
Pandji mengusap moncong barion yang sudah mengantarkannya sampai ujung utara hutan hitam, "Terima kasih, kau tunggu saja disini, kawan! Aku tidak janji waktunya singkat untuk menjemput ayah Asih, tapi aku akan mengusahakan cepat agar kau tidak terlalu lama berada di hutan ini."
Barion Pandji mengaum rendah, menunjukkan keberatan karena tidak bisa ikut ke kota iblis. Menurut Damar, binatang spiritual seperti barion milik Pandji terlalu menarik perhatian dan bahaya jika ikut berkeliaran di dunia yang juga memiliki peradaban seperti dunia manusia tersebut.
Banyak kalangan yang akan memburu, baik dari ksatria maupun para pangeran iblis karena dianggap tunggangan langka. Hal yang bisa menimbulkan pertarungan di tempat yang tidak semestinya.
"Aku akan membawa oleh-oleh jika sempat, kau mau apa?" tanya Pandji bodoh. Dia sendiri tidak tau apa yang akan diberikan pada barion yang setia padanya selain makanan enak, dan hal itu sangat bisa dilakukan sendiri oleh makhluk besar di depannya di dalam hutan hitam.
Setelah menjilat telapak tangan Pandji, binatang besar serupa macan kumbang bertanduk itu berlari dan menghilang dari pandangan, menembus kegelapan hutan ke tempat persembunyian Damar Jati.
"Jadi kita mulai perjalanan dari sini, Damar? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kota iblis?"
Damar Jati kembali mewujud dan mengibaskan baju lamanya yang berwarna serba hitam. Dia belum sempat menjawab saat menyusul pertanyaan dari Mika, "Apa kita akan jalan kaki?"
__ADS_1
"Nggeh Mas, kita berangkat dari sini. Berjalan kaki sebentar sampai ada jalan lintas ke kota, setelah itu kita bisa menumpang pedati menuju kerajaan!" Damar Jati memberikan gambaran lokasi yang akan mereka lewati dalam perjalanan.
"Hah, pedati? Apa itu sejenis dengan dokar, Damar? Berapa hari yang dibutuhkan untuk sampai sana? Aku tidak bisa membayangkan duduk di belakang pantat kuda yang mungkin baunya akan membuatku kehilangan selera makan!" Mika menatap Damar dengan ekspresi tak percaya.
"Apa tidak ada kendaraan lain, Damar?" tanya Pandji penasaran. Dia sedikit menebak kalau kendaraan yang akan mereka tumpangi bukan pedati biasa yang ditarik oleh kuda di dunia manusia.
Damar Jati terkekeh sebelum menjawab, "Nanti Mbak Mika pasti akan suka dengan sensasi perjalanannya, memang tidak secepat barion … tapi tidak bisa dibilang lambat juga!"
Seperti yang sudah dikatakan Pandji sebelumnya, mereka tidak bisa terang-terangan menunjukkan wajah di dunia iblis. Damar Jati cukup populer di setiap sudut dan aura hitamnya mudah dikenali jika dia menampakkan diri. Terutama oleh para pemburu, ksatria iblis dan kalangan kerajaan.
Bukan hal aneh berpenampilan seperti itu di dunia iblis, menyamar dan berpura-pura adalah hal dasar yang suka dilakukan klan tersebut. Tidak ada yang benar-benar mengakui dirinya secara jujur, semua bersikap manipulatif baik pada sesama ras iblis apalagi pada ras manusia.
Damar melangkah paling depan menyusuri jalan setapak yang terlihat lebih terang, kegelapan menipis dan suasana tidak lagi suram. Mereka bertiga berdiri di pinggir jalan yang lebih besar seperti sedang menunggu bis kota di sebuah halte berhantu.
__ADS_1
Sesaat yang tampak di mata Pandji hanyalah kelebatan bayangan hitam dari yang kecil sampai besar, dari yang sangat cepat sampai yang biasa saja.
Sementara Mika yang sudah beradaptasi dengan matanya hanya tersenyum takjub. "Jadi ini jalan raya, Damar?"
Damar Jati bergumam mengiyakan, tapi dia menunggu Pandji agar bisa melihat seterang dirinya dan Mika.
"Baiklah, jadi kita naik pedati yang mana?" Pandji bertanya setelah matanya sudah bisa menangkap semua yang dilihatnya seperti dalam mode gerak lambat.
Pelajaran ilmu sihir hitam yang dipelajarinya selama sepuluh tahun di perpustakaan, yang dikiranya tidak mungkin terpakai ternyata banyak membawa manfaat di dunia iblis. Pandji yakin bahwa penulis buku tersebut pasti juga pernah menjelajah ke dunia kegelapan itu seperti Damar Jati.
Tak lama, Damar bersiul aneh … dan sesaat kemudian satu pedati besar dengan desain cukup bagus berhenti di depan mereka. Enam kuda iblis dengan postur hitam besar berada di depan tempat duduk yang disediakan untuk penumpang, satu kusir muda dengan wajah mengerikan menyeringai mempersilahkan mereka naik.
"Satu koin emas untuk perjalanan istimewa ke kota iblis," kata si kusir parau.
__ADS_1
"Deal," sahut Damar Jati cepat, tanpa menawar tanpa bertanya.
***