SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
SP 172


__ADS_3

Mpu Sapta seperti orang yang tidak melakukan apa-apa selain berkomat kamit tentang mantra yang tidak semua kalimatnya bisa didengar Mika. Gerakan Mpu Sapta pun hanya menghindar dari serangan iblis yang digiring Mika padanya dengan cara melompat-lompat, seperti kanguru berlarian, atau sesekali membuat tangkisan asal-asalan jika diperlukan.


Mika hanya bertugas mengirim beberapa mangsa secara berkala pada Mpu Sapta untuk ditundukkan, tidak bisa terlalu banyak karena pria tua itu tidak bisa bertarung dengan jumlah lawan lebih dari dua. Yah, meski sebenarnya sulit dikatakan kalau yang terlihat oleh Mika itu sebuah pertarungan, karena Mpu Sapta lebih cocok disebut sedang bermain-main dengan iblis yang menyerangnya.


"Jangan terlalu banyak, Cah ayu! Aku kewalahan memantrai mereka nantinya." Mpu Sapta mengingatkan Mika yang baru saja menggiring empat iblis agar masuk perangkap si pembuat pusaka.


"Kebablasan, Mpu!" timpal Mika dengan senyum bersalah.


"Kau membuatku sedikit kerepotan," kata Mpu Sapta terkekeh. Mulutnya kembali bergumam serius.


Namun, hasil yang diperoleh Mpu Sapta mulai terlihat jelas. Pembuat pusaka itu sama sekali tidak membual saat berbicara bisa membantu dengan keahliannya, karena nyatanya satu demi satu iblis yang kehilangan kesadaran di sekitarnya semakin banyak dan menumpuk seperti mayat tak berguna.


Mika mengamati sekilas gerakan Mpu Sapta yang lebih banyak menghindari benturan tenaga dalam, tapi aura yang dipancarkan tubuh renta tersebut benar-benar membuat iblis seperti kesulitan bergerak, terhipnotis dan tidak kuat mempertahankan kesadaran.


"Bagus, kau seharusnya memang manut (menurut), melawan hanya akan membuat aliran mana tubuh iblismu tersumbat," ujar Mpu Sapta dengan seringai menang melihat dua iblis menggelepar di depannya.

__ADS_1


Sementara Mika memilih mengayunkan belati untuk menembus jantung pasukan iblis yang menyerangnya, kalaupun itu hanya berbentuk luka di bagian lain tetap saja memberikan efek buruk bagi lawannya.


"Jujur saja Mpu … saya lebih suka menghabisi mereka daripada harus memeliharanya di dalam kandang yang bernama pusaka bertuah! Lebih merepotkan lagi jika harus memberi mereka makan agar tetap hidup dan bisa digunakan kekuatannya!" ujar Mika membuat pernyataan.


Mpu Sapta menimpali dengan senyum lebar, "Ah, kau naif sekali, Cah ayu! Kau bahkan tidak tau isi dari belati yang sedang kau gunakan sekarang! Itu bukan energi murni dari alam, ada sentuhan kegelapan di sana!"


"Yang jelas ini mungkin salah satu dari sekian banyak pusaka terbaik di negeri ini." Mika menjawab tidak peduli, selama belati itu memiliki keistimewaan dalam pertarungan melawan iblis … itu sudah lebih dari cukup bagi seorang Mika. Soal isinya setan pun, Mika enggan memikirkannya.


Tidak seperti Pandji yang beringas dan brutal memainkan pedangnya di tengah-tengah lautan iblis, Mika dan Mpu Sapta memang sengaja memilih lokasi di pinggiran area agar bisa leluasa membentuk pasukan iblis yang baru saja ditundukkan.


Kerjasama antara Mika dan Mpu Sapta memperdaya iblis yang datang menyerang benar-benar terlihat epik, kompak seperti kakek dan cucu.


Niat ingsun gugah doyo ... Siro tangio ingsun kongkon


Jim setan priprayangan ... Manut, manuto marang ingsun

__ADS_1


Tanpa menjawab atau bertanya mengenai mantra yang mampir tak sengaja di telinganya, Mika mempercepat ayunan dua belatinya untuk menjauhkan para iblis yang datang dari lingkaran Mpu Sapta.


Ekor mata Mika mendapatkan penglihatan kalau Mpu Sapta sudah duduk diam dalam semedi serius seperti sedang tidak berada di medan perang. Wajah tuanya terlihat sangat tenang dan hangat dengan mata terpejam rapat.


Tidak terlalu lama, mungkin hanya beberapa menit saja saat Mika menyadari iblis yang sebelumnya tergeletak tak berdaya mulai berdiri tegak satu persatu dan diam seperti patung hidup. Menunggu perintah dari Mpu Sapta dengan patuh.


Barisan iblis berjumlah tak kurang dari seratus orang itu akhirnya bergerak dan bertarung di sekitar Mika dan Mpu Sapta. Perintah telah dilantunkan lewat ajian kuno si pembuat pusaka untuk melawan balik pasukan para pangeran kegelapan yang tidak ada habisnya.


"Beri kakek tua ini waktu lagi, Cah ayu! Sekitar sepeminuman teh, dan aku akan menciptakan keajaiban lainnya," tantang Mpu Sapta sembari terkekeh pada gadis yang tidak bisa menyimpan rasa takjubnya.


"Baik, saya akan berjaga di sekitar Mpu!" Mika melirik ke arah pria tua yang berdiri tegak dengan mata terpejam dan mulut penuh gumaman mantra.


Para iblis yang sudah tunduk seketika membuat lingkaran untuk melindungi Mpu Sapta. Mika menganggap orang tua itu menjadi terlihat arogan karena berani bertaruh mempercayakan nyawanya pada ras iblis yang seharusnya menjadi musuh.


Tapi, tanpa mau mengganggu sedikitpun, Mika melanjutkan pertarungannya sendiri. Hatinya gundah melihat Pandji dikerumuni lautan iblis dengan berbagai rupa dan senjata. Meskipun Pandji masih bisa bergerak bebas dan mendominasi keadaan, tapi bukan mustahil dengan berjalannya waktu pemuda yang disayanginya itu akan lelah karena kehabisan tenaga.

__ADS_1


Mika menjadi sangat khawatir memikirkan itu semua.


***


__ADS_2