
Beberapa saat sebelum sampai kesatrian miliknya, Pandji memberikan peti kayu kecil pada Aswanta yang dia bawa dari rumah.
"Wow … hadiah? Aku sedang tidak ulang tahun, Sobat!" ucap Aswanta seraya meraba ukiran kayu jati berwarna coklat mengkilap yang ada di tangannya. "Tapi … terima kasih banyak!"
"Apa itu, Pandji?" tanya Mika penasaran. Matanya mengerling pada kotak antik di tangan Aswanta yang terlihat elegan.
Pandji tidak menjawab, pandangannya tetap fokus ke jalan yang padat kendaraan. "Aku butuh orang yang bisa membantuku membangun tempat tinggal untuk para ksatria."
"Kau bisa membayar Ayahanda," sungut Mika kesal karena pertanyaannya diabaikan Pandji.
"Ayahanda tidak akan memberi diskon padaku, dari sekian banyak arsitek ... mungkin Beliau yang paling mahal tarifnya," gerutu Pandji tak terima.
"Astaga Pandji … Ayahanda tidak begitu!" bela Mika pada orang yang sudah dianggap Ayahnya sendiri.
"Kamu yakin Ayahanda tidak akan memasang tarif padaku? Aku belum lupa harus mengganti meja kerjanya yang hancur dengan uang pribadiku, itu mahal … dan harus dibeli dari Jepara."
Mika dan Aswanta terbahak bersama, "Yang menghancurkan meja kan kamu, otomatis kamu yang ganti ... itu wajar, namanya bentuk tanggung jawab." Mika mengibaskan tangan tak peduli dengan alasan Pandji.
"Aku masih sekolah," protes Pandji keras kepala. "Hal seperti itu harusnya dimaklumi."
"Anggap aja sedekah, beres kan? Jangan terlalu pelit jadi orang!" ujar Mika santai.
"Pelit katamu?" tanya Pandji dengan seringai miring.
__ADS_1
"Sobat, kau sama sekali tidak pelit. Aku sangat terharu dengan hadiahmu … pusaka ini sangat bagus, aku merasakan tuah yang sangat besar!" Aswanta mengusap bilah pedang pendek yang baru saja diterimanya.
"See!" sahut Pandji mengejek Mika. Kepalanya mengedik ke arah Aswanta.
"Terima kasih, Sobat. Setelah aku amati, logam ini termasuk dalam jajaran terbaik." Aswanta tersenyum lebar mengagumi pedang barunya.
"Aku pikir kau hanya tau cewek cantik," sindir Pandji sarkastik.
Aswanta mendengus, "Aku juga tau sedikit tentang pusaka, Sobat. Selain terbaik, logam yang dipakai untuk membuat pedang ini juga dalam kategori langka."
Mika langsung menoleh ke arah Aswanta, "Kenapa energinya mirip dengan belati milikku? Juga heksagram dalam lingkaran seperti bintang Daud pada ujung gagangnya. Bagaimana bisa Pandji? Kamu dapat darimana?"
"Seseorang," jawab Pandji penuh rahasia. "Aku rasa itu dibuat di tempat yang sama, oleh orang yang sama juga. Aku pernah membaca kisahnya."
Pandji menginjak rem dadakan hingga Mika yang sedang menghadap belakang terhuyung tak nyaman, "Pandji … kamu?!"
Pandji tidak menghiraukan teriakan Mika, matanya tajam pada pemandangan di depannya. Satu orang pemuda menghadapi tiga orang yang sedang kerasukan maroz.
Perkelahian tak imbang mereka tidak ada yang menghentikan, dan pemuda bersenjatakan kayu yang sedang dikeroyok itu mulai kepayahan.
"Bagaimana jika kau menguji pusakamu, As? Aku akan menunggu di sini, aku agak ngantuk!" Pandji menguap lebar dan menyandarkan kepalanya lelah.
"Kau benar-benar sahabat sejati, Pandji …," rutuk Aswanta skeptis. Dia turun dengan cepat dan berlari membantu pemuda yang siap dijadikan pecel oleh lawannya.
__ADS_1
"Aku akan membantu Aswanta," seru Mika bersiap turun.
Pandji langsung menangkap tangan Mika dan menariknya pelan, "Tetap di sini, biarkan Aswanta beradaptasi dan terbiasa dengan pusaka barunya. Itu akan membuatnya lebih mengenal energi pedangnya."
"Tapi …." Mika melirik ke arah tangan Pandji yang memegangnya erat. Pemuda itu bahkan masih memejamkan mata dengan tenang, sama sekali tidak khawatir dengan sahabatnya yang bertarung melawan tiga pemuda kerasukan iblis tak jauh di depan mobilnya.
"Pandji," panggil Mika lirih.
"Hm …."
"Kamu nggak ingin membantu Aswanta?"
"Dia bisa menyelesaikannya sendiri, lihat saja sebentar lagi!"
"Kamu nggak khawatir terjadi apa-apa padanya?"
"Aku lebih khawatir jika kamu yang ada di luar sana!"
Mika mengatupkan bibirnya, hatinya menghangat. Dia kembali mengerling pada wajah pemuda yang terlihat malas, bosan dan mendengkur perlahan.
Bisa-bisanya anak ini tidur di saat begini …!
***
__ADS_1