
Pandji menatap wanita saudari Asih Jati yang memakai tubuh Mika untuk membacakan poin penting dari kitab sihir kuno yang diakui miliknya.
"Sebelum kau melanjutkan tentang kekuatan sihir pedang darah, apa ini ada hubungannya dengan Asih Jati?" tanya Pandji menerka.
"Pedang darah adalah pusaka yang digunakan salah satu ksatria pada abad dulu, itu termasuk legenda pedang paling mengerikan karena sihir darah yang mengikutinya." Suara Mika terdengar lirih, matanya tidak fokus menatap Pandji. Tapi menerawang waktu lampau yang sepertinya tidak mudah dilalui.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku," sarkas Pandji tidak sopan. "Jujur saja aku sangat penasaran!"
"Pusaka penganten adalah dua dari tujuh pusaka sihir yang ditempa dengan kekuatan sihir darah. Dalam perjalanannya pusaka milikmu itu sudah mengalami beberapa kali perubahan bentuk untuk menyamarkan keberadaannya!" Mika menghembuskan nafas berat saat menerangkan beberapa kejadian di masa lalu.
"Astaga … jadi aku bukan satu-satunya orang yang sudah mengubah Damar Asih dari bentuk keris menjadi pedang?" tanya Pandji dengan ekspresi tidak percaya.
Mika hanya tersenyum tipis, tangannya menunjuk pada dua buah keris dengan luk berjumlah tujuh belas. "Ini pusaka penganten pertama, ini Damar dan ini Asih! Begitulah bentuk mereka pada awalnya.
" … " Pandji serius menatap dan mengamati lekuk pusaka bertuah yang sama sekali tidak mirip dengan Damar Asih yang ditolaknya saat masih berbentuk keris.
"Meskipun mereka adalah dua elemen yang berlawanan, tapi ditempa di tempat dan oleh orang yang sama. Pande besi yang juga pertapa gunung. Beliau menggunakan api abadi Merapen untuk membentuk semua pusaka sihirnya," terang wanita dalam tubuh Mika lebih rinci.
__ADS_1
"Dimana tempatnya?"
"Grobogan, Mas!"
Pandji menajamkan matanya, heran karena perempuan di depannya bercerita sejarah pusaka miliknya. "Aku curiga kau terkait dengan pusaka penganten itu!"
"Damar Asih adalah dua pusaka terakhir yang dibuat Sang Empu, lima lainnya aku tidak tahu keberadaannya, mungkin mereka memang tidak ingin ditemukan. Moksa."
"Bagaimana mungkin?"
"Atau disembunyikan?" tanya Pandji cepat.
"Mungkin saja begitu, tapi jika seseorang menyembunyikannya pasti ada kabar berita atau ada aura yang terbaca di udara mengenai keberadaan mereka."
"Kecuali orang sakti mandraguna yang sengaja menutupi agar aura itu tidak keluar dan memancing angkara. Jadi rebutan karena tuahnya," ujar Pandji pelan. Ayahandanya adalah salah satu orang yang menyimpan pusaka sihir itu dengan baik. Menyembunyikan keberadaannya dengan kubah pelindung khusus lanjaran dan mengubahnya dalam bentuk baru.
"Den bagus Al sudah melakukannya!"
__ADS_1
"Lalu hubungannya apa denganku? Aku dari tadi bingung dengan cerita rumit sejarah pusaka yang sekarang jadi milikku itu. Apa kau berniat mengambilnya?" Pandji menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak sabar dengan sejarah tujuh pusaka sihir yang tidak menarik perhatiannya.
"Darahmu akan membangkitkan kekuatan sepasang pusaka sihir penganten. Mas Pandji akan punya kemampuan untuk memanggil lima pusaka sihir yang lain dengan kekuatan itu, juga tidak akan terkalahkan sebagai ksatria … seperti yang raja iblis obsesikan," terang Mika dengan wajah muram.
"Jadi raja iblis juga punya obsesi untuk menguasai tujuh pusaka itu?"
"Ya, bukan cuma karena kekuatannya tapi tujuh pusaka sihir itu adalah kunci untuk membuka pintu yang mengurung Sang Empu di alam kegelapan. Penjara alam bawah dunia."
"Untuk apa raja iblis menyekap seorang pande besi di alamnya?" Pandji mengetuk-ngetukkan jarinya di atas gambar tujuh pusaka dalam kitab kuno.
"Untuk mendapatkan tujuh pusaka sihir, karena dengan demikian dia akan menjadi satu-satunya musuh manusia yang tidak bisa dibinasakan!"
Setelah diam sejenak, Pandji bersuara berat. "Kenapa aku merasa kelahiranku seolah sedang dimanfaatkan? Bukankah itu terdengar seperti misi Damar dan Asih yang belum selesai di dunianya? Membebaskan Sang Empu dengan menyerahkan tujuh pusaka sihir dan tubuhku pada raja iblis?"
Dua mata saling menatap tajam tanpa ada yang mau mengalah. Pandji yang penasaran dan penuh rasa curiga menatap mata yang mulai tak sabar dengan sikap menyebalkan pemuda paling menjengkelkan di depannya.
***
__ADS_1