SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 156


__ADS_3

Pandji membolak balik oleh-oleh hasil buruan Damar Jati yang disebutnya sebagai 'makanan' paling istimewa di hutan hitam. Dia patut sedikit bersyukur karena Damar mengerti gaya makannya dengan tidak membawakan daging siluman.


Meski konon daging siluman sangat baik untuk kekuatan tubuh seorang ksatria, tapi Pandji tidak menganut dasar itu untuk memadatkan tulangnya. Pandji tetap saja menghindari makan sesuatu yang bergerak seperti makhluk hidup meski sedang berada di dunia lain.


Tiga jenis buah yang disodorkan Damar pada Pandji semuanya berwarna hitam kelam dan berenergi mistis khas kegelapan.


"Kombinasi tiga makanan itu akan membuat tulang Mas Pandji sepuluh kali lebih cepat menjadi padat," ucap Damar Jati dengan seringai mencurigakan.


"Apa ini, Damar?" Pandji mengambil satu buah hitam yang terasa sangat dingin di tangannya.


"Saya rasa namanya buah ceri," jawab Damar sambil menggaruk kepalanya. "Atau mungkin saja strawberry, atau buah kersen?"

__ADS_1


"Tidak ada yang berwarna hitam mistis begini dari yang kau sebutkan itu, Damar!" Pandji protes dengan jawaban tidak pasti dari roh pusakanya.


"Sedikit beda warna saya rasa tidak masalah, jenisnya tetap buah-buahan." Damar Jati menjawab dengan ekspresi jahil. "Mas Pandji tau sendiri kalau saya bukan tukang buah!"


"Kau tidak sedang bergurau? Ini bukan buah beracun atau busuk?" Pandji mengumpat pelan, lalu menatap lurus untuk mempelajari ekspresi Damar. Mencoba memakan satu buah berasap tipis berbentuk ceri hitam di tangannya.


Tidak disangka Pandji langsung melotot dengan mata berair dan muka merah seperti orang menahan pedas. Dia bahkan tidak mampu berkata-kata karena lidahnya dirasakan mulai meleleh.


Damar Jati tertawa kecil sebelum menjawab. "Saya tidak bilang kalau buah itu rasanya enak! Yang dinamakan buah surga di dunia kegelapan tidak persis sama rasanya dengan yang ada di dunia manusia. Tapi buah dan biji itulah yang menjadi sumber daya terbaik bagi para pangeran iblis yang sedang menimba ilmu bela diri dan sihir di sini!"


"Maaf, saya belum selesai menjelaskan tadi!" Damar Jati memasang wajah sedikit menyesal sebelum menjawab pertanyaan Pandji selanjutnya, "Tidak, hanya makanan yang berasal dari siluman yang membawa aura hitam pada manusia. Beberapa yang tidak mampu mengolah energi dan aura yang terbawa saat menyantapnya memiliki kecenderungan sifat seperti siluman tersebut."

__ADS_1


Damar Jati melirik Mika yang sedang memanggang ayam hutan tidak jauh dari Pandji duduk setelah selesai menjelaskan.


Mika yang sedang membakar daging siluman ayam menatap Pandji dengan ekspresi kasihan, tapi dia sama sekali tidak terkejut dengan penuturan Damar Jati. Pikirannya mengatakan bahwa apa yang nanti dimakannya tidak akan membawa pengaruh buruk pada tubuhnya.


"Mungkin kamu perlu mencoba ini, Mas! Rasanya sungguh berbeda dengan ayam bakar Wong Solo, ini lebih bercita rasa meskipun tanpa bumbu! Terima kasih untuk ide mengolah daging siluman ini, Damar!" Mika mencicipi hasil bakaran dengan rasa bangga, siap menyantap satu ayam besar itu sendirian.


"Aku tidak makan ayam dari jenis apapun, Mika!" jawab Pandji uring-uringan. Dia mendengus kesal melihat keberuntungan Mika, "Apa tidak ada yang lain, Damar? Tubuhku rasanya sakit semua setelah memakan ceri sialan yang kau bawakan ini!"


"Makan semuanya dan serap khasiatnya dengan tenaga dalam, Mas Pandji! Butuh kesabaran untuk mencerna buah-buah tersebut. Tapi setelahnya saya bisa jamin Mas Pandji akan merasa jauh lebih bugar dan berbeda!" ujar Damar Jati santai.


Roh pusaka Pandji hanya duduk mengamati sekitar. Semua masih seperti dulu, tidak ada siluman yang berani tinggal di area yang masih berbau auranya. Selubung gelapnya bahkan masih berfungsi meskipun sudah dibiarkan berlalu beberapa abad.

__ADS_1


Damar Jati tersenyum bangga meskipun pikirannya sedikit rumit.


***


__ADS_2