
Tidur hanya satu jam membuat mata Pandji serasa lengket saat di sekolah. Tidak ada satu pelajaran yang bisa diikuti dengan baik. Wajah tampannya sudah terlihat sangat bosan dan mulutnya tak berhenti menguap.
"Makan yuk!" ajak Elok saat jam istirahat terakhir tiba.
"Nggak selera, ngantuk." Tanpa peduli dengan teman kecilnya yang menunggunya sambil berdiri, Pandji meletakkan kepalanya di atas meja, bersandar dengan satu tangan sebagai bantal dan memejamkan mata.
"Pandji … istirahat pertama kamu tadi juga nggak keluar kelas, kamu kenapa sih?" tanya Elok curiga.
Pandji mengibaskan satu tangannya yang bebas dan bergumam rendah, "Belikan aku minum saja … aku mau tidur sebentar, hus! hus! sana!"
Mengerucutkan mulutnya, Elok yang berusaha memperbaiki hubungan dengan Pandji mengeluh pelan. "Ya udah aku juga nggak ke kantin, nanti pulang bareng ya?!"
Dengkuran halus menandakan kalau Elok tak perlu menunggu jawaban teman paling menyebalkan yang sudah lelap. Nafasnya teratur dan mata yang biasa menyoroti Elok dengan tajam sedang terpejam.
Pandji tak mampu menahan kantuk, bagaimanapun dia menahan tapi kesadarannya langsung diambil begitu Pandji memejamkan mata.
Bisikan yang didengar halus di telinganya seperti mantra sirep tanpa penangkal, Pandji jatuh dalam lelap terdalamnya dan dibawa pergi oleh seseorang yang tak dikenal dengan mengendarai naga hitam persis milik ayahnya.
Laki-laki gagah dengan baju zirah mewah kuno tersenyum hangat menyambut Pandji yang baru bisa membuka mata.
"Selamat datang, Cah bagus … Pandji putra Abisatya. Apa tidurmu nyenyak?"
__ADS_1
Pandji mengerjap dan menggosok matanya, menyeimbangkan cahaya yang masuk melalui retina dan akhirnya memutar bola mata mengamati tempat dimana dia berada.
Warna kuning orange mendominasi keadaan sekitar, Pandji tidak bisa paham … dalam ingatannya dia tidur jam dua belas siang saat istirahat. Tapi, kondisi sekeliling mengatakan kalau itu adalah waktu senja.
Pandji yang linglung mendongak mencari matahari yang membuat cahaya di atas bale-bale belakang rumah, dia menggeleng ringan tak percaya.
Tidak ada matahari sore, tidak ada bayangan rumah, tidak ada sesuatu yang bisa menunjukkan waktu … hanya ada warna senja yang ditemui di semua arah.
"Apa saya kesasar? Bagaimana Anda tau nama saya?" cerca Pandji dalam kebingungan yang mulai dikuasainya. Dia bergumam lirih, "Seharusnya saya sedang tidur di kelas!"
Pemuda tampan itu menyibakkan rambut, turun dari bale-bale dan berkeliling rumah memuaskan rasa penasaran pada tempat yang menurutnya asing.
Kembali ke tempat semula, Pandji akhirnya duduk bersila dengan sopan dan menunggu jawaban dari pertanyaan yang sudah dilontarkan.
"Mas Pandji masih penasaran? Mungkin ingin berkeliling ke rumah tetangga dulu?" tanya pria yang duduk tenang di kursi goyang.
Bercanda nih orang … tapi nggak ada salahnya pergi jalan-jalan nanti, siapa tau ada cewek manis yang bisa diajak kenalan hehehe.
"Iya, saya masih penasaran. Jika tidak keberatan Romo bisa menjawab pertanyaan saya yang pertama tadi, yang kedua saya ingin tau … sekarang jam berapa?"
Pandji memutuskan memanggil orang yang tak dikenalnya dengan sebutan Romo sesuai dengan penampilannya yang mirip ksatria bangsawan.
__ADS_1
Tersenyum lembut, pria di kursi goyang menjawab, "Tidak ada penunjuk waktu di tempat ini, Mas Pandji tidak sedang tersesat dan aku adalah salah satu leluhurmu!"
Pandji mengingat perjalanannya menunggang naga ke tempat itu, “Ksatria Ganendra?"
Pria itu mengangguk angkuh penuh wibawa, "Aku ada di urutan pertama dari 21 lanjaran trah Ganendra. Bapak dari semua lanjaran, termasuk ayahandamu!"
Pandji merasa benar memanggil pria itu dengan sebutan, "Romo Guru?"
Pria itu mengangguk setuju, karena memang begitulah semua keturunannya memanggil namanya.
Tanpa sungkan Pandji langsung melontarkan pertanyaan, “Naga yang membawa kita kesini? Tombak itu? Aku juga putra Ganendra kan, Romo Guru?”
“Ya.” Romo Guru tertawa kecil menghadapi Pandji, berbicara dengan tekanan dan menatap lurus mata pemuda penasaran yang sedang duduk bersila, “Mas Pandji lebih cocok dengan pasangan Damar-Asih, lupakan soal tombak dan naga yang ada di dalamnya!"
Pandji melipat wajah kecewa, "Jadi untuk apa saya dibawa kemari, Romo?"
"Belajar membaca, menggambar dan berhitung!" sahut Romo Guru santai seraya memberikan gulungan perkamen kuno ke arah Pandji.
Aku tidak menyangka jauh-jauh datang dari dunia nyata hanya diperlakukan seperti anak TK yang harus ikut program calistung!
***
__ADS_1