
Pandji tidak banyak bicara saat menanggapi antusias tamu di rumahnya. Pesan ibunda untuk menjunjung tinggi kesopanan dan membuang wajah mengantuknya dilakukan dengan sepenuh hati.
Tersiksa? Jelas saja, bukan hanya karena obrolan ilmu sihirnya yang menarik, atau kemampuannya memainkan pedang hitam kembar yang mencuri perhatian.
Tapi undangan dan jadwal bertemu calon istri lah yang membuat kepala Pandji berputar saat menghadapi orang tua yang menamai diri mereka bapak mertua.
Bukankah ini sudah mulai keterlaluan? Aku bukan barang untuk dilelang, Ayah!
Menolak jadwal dengan alasan akan melakukan penyelidikan ke bagian timur Jawa cukup jitu dan masuk akal.
Pandji menyampaikan bersedia bertemu putri mereka jika semua urusan dengan makhluk kegelapan telah selesai, begitu juga dengan misi pribadinya. Itupun jika dia tidak kehilangan nyawa atau mengalami kondisi buruk saat melakukan perjalanan.
Saat makan siang masih berlangsung, Pandji diam-diam melarikan diri ke belakang dengan membawa piring penuh santapan nabatinya. Alasannya, dia merasa mual dengan banyaknya hidangan hewani yang tersaji di meja makan.
Mengabaikan segala tata krama, Pandji makan dengan cepat dan berencana meloloskan diri lewat rumah samping tempat abdi dalem eyang buyutnya tinggal.
"Ehm … ehm," seru Mika berdehem dengan sengaja. "Mau kabur kemana, Mas?"
Pandji membalikkan badan cepat. Dilihatnya Mika sedang bersedekap dan menatap dengan mata menghakimi. "Apa ini salah satu fungsi skill eyes milikmu?"
Mika mengedikkan bahu, "Aku hanya ingin tau kemana kamu ingin pergi!"
"Baiklah, bodyguard cantik … aku sedang bosan di rumah dan harus berbicara dengan banyak orang tua. Kemana aku akan pergi … itu bukan urusanmu!" ucap Pandji monoton.
"Oke, aku hanya akan ikut tanpa bertanya apapun. Anggap saja aku tidak ada di dekatmu, apa kita sepakat sekarang?" Mika berjalan dan berhenti satu meter di depan pemuda yang menatapnya tajam.
__ADS_1
Sudut bibir Pandji berkedut, "Kenapa kamu harus ikut kemana saja aku pergi?"
Mika makin mendekat ke arah Pandji dan mengambil kunci mobil yang ada di tangan pemuda itu dengan paksa. Mendongak sebentar untuk melihat ekspresi kesal Pandji, lalu berbisik, "Come on!"
Pandji mengelus dagunya yang masih licin tak berjenggot, bergumam pelan seraya mengikuti gadis yang akhir-akhir ini menempel padanya seperti lem. “Kemana kita?”
“I dont know!” jawab Mika singkat.
“Sebenarnya aku ingin pergi ke rumah Tirta, aku ingin membahas penyelidikan."
"Baik, aku akan membawamu ke sana, perlu mampir ke rumah Aswanta dan yang lain juga?"
Pandji merasa Mika terlalu bisa menebak apa yang diinginkannya. "Tidak, kita tunggu saja di lokasi."
"Kamu lupa kalau ini masih siang? Mungkin mereka butuh jemputan, aku juga sepertinya butuh jalan-jalan!" Mika berbicara kalem dan individual.
Mika membuang muka. Dia memilih mengemudi dengan lamban, mengajak Pandji mengobrol soal tamu-tamu ayahnya yang bersemangat membentuk aliansi aliran putih daripada membicarakan acara perjodohan Pandji.
"Aku tidak habis pikir jika harus bertempur dengan banyak orang seperti sebelumnya," kata Mika lirih. "Bayangkan saja jumlah korbannya … banyaknya kerusakan, kerugian dan ratap keluarga yang kehilangan!"
"Bukankah perang selalu membawa masalah seperti itu? Bergerak sendiri itu hampir tidak mungkin, Mika! Aku yakin Nergal tidak datang dengan sedikit pasukan, tujuh gerbang kecil mampu menyeberangkan tujuh kali jumlah iblis yang kita hadapi di rumah!"
Pandji menghembuskan nafas cepat, lalu menyambung kalimatnya, "Aliran putih menawarkan bantuan sukarela, Mika! Mereka pasti sudah mempertimbangkan segala resikonya."
“Firasatku mengatakan Nergal akan datang pada kita dalam waktu dekat.”
__ADS_1
“Kapan?” tanya Pandji tidak yakin.
“Pastinya aku tidak tahu, tapi dia tidak jauh dari kita. Mungkin tidak seperti yang Oma Dina perkirakan kalau mereka ada di Jombang di tempat dulu paranormal terkenal itu membuka praktek, tidak juga di Banyuwangi tempat keluarga perempuan bercadar berasal." Mika menarik nafas berat dan menghembuskannya cepat. "Tidak sejauh itu!"
“Aku akan menyelidikinya nanti malam? Kebetulan lama tidak mengajak jalan-jalan si bla …," kata Pandji terputus.
"Hm … kamu berniat pergi sendiri?" tuduh Mika geram.
"Lebih aman begitu! Aku tidak mungkin membahayakan teman-teman kita!" Pandji membela diri.
"Tidak boleh!" seru Mika jengkel.
"Kamu bukan ibunda, Mika!"
"Aku ikut!"
"Never!"
"Pandji!" bentak Mika tidak lagi menahan amarahnya.
Pandji menoleh sinis, "Apa?"
" … " Mika menyimpan sumpah serapahnya hingga dadanya sesak.
"I am," timpal Pandji bosan. "Jangan memaki dalam hati, ungkapkan saja biar lega dan tidak cepat tua!"
__ADS_1
***