SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 81


__ADS_3

Ayahanda Pandji melihat rumit ke arah mantan muridnya, "Candika … aku memahami prioritasmu sebagai kepala keluarga, tapi yang aku tidak bisa mengerti bagaimana kau bisa tega mengorbankan orang lain hanya untuk keselamatan Risa?


Badrika itu bukan hanya masalahmu saja, dia akan jadi masalah semua orang jika tetap dibiarkan berjaya.


Apalagi kita malah memberikan buku itu sebagai singgasananya.


Secara pribadi aku tidak ingin dipimpin iblis, Candika! Aku tidak mungkin menjadi abdi makhluk durjana penghuni neraka!


Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari Badrika akan membalik bumi ini menjadi tempat tinggal iblis sepenuhnya, kita manusia hanya akan berperan sebagai budak dan tumbal pijakan bagi mereka.


Badrika sekarang hanya jasad tanpa jiwa, putramu itu telah tiada Candika!"


Wajah Paman Candika pias, matanya berkaca dan dahinya berkerut dalam. "Saya mengerti, Mas! Saya hanya sulit menerima kenyataan kalau saya sudah kehilangan dua pewaris trah dalam satu kehidupan! Saya tidak akan tahan jika harus kehilangan anggota keluarga lagi."


Pandji menatap pria yang dianggapnya Paman dengan iba, otaknya serasa berjalan lebih lambat saat mencerna kegundahan hati yang seharusnya hanya dimiliki wanita seperti Ibundanya.


"Pandji tidak yakin kalau Badrika bisa kembali seperti semula, Paman. Saat kemarin dia mengerahkan pasukan untuk menyusup ke sekolah … Pandji hanya melihat aura gelap yang ada di tubuhnya, sedikitpun Pandji tidak merasakan ada elemen kehidupan pada Badrika," terang Pandji getir.


Paman Candika mengangguk berat, setuju dengan pendapat Pandji.

__ADS_1


“Saya takut jika malam yang dijanjikan tiba dan buku itu tidak didapatkan Badrika, Risa akan ikut meregang nyawa, Mas!" lirih Paman Candika mengusap sudut matanya yang hampir basah.


Percakapan dilanjutkan oleh Ayahanda Pandji dan Paman Candika, sementara Pandji mengajak Aswanta dan Mika pergi ke Putra Ganendra karena ada sesuatu yang harus dikerjakannya di sana.


Melewati rumah Biantara, Mika menoleh ke arah gerbang masuk yang menjulang tinggi menutupi apapun yang ada di belakangnya.


"Aura Biantara … terasa sangat kuat, padahal ini pagi hari!" gumam Mika meraba tengkuknya yang merinding.


"Mereka sudah kuat berjalan di siang hari, Mika … juga pandai menyamarkan kegelapan di bawah matahari," jelas Pandji monoton.


"Firasatku … buruk soal Paman Candika." Mika memijat pelipisnya sekilas, lalu membuang pandangan menyapu jalan depan rumah Biantara.


"Paman Candika sama sekali tidak membantu Biantara ataupun adiknya di saat genting, padahal mereka berdua adalah murid kebanggaannya. Apa itu yang kamu maksudkan?" tanya Pandji memastikan dugaan Mika.


"Selama posisi Badrika masih berada di atas Biantara, kemungkinan dia membalas dendam pada Paman Candika hampir tidak mungkin. Kecuali … dia menginginkan tempat Badrika sekarang!" kata Pandji selanjutnya.


"Apa itu mungkin, Sobat?" tanya Aswanta mengernyit bingung. "Iblis dalam tubuh Badrika pasti lebih kuat daripada milik Biantara kan?"


"Kalau Badrika hanya tubuh sementara, apa bedanya dengan Biantara?" Mika ikut penasaran dengan logika Pandji.

__ADS_1


"Aku hanya menebak dan mengikuti pola pikir Biantara, daripada tubuhnya ditempati iblis kelas panglima … dia pasti lebih rela menyerahkannya kepada Sang Pemimpin.


Mungkin dia ingin berdiri di puncak dunia juga, Biantara kan ambisius!" terang Pandji ringkas.


“Kamu nggak berpikir dia akan membalas dendam padamu? Adiknya berubah jadi abu karena pedangmu!” Mika bertanya dengan suara tegang.


“Bukankah tanggung jawabmu adalah melindungiku?” sarkas Pandji dengan senyum miringnya.


“Tentu saja, Mas Pandji! Tak perlu diingatkan ... itu memang tugasku!” ujar Mika menaikkan nada suaranya.


Aswanta memekik tak percaya, dia memasukkan satu jarinya ke telinga dan bergaya membersihkan kotoran.


“Aku ikut malu mendengarnya, Sobat! Bagaimana mungkin kau akan berlindung di bawah ketiak wanita? Harusnya kau yang melindungi kakakmu … bukan sebaliknya!"


Pandji menguap lebar, "Masalahnya dimana, Aswanta?"


"Kau tak berakhlak, Sobat!"


Pandji tertawa terbahak, “Jangan cari muka pada kakakku, Aswanta! Jangan dikira aku tidak tahu maksud perkataanmu!”

__ADS_1


Aswanta mengumpat dalam hati, sahabatnya terlalu sulit untuk diajak kompromi apalagi dia kibuli.


***


__ADS_2