SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 77


__ADS_3

Dalam waktu beberapa menit, dua pedang Pandji yang menyala merah biru menderu dan sudah memangsa setengah dari jumlah maroz yang mengepungnya.


Lolongan demi lolongan mengisi sunyi malam, cairan hitam membanjiri tanah, suara debam jatuh dan letusan karena benturan energi sama sekali tak mengganggu konsentrasi Pandji.


Tak peduli berapa banyak makhluk buas yang datang menerkam, tetap tak ada yang mampu menghentikan tebasan Pandji.


Jelas sekali kalau para maroz tak punya cukup kekuatan untuk menumbangkan Pandji, tapi mereka tetap mengorbankan diri untuk mencari keberuntungan.


Layaknya pasukan kehilangan pemimpin, mereka bertarung tanpa kendali dan penuh emosi. Mereka seperti makhluk yang sudah dicuci otaknya untuk mengabdi pada Sang Pemimpin sampai mati.


Harus Pandji akui, jumlah yang banyak memang memang sedikit merepotkan. Tapi, di satu sisi menjadi sebuah kesempatan bagi Pandji mengurangi populasi mereka.


Memperkecil kemungkinan iblis untuk mendapatkan lebih banyak tubuh manusia.


Dua cahaya yang berasal dari pusaka penganten kembali berkelebat, membelah salah satu maroz dari kepala hingga dada dan memotong kaki depan yang sedang berusaha menancapkan kuku panjangnya pada wajah Pandji.


Dengan ekspresi dingin Pandji berseru, "Maaf kawan … itu karena tindakanmu sangat tidak sopan!"


Tebasan berikutnya, satu makhluk kembali terpotong menjadi tiga bagian, cairan hitam yang keluar dari bekas lukanya bahkan sampai menyiram badan Pandji.

__ADS_1


Terbatuk perlahan, Pandji bergumam, "Baumu sungguh busuk seperti bangkai tikus!"


Dibantu barion hitam yang ikut mengamuk dan memutus anggota tubuh maroz dalam satu gigitan membuat pertarungan Pandji sedikit lebih ringan.


Namun, semua gerakan hewan gaib berbentuk serigala mendadak berhenti saat Pandji baru saja mencabut pedang merah yang menusuk maroz paling besar.


Suara lengkingan nyaring menusuk gendang telinga, seperti peluit rusak yang ditiup sekuat tenaga. Seluruh kawanan yang tersisa mundur satu langkah dan riuh melolong dengan kepala mendongak.


Kabut hitam muncul mendadak dan menghilangkan mereka semua dari hadapan Pandji. Hanya tersisa Ratna yang masih tergeletak tak sadar di atas tanah berkelambu barrier pelindung berwarna hijau kebiruan.


Pandji mengeluh, “Kenapa mereka selalu saja melarikan diri? Siapa yang ada di belakang mereka, kenapa aku tak merasakan aura kehadirannya?!”


Apa kutinggalkan saja dia di sini? Nanti juga bangun sendiri ….


GROAR!!!


Barion hitam mengaum kesal, tampak kecewa melihat ekspresi konyol Pandji saat mengambil keputusan.


Pandji menyeringai, mengusap moncong hewan hitam itu dengan sayang. "Aku tidak bisa terbang, Sobat! Jadi bagaimana aku bisa membawa Ratna naik ke kamarnya?"

__ADS_1


Setelah menjilat beberapa kali tangan Pandji, barion jinaknya merendahkan punggung. Memberikan isyarat agar Pandji membawa Ratna naik ke atas hewan gaib itu.


Pandji menghembuskan nafas berat, pikirannya rumit jika harus menggendong Ratna dalam pakaian tidur yang cukup membentuk tonjolan bagian depan dan belakang tubuh calon tunangannya itu.


Memejamkan mata sebentar, Pandji tersenyum miring saat mengangkat tubuh Ratna seperti seorang putri dan menunggangi barion.


Dalam satu kali lompatan, barion yang membawa Pandji sudah berada di balkon kamar ratna. Pandji membawa Ratna masuk dan membaringkan di atas tempat tidur.


Sebelum keluar kamar, Pandji membacakan mantra tidur agar Ratna tetap beristirahat sampai pagi.


Menunggang barionnya, Pandji kembali turun, membuat beberapa heksagram di sekeliling rumah Ratna dan juga memasang barrier pelindung.


Pandji memacu hewan gaibnya melintas hutan gelap untuk kembali ke rumahnya setelah memastikan situasi dan kondisi tempat tinggal Ratna aman dan terkendali.


Bulan masih tampak redup, aura gelap juga masih menggantung di angkasa di atas wilayah Yogya. Pandji memejamkan mata di kamar dalam posisi duduk lotus setelah membersihkan diri.


Meditasi untuk mengatur jalur energi yang kacau dalam tubuhnya agar kembali normal.


***

__ADS_1


__ADS_2