
Lonjakan energi di sekitar Pandji membesar dengan cepat. Begitulah jika orang-orang sakti berkumpul dalam satu ruang dan waktu. Bagi mereka yang memiliki energi lebih kecil, akan merasakan tekanan tidak nyaman karena hal tersebut.
"Aku sudah membariskan para ksatria di belakang para suhu, Sobat!" Aswanta memberikan laporan singkat mengenai tugasnya. "Jumlah mereka tidak sedikit, hanya saja …."
"Mental mereka seperti … belum sepenuhnya siap, benar begitu Guru? Masih banyak yang tegang dan pucat seolah sedang berhadapan dengan malaikat maut," ujar Tirta dengan ekspresi sendu.
Ksatria pejuang muda yang hadir memang tidak semua atas inisiatif diri sendiri. Banyak juga yang terpaksa datang karena mengemban tugas dari perguruan bela diri tempat mereka belajar.
"Meski aku tidak bisa melihatnya, tapi aku yakin malaikat pencabut nyawa pasti sudah bersiaga di sekitar kita," jawab Aswanta membenarkan.
"Aku yakin seorang Aswanta mampu membangun mental mereka, Tirta. Dia hanya belum mengeluarkan potensinya secara maksimal. Kita lihat saja nanti hasilnya." Pandji melirik Aswanta yang sedang meyakinkan dirinya agar mampu berbicara di depan orang sebanyak itu.
"Kamu tahu ini pengalaman pertamaku, Sobat. Aku agak kikuk, bagaimana jika pekerjaan ini aku serahkan pada ayahmu saja?"
"As, kita adalah contoh ksatria muda yang berjuang untuk keselamatan keluarga. Mereka akan lebih melihat kamu yang berbicara penuh semangat dibandingkan dengan ayahanda!"
"Iya juga." Aswanta menggaruk kepalanya dan tersenyum percaya diri.
Pandji mengangguk pelan, "Tirta dan Mahesa akan menemanimu."
"Lalu kamu dan Mika mau kemana, Sobat?" tanya Aswanta kembali gusar. Pemuda itu merasa dirinya aman jika berdiri di sekitar Pandji. Dia berniat tidak akan jauh-jauh dari sahabatnya demi menitipkan nyawa.
__ADS_1
"Tentu saja Pandji dan Mika akan berada paling depan sebagai ujung tombak, teman! Masa gitu aja nggak paham … piye to, Dab?" timpal Mahesa kalem. "Kamu mau ada di depan sendirian biar kelihatan jagoan, As?"
Aswanta tertawa kering, "Khusus malam ini tidak, aku sedang masuk angin!"
Tirta tertawa lucu, "Tenanglah, Guru! Aku akan melindungimu dari kemungkinan jadi seperti mereka yang dirasuki iblis! Pedang ini akan menghabisi siapapun yang berusaha memakanmu mentah-mentah seperti lalapan!"
" … " Aswanta menyeringai jengkel pada Tirta, tapi setengah percaya kalau temannya itu akan melakukan yang terbaik untuknya seperti sebelumnya.
"Aku akan ke depan, jaga diri kalian baik-baik! Kita akan tetap berkumpul dan makan gudeg Yu Djum bersama setelah semua ini selesai, jadi … jangan ada yang mati malam ini!" Pandji berbicara lembut dan penuh rasa setia kawan.
Aswanta menegakkan badan dan bersikap seperti tentara yang baru diberikan perintah. "Siap!"
Pandji dan Mika meninggalkan tim mereka untuk memimpin barisan ksatria muda yang posisinya di belakang para ksatria pilih tanding. Orang berumur atau yang sudah mencapai kesaktian tingkat tinggi di kesatrian.
Mereka semua berdiri di dalam heksagram sihir raksasa yang siap dinyalakan kapan saja.
"Kamu serius ingin berdiri paling depan? Kamu adalah anak dalam ramalan itu, Mas! Tidakkah seharusnya kamu ada dekat dengan ayahanda?"
"Ayahanda bertugas melindungi aliansi, Mika! Aku tidak mungkin mengganggu konsentrasinya. Kita punya tugas sendiri," jawab Pandji datar.
"Kamu bertugas melindungi dirimu sendiri, karena kamu pusat dari semua masalah saat ini," gumam Mika miris.
__ADS_1
"Aku melindungi semua yang berarti untukku, Mika! Bukan hanya diri pribadi." Pandji berbicara sambil mengulas segaris senyum tipis.
"Termasuk aku?"
"Kamu berarti untukku," jawab Pandji bosan. Dia tidak bermaksud merayu, tapi Mika terlanjur tidak mampu menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Aku tidak akan membiarkan Nergal atau siapapun menyentuh kulitmu selama aku masih berdiri," janji Mika lirih. "Karena untuk itulah aku lahir lagi ke dunia ini."
" … " Pandji memilih mendiamkan tekad Mika yang keras kepala.
Malam semakin menunjukkan keistimewaannya, memberikan kesempatan pada makhluk gaib lebih berkuasa daripada manusia biasa.
Hukum alam yang tidak bisa dipungkiri dari sejak zaman semesta diciptakan. Bahwa merekalah penguasa malam, dan berlaku sebaliknya untuk manusia yang lebih berjaya saat siang.
Untuk menundukkan aura malam, hanya manusia terpilih dan memiliki kesaktian yang bisa berdiri seimbang dengan kekuatan yang berasal dari dimensi tak kasat.
Pandji menatap langit, lalu menyorot tajam ke arah kubah sihir Nergal yang menyatu dengan gelapnya malam. "Aku tidak akan membiarkan pulau Jawa kembali ke zaman Sangkala, zaman dimana iblis berkuasa di atas tanah ini, tanah yang sudah dirajah di empat penjuru mata angin. Bukankah begitu, Damar … Asih?"
Pusaka penganten versi baru mewujud di depan Pandji dalam sekejap. Melayang di udara hingga Pandji mengambil dengan kedua tangan dan menggenggamnya erat.
"Sendiko dawuh, Mas Pandji." Dua suara terdengar dalam pikiran Pandji secara bersamaan.
__ADS_1
***