
Wajah cantik dalam tubuh Mika akhirnya tersenyum masam, "Mas Pandji tidak punya pilihan, karena dibalik alasan bangkitnya tujuh pusaka itu adalah rencana migrasi besar-besaran klan iblis ke dunia ini."
"Jadi benar ini berkaitan dengan misi sepasang roh pusaka itu?" tanya Pandji yakin. Dia sudah mendengar sedikit dari ayahandanya soal Damar dan Asih yang setia mendampinginya itu masih punya misi yang harus diselesaikan.
"Asih hanya ingin berbakti pada orang tua, dia bersedia hidup dari generasi ke generasi dengan mengabdi pada Romo Guru Ganendra dan keturunannya untuk mendapatkan kesempatan bisa menyelamatkan ayahnya."
"Kau benar-benar rumit, aku sulit mencerna maksud dari semua ini," keluh Pandji senewen. "Jadi Sang Empu adalah ayah Asih? Dan kau adalah saudara kembarnya!"
"Mudahnya begini, raja iblis berniat mengambil tubuhmu dan buku sihir yang akan digunakan untuk membuka portal dimensi, lalu menyeberangkan makhluk-makhluk gaib yang jadi rakyatnya dan berkuasa di duniamu dengan tujuh pusaka sihir yang melegenda itu. Siapa yang akan melawannya jika itu sampai terjadi? Tidak akan ada yang mampu!"
"Lalu apa pilihanku? Menguasai sihir setan terlarang milikmu? Membangkitkan tujuh pusaka, melepaskan tawanan … lalu menutup portal untuk selamanya?" Nada bertanya Pandji terdengar jengkel karena kerumitan masalah yang sebenarnya.
"Harusnya kau membunuh raja iblis terlebih dahulu sebelum menutup portal," kata suara dari dalam tubuh Mika serak.
"Kau pikir aku ini hero dalam film laga atau game yang sering kumainkan?"
"Aku tidak tau apa itu, tapi kalau yang kau maksud benda datar ada gambarnya yang sering kau tonton bersama keluarga … tentu saja Mas Pandji lebih dari sekedar jagoan itu!"
__ADS_1
"Benda yang kau maksud namanya televisi, bagaimana kau tahu kegiatanku sementara kau tadi mengatakan baru bisa datang menemuiku saat ini?"
"Asih banyak bercerita tentang anak dalam ramalan, keturunan Ganendra yang sedang menjadi tuannya sekarang."
"Ohya? Apa kau juga punya ponsel untuk untuk melakukan panggilan video?" tanya Pandji dengan sudut bibir terangkat.
Suara tawa renyah terdengar dari mulut Mika, "Kami melakukan telepati."
"Baiklah … pertanyaan terakhir, bagaimana bisa kalian kenal dengan raja iblis? Apa kalian berasal dari dunia yang sama?"
"Apa aku harus menjelaskan sejarah keluargaku juga?" tanya wanita dalam tubuh Mika dengan ekspresi wajah tidak setuju.
Belajar bisnis keluarga dari kecil ternyata ada untungnya, aku jadi cukup punya otak untuk memikirkan sesuatu dari segi bisnis!
Mika menaikkan alisnya, tidak menyangka anak muda di depannya begitu perhitungan. "Baiklah, ayahku seorang pande besi ternama pada zamannya, hampir seluruh wilayah memesan senjata pusaka padanya. Beliau menikah dengan ibu yang bukan dari bangsa manusia, lahirlah aku dan kembaranku Asih."
"Lalu?"
__ADS_1
"Ketika membuat pusaka penganten lanang, Damar Jati yang arogan dan temperamental tidak mudah ditaklukkan. Pusaka itu jadi bencana karena pemiliknya selalu saja mati, dan masalahnya selalu dari wanita."
"Hm … aku masih mendengarkan!" sahut Pandji dengan ekspresi serius menyimak cerita.
"Orang sakti yang terakhir memegang Damar mengembalikan keris tersebut pada ayah karena tidak bisa mengendalikan hasratnya, juga angkara yang selalu timbul. Akhirnya … Damar disandingkan dengan Asih sebagai pasangan sepanjang masa. Sebagai bapak dan ibu dari lima pusaka sihir sebelumnya." Mika menutup cerita dengan nada menyesal.
"Oh … romantis sekali, seperti cerita dalam sinetron kejar tayang kesukaan eyang buyut," celetuk Pandji sambil mengusap dagunya.
"Aku akan membacakan mantranya sekarang, bisakah kau fokus dan tidak lagi banyak bertanya? Kau sungguh anak muda yang penuh dengan rasa penasaran!"
"Tapi aku belum tau alasan seorang ayah menempatkan putrinya dalam sebuah pusaka," gumam Pandji sambil memasang telinganya tajam. Mendengarkan mantra dan cara mengaktifkan kekuatan sihir darah pusaka penganten miliknya.
"Soal itu Mas Pandji bisa bertanya pada Asih atau Damar! Sekarang … apa Mas Pandji butuh bantuan untuk mengaktifkan sihir pedang darah pada pusaka penganten? Panggil saja Damar Asih kesini … Mas Pandji sudah tau kelebihan pusaka itu kan?"
"Maksudmu muncul dari tempat hampa?"
"Hm … jadi bagaimana? Bisa kita lakukan sekarang? Lebih cepat lebih baik!"
__ADS_1
Pandji menggelengkan kepala tanpa menimbang, "Aku akan melakukannya sendiri nanti!"
***