SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 117


__ADS_3

Sambil menunggu waktu tengah malam, Pandji melanjutkan melihat malam yang terang oleh cahaya bulan dari balik jendela kamarnya.


Udara terasa bersih, tanpa aura gelap mengalir di udara. Awan hitam yang beberapa malam menggantung di angkasa pun telah lenyap.


Namun, perasaan Pandji tetap tidak membaik. Ada sesuatu lebih besar bersembunyi di tempat lain, menunggu waktu yang tepat untuk mengambil alih dunianya.


"Damar … apa tidak ada yang salah? Malam ini sangat cerah dan bersih dari aura gelap," gumam Pandji membuka lebar tirai dan menikmati cahaya yang jatuh ke taman depan kamarnya. "Pindah kemana mereka?"


"Timur," jawab Damar Jati singkat.


"Kira-kira apa yang membuat mereka pergi ke sana? Aku penasaran sekali dengan pergerakan awan hitam di bawah bulan kemarin."


"Gerbang timur terbuka di beberapa titik. Mungkin tujuh mungkin juga sembilan!" Damar Jati muncul dari ruang hampa dan berdiri di belakang Pandji yang masih menghadap jendela besar di kamarnya.


"Membuka begitu banyak portal bukankah butuh energi yang sangat besar, Damar? Mungkinkah itu bisa dilakukan oleh satu orang?" Pandji membalikkan badan, menatap Damar Jati yang sedang menimbang jawaban.


"Saya tidak bisa memastikannya, Mas Pandji. Tapi secara khusus satu orang hanya mampu membuka satu gerbang. Mungkin dua kalau dia memiliki kekuatan yang sangat besar."


"Mereka lebih dari satu?!" gumam Pandji tidak bermaksud melempar pertanyaan.


"Jika ada tujuh portal kecil atau lebih yang terbuka bersamaan, artinya ada tujuh orang yang mungkin tergabung dalam satu kekuatan, Mas!"


"Berapa banyak mana sihir yang dibutuhkan untuk membuka portal utama, Damar? Bisa dikerjakan oleh puluhan orang sakti yang membentuk satu kelompok?"


"Untuk portal utama, bukan cuma jumlah kekuatan yang dibutuhkan, Mas! Portal utama memiliki segel yang hanya bisa dibuka oleh orang yang menutupnya dengan mantra seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya," terang Damar Jati sabar.

__ADS_1


"Buku sihir kuno itu akan bisa dibuka sebentar lagi. Apa yang harus kulakukan? Hanya membacanya … lalu apa? Bisakah aku menutup portal kecil yang sudah terbuka?"


"Satu kali membacanya, Mas Pandji tidak akan pernah lupa mantranya seumur hidup. Kegunaannya tidak dalam waktu bersamaan tentunya, tapi semua portal kecil yang telah dibuka bisa ditutup permanen malam ini juga," jawab Damar Jati.


Pandji mengusap pipinya tak percaya, "Bagaimana bisa begitu, Damar? Seumur hidup?"


"Karena memang begitu kutukannya! Berlaku seumur hidup!"


Pandji mengerutkan dahi, "Jangan bicara macam-macam, Damar! Mana ada kutukan yang seperti itu?"


"Buku mati dan anak dalam ramalan adalah kesatuan tak terpisahkan, Mas Pandji."


"Lalu aku akan diburu sepanjang hidup karena menjadi kunci pembuka portal? Apa kau berusaha menakut-nakuti, Damar?" tanya Pandji dengan ekspresi tidak menyenangkan.


"Saya tidak berharap begitu, tapi itulah yang saya dengar di abad-abad lalu."


Damar Jati tersenyum masam sebelum memberikan penjelasan yang menurutnya juga rumit. "Mas Pandji tetap akan diburu untuk diakuisisi tubuhnya, pemilik baru tubuh Mas Pandji akan mengambil buku mati lalu menguasai mantra tersebut untuk membuat angkara, salah satunya membuka segel portal utama."


"Jadi harus aku yang menguasai diriku sendiri dan juga isi buku mati itu untuk mencegahnya?"


"Nggeh … memang begitulah aturannya," ujar Damar dengan anggukan mantap.


"Siapa yang membuat aturan itu?" tanya Pandji stagnan. Merasa jengkel dengan pendengarannya.


"Saya juga nggak tahu, Mas!" jawab Damar dengan seringai bingung.

__ADS_1


"Lalu darimana kau dapat bahasa akusisi? Itu terdengar keren dan kekinian!"


"Itu waktu saya ikut Ayahanda Mas Pandji ke tempat menyimpan uang." Damar Jati memijat kepalanya demi mengingat nama tempat yang pernah dikunjunginya saat iseng mengikuti tuannya dulu.


"Bank?" tanya Pandji skeptis. Kau bukan manusia … untuk apa ikut pergi ke sana? Apa kau juga menabung?!" Pandji tertawa, tak habis pikir dengan kelakuan roh pusaka miliknya.


"Saya hanya ingin jalan-jalan karena bosan harus semedi jika tidak ada kerjaan!" timpal Damar Jati konyol.


"Kau makhluk gaib super nyeleneh, Damar!" Pandji melirik jam duduk yang menurutnya berjalan lambat. Dia mengetuk-ngetukkan tangannya, memastikan kalau penunjuk waktu tersebut tidak mati. "Apa memang belum waktunya?"


"Sebentar lagi, mungkin sekitar … sepeminuman teh!"


Pandji menatap sekilas, "Belajarlah bicara menggunakan kata menit atau jam untuk menerangkan waktu, Damar! Kau hidup di dunia modern sekarang! Sepeminuman teh itu sekitar setengah jam kurasa."


Pandji menunjukkan jarum panjang dan jarum pendek pada jam duduk yang dipegangnya. Mengajari Damar Jati menghitung waktu.


"Sendiko, Mas Pandji!"


"Baiklah, ayo kita bawa bukunya ke perpustakaan. Kita tunggu di sana saja, masih ada waktu tiga puluh menit untuk membahas hal lain bersama Ayah dan Ibunda!" ajak Pandji, tangannya mengambil buku kuno dari atas meja belajar dan membawanya keluar kamar.


"Sendiko dawuh," jawab Damar Jati menghilangkan diri.


"Damar … apa kau percaya dengan ramalan tentang bulan abang?" tanya Pandji dalam pikirannya. "Aku merasa malam ini terlalu sunyi."


"Saya dan Asih akan berjaga dari segala kemungkinan, Mas Pandji tidak perlu khawatir!"

__ADS_1


Pandji mengedikkan bahu, menghembuskan nafas berat. Dia juga membawa perkamen penanggalan kuno, lalu berjalan menuju perpustakaan rumah. Dia ingin menyaksikan gerhana bulan darah bersama keluarga sebelum mempelajari buku sihir mati.


***


__ADS_2