
Pandji masuk ke dalam tubuhnya dan bergabung dengan iblis Damar Jati yang masih menguasai raganya. Damar menyambut kedatangannya dengan seringai bengis khas makhluk kegelapan.
"Apa kau bersenang-senang dengan ragaku, Damar? Aku ingin perang berakhir sebelum fajar dan tidak satupun dari mereka bisa melarikan diri!" Pandji berbicara dengan nada dingin. Aura keemasan Pandji meruap melingkupi aura hitam Damar Jati dengan cepat.
"Sendiko dawuh! Semua akan saya kerjakan seperti yang Mas Pandji titahkan," jawab Damar Jati tanpa ekspresi.
"Romo Guru titip salam untukmu, Damar!" Pandji bergumam lirih, menyampaikan ucapan kakek buyutnya yang pergi begitu saja tanpa mau ikut campur urusan Pandji.
"Terima kasih, saya sudah sangat lama tidak berjumpa dengan beliau. Saya pikir Romo Guru sudah melupakan saya!" Damar Jati bersiap menggunakan jurus kegelapan yang akan dikombinasikan dengan kekuatan Pandji.
Mereka merapal mantra secara bersamaan.
Pandji menghunus pusaka penganten lanang ke angkasa, persis seperti apa yang dilakukan Nergal sebelumnya. Pandji akan menggunakan kekuatan sihir kegelapan milik Damar Jati yang dipelajarinya dari dunia iblis untuk menghabisi Nergal.
Tubuh Pandji bergetar sesaat, satu cahaya hitam melesat dari ujung pedangnya ke langit malam, memanggil kabut hitam pekat yang sudah terbentuk amat besar di angkasa. Saat cahaya hitam yang dilepas Pandji menyentuh gumpalan kabut hitam yang sudah sangat tebal dan luas di langit, kabut tersebut memijar sesaat seperti gumpalan awan yang akan menurunkan petir.
Seketika kabut yang memijar mulai bergerak berputar cepat dan turun seperti badai tornado ke arah pusaka penganten yang masih terhunus ke angkasa, menyelimuti pedang tersebut dengan suara angin topan dan aura kematian.
Nergal tercekat, “Apa yang kau lakukan, Damar? Kau menggunakan sihir malam iblis untuk melawanku? Kau sama sekali tidak tahu malu! Itu ilmu hitam dari tempat ku, Damar!”
Pandji menyeringai sebelum menjawab perlahan. “Aku yang meminta Damar melakukan ini, kau bisa menyalahkan aku, Nergal!”
__ADS_1
Dengan wajah bengis dan mata masih menghitam seluruhnya Pandji menurunkan pedangnya yang sudah penuh dengan aura kematian, mengarahkan kepada Nergal dengan satu tebasan kuat.
Gelombang angin setajam bilah pusaka penganten menyambar Nergal secepat petir, membuat luka besar melintang dari pinggang ke paha Nergal.
Nergal melolong menggidikkan, sayapnya terkembang lebar dan sesegera mungkin terbang menjauhi Pandji yang masih kerasukan roh pedang. Namun, sebelum Nergal sempat terbang terlalu jauh, sebuah luka tebasan lain terbentuk di tubuhnya, punggung pangeran iblis tersebut hampir terbelah menjadi dua.
Dua lolongan mengiringi pelarian Nergal yang masih berusaha menjauhi Pandji. Sayangnya Pandji dengan mudah menyusul dan memperpendek jarak di antara mereka.
"Aku tau kau memiliki kemampuan untuk sembuh dengan cepat, Nergal! Tapi, aku pastikan kau tidak akan mendapatkan kesempatan untuk memulihkan diri," teriak Damar Jati melalui mulut Pandji.
"Persetan denganmu, Damar!"
Tebasan demi tebasan terulang beberapa kali, hingga Nergal akhirnya jatuh berdebam ke tanah karena satu sayapnya putus. Cairan hitam membanjir dari seluruh tubuh Nergal yang berusaha memulihkan diri dan menutup luka dengan kekuatan sihirnya.
Pandji berdiri dengan sedikit gemetar. Menggunakan kekuatan kegelapan yang bernama malam iblis membuat seluruh tubuh Pandji sakit bukan kepalang, tulangnya masih belum cukup padat untuk menerima beban kekuatan sejati Damar Jati. Darah mengalir pelan dari mulut Pandji bersama batuk kecil yang tidak tertahan.
"Brengsek kau, Damar! Ini bukan sedikit menyakitkan seperti yang kau bilang, aku bisa mati kelebihan mana di dalam tubuh jika begini!" Pandji mengoceh pada roh pusaka yang juga kelelahan setelah menggunakan sihir malam iblis.
"Mohon maaf, Den bagus Ganendra … tapi tidak ada kesempatan untuk istirahat! Waktuku berada di dalam tubuh Mas Pandji akan segera berakhir." Damar Jati menggenggam erat pedang hitam di tangan kanan dan memanggil pedang pasangannya untuk digenggam pada tangan kiri.
Tanpa menunggu persetujuan Pandji, Damar memaksa tubuh Pandji untuk berlari masuk ke dalam kerumunan iblis yang sedang bertempur melawan aliansi.
__ADS_1
Sepasang pusaka penganten mengayun dan menebas siapa saja yang berusaha menghalangi, memotong tubuh mereka dengan mudah seperti memotong tahu. Tidak ada iblis yang selamat setelah tersentuh dua pedang Pandji yang menderu angker.
Pandji merapal petir merah Ganendra dan menghujani kawanan yang tersisa dengan badai halilintar yang menyambar lebih kuat dari sebelumnya. Hingga hanya dalam beberapa waktu pasukan Nergal sudah tumbang setengahnya.
Hujan yang mendadak turun menjadi nilai keberuntungan bagi Pandji, mulutnya berkomat kamit membaca mantra untuk mengubah jutaan butiran es menjadi senjata mematikan bagi klan iblis yang tersisa.
Ketika semua telah selesai, Pandji berdiri dengan kaki goyah. Pemuda tampan itu bertopang dua pedang yang menancap ke tanah seperti kakek tua memakai dua tongkat. Damar Jati meninggalkan tubuhnya di detik terakhir pasukan Nergal menghilang dari tanah yang dipijaknya. Meninggalkan tubuh Pandji yang rasanya remuk redam di seluruh bagian.
"Hoek…! Hoek…! Sialan kau, Damar!" Pandji merutuki Damar Jati yang membuatnya jatuh terduduk dan muntah darah sangat banyak. Matanya buram di tengah hujan deras yang tanpa ampun mengguyur bumi Jombang.
Pandji pingsan setelah ayahandanya datang dan menolong dirinya dengan menyalurkan energi lanjaran. Menjejalkan ramuan yang didorong masuk mulut Pandji dan dipaksa tercerna cepat dengan bantuan tenaga dalam. Penggunaan mana sihir di luar batas kewajaran membuat tubuh Pandji terluka parah di dalam.
Selanjutnya yang terlihat adalah semua orang yang sangat sibuk saling membantu dan mengobati kawan ataupun penduduk desa yang sebelumnya kerasukan iblis. Menyingkirkan jasad tanpa nyawa dan mengumpulkannya menjadi satu untuk diberikan pemakaman yang layak.
Meski bernafas lega, tapi tidak ada senyum yang tercipta. Mereka semua menunduk dalam luka dan duka. Bahkan tidak ada yang tau kalau wanita bercadar yang membantu Mika juga telah pergi setelah memastikan semua dalam kendali aliansi. Wanita itu meninggalkan lokasi bersama pergantian malam menuju pagi.
***
...Petualangan Pandji bersama Damar Jati ke dunia gelap bagian bawah mungkin akan dimulai setelah lebaran....
...Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin ya teman-teman!...
__ADS_1
...Cium jauh - Al...