, Mika!"


***

__ADS_1


__ADS_2