SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 50


__ADS_3

Arum sudah aman setelah ditangani oleh orang tua Pandji, tapi bukan hal itu yang membuat Pandji tetap risau. Kesepakatan yang dibuat dengan wanita iblislah yang mengganggu pikiran Pandji.


Dalam ruang keluarga rumah paman Candika yang mewah, ketegangan masih saja terasa. Ibunda Arum yang tak biasa dengan keadaan seperti itu terlihat sering bernafas panjang dan berat.


"Kenapa Mas Pandji membiarkan makhluk itu pergi? Kenapa tidak menghabisinya saja, dia pasti akan kembali datang!" tanya Ibunda Arum gelisah.


"Dia akan datang mencari Pandji, Tante. Arum insyaallah akan baik-baik saja," jawab Pandji tenang.


"Risa … apapun alasan Pandji kita harus menghargainya. Dia tidak ingin melihat Arum terluka fisik jika memaksakan diri menyerang. Selain itu, Pandji pasti punya pertimbangan lain." Ayah pandji memberikan alasan yang mudah diterima. "Betul begitu, Mas Pandji?" lanjutnya bertanya pada pemuda yang sibuk dengan pikirannya.


"Paman Candi pasti sudah memahami apa yang sedang terjadi, Ayah. Badrika dan Ayunda juga mengalami hal yang sama dengan Arum kan?"


Wajah ayah dan Ibunda Arum memucat, Pandji menebak dengan tepat apa yang dialami keluarga itu.


Raut Tante Risa yang sendu saat Pandji menanyakan Badrika yang sedang tidak ada di rumah, juga ketidakhadiran si bungsu Ayunda yang biasanya tak bisa jauh dari Ibundanya.


"Jika Pandji memaksakan diri untuk melawan iblis dalam tubuh Arum, dalam waktu bersamaan Iblis lain yang menguasai Badrika, Ayunda dan semua murid kesatrian Hargo Baratan berontak untuk mencabut nyawa inangnya," jelas Pandji dengan ekspresi rumit.

__ADS_1


Paman Candi dengan nada lelah menjawab, "Paman memang bodoh, tidak memperhitungkan akibat yang akan timbul saat melakukan perjanjian untuk mendapatkan sihir hitam itu.


Ambisi untuk mengangkat Hargo Baratan menjadi perguruan bela diri nomor satu yang berfokus pada sihir membuat Paman gelap mata.


Paman sudah mengorbankan banyak manusia … dan juga tiga anak yang tidak seharusnya ikut menanggung dosa.


Jika saja perjanjian itu bisa dibatalkan, akan Paman lakukan asalkan tidak ada korban jiwa."


"Sang Pemimpin adalah kuncinya …," gumam Ayahanda Pandji seraya memijat kepalanya.


"Benar, Mas! Saya juga berpikir jika bisa mengalahkan makhluk itu ... semua bisa kembali seperti sedia kala.


Saya salah sudah mengenalkan ambisi untuk menjadi yang terkuat dengan segala cara.


Tapi yang jadi masalah, wanita sialan itu entah dimana sekarang, dia menipu saya. Dia membawa Badrika bersamanya, tanpa kabar apapun. Janjinya hanya sampai empat puluh hari, tapi ini sudah lebih seminggu dari waktu yang dijanjikan.


Belum lagi kondisi Arum dan Ayunda yang makin parah. Saya bingung mau melampiaskan marah pada siapa!" Wajah Paman Candi memerah menahan emosi dan juga rasa frustasi.

__ADS_1


Wanita bercadar itu sengaja menjebak Paman Candi yang ambisius dan notabene dekat dengan ayahanda untuk memuluskan rencananya.


Pandji memejamkan mata, mengistirahatkan pikirannya yang kacau. Pertukaran dengan buku sihir miliknya tidak hanya boleh sebatas kebebasan Arum, tapi juga Badrika yang menghilang entah kemana. Masalah Ayunda bisa diatasi orang tuanya.


"Wanita yang Paman maksud itu memakai cadar dan datang di acara turnamen?" tanya Pandji monoton.


Menghembuskan nafas berat, Paman Candi menjawab, "Bukan, itu hanya salah satu tangan kanan yang mengawasi perkembangan pasukan di area Yogya, Solo."


Pandji mengernyitkan dahi, "Lalu wanita mana yang Paman bicarakan?"


"Paman hanya satu kali bertemu dengannya, dia datang dari Jawa Timur bersama wanita bercadar itu untuk membuat perjanjian. Sebagai jaminan keberhasilan, Badrika ikut bersamanya untuk berguru."


Gelisah yang dirasakan seorang Ayah membuat pria dengan aura hitam itu tampak sangat emosional. Kalimatnya bersambung, "Paman tidak bisa melihat aura keberadaan Badrika sejak seminggu lalu, benar-benar tidak seperti sebelumnya. Paman takut Badrika tidak kuat dan malah kehilangan nyawa."


Suara isakan Tante Risa terdengar lirih di telinga Pandji.


Badrika bukannya tidak kuat lalu mati sia-sia, perasaanku mengatakan sebaliknya. Badrika telah berhasil dan menjadi sempurna dengan ilmu hitamnya.

__ADS_1


***


__ADS_2