SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 140


__ADS_3

Mas Gun menggerutu kesal pada teman-teman paranormalnya yang dianggap kurang kompak saat melawan Ayah Pandji. Laki-laki dengan perawakan awet muda yang biasa dipanggil Al itu masih belum mendapatkan luka berarti meskipun dikeroyok beramai-ramai.


"Mungkin dia punya ilmu kebal, Gun!" bisik Manto dengan keris yang hampir lepas dari tangan setelah terjadi benturan hebat dengan trisula Al.


"Tidak mungkin! Andara mengatakan keluarga mereka tidak ada yang memiliki ilmu kebal, mereka pengguna sihir putih warisan leluhurnya!" Mas Gun memberi keterangan singkat sambil menunggu giliran menyerang.


"Istrimu itu … maksudku almarhum Andara sebenarnya tidak salah pilih jika dulu bersama pria ini, dia benar-benar tidak bisa dianggap remeh! Dia sendirian dan kita bertujuh tapi kita masih belum bisa membuatnya berdarah-darah." Manto berdecak kagum tanpa memikirkan perasaan pria tua di sebelahnya.


Mas Gun melotot pada temannya yang sedang memuji Ayah Pandji, "Apa maksudmu? Kau berniat menjadi penghianat? Ingat, kau sudah menerima kekayaan dari kerjasama ini! Kau juga berjanji akan bertarung bersamaku sampai mati."


"Aku tidak mungkin menghianatimu, Gun! Aku hanya sedikit mengungkapkan fakta tentang masa lalu almarhum istrimu. Aku tetap mendukungmu untuk mengembalikan kejayaan Pak Karman!" jawab Manto merendah, matanya sama sekali tak lepas dari pertarungan di depannya.


BLAR!!!


Mas Gun, Manto dan empat orang paranormal lain spontan mundur karena tekanan udara yang sangat keras menghempas mereka. Adu pusaka baru saja terjadi antara trisula Ayah Pandji dan keris kecil milik Ginanjar.

__ADS_1


Ayah Pandji berhasil mendaratkan tangannya di leher Ginanjar setelah menjatuhkan keris kecil yang tidak mampu menahan laju tusukan trisulanya. Al menyeret Ginanjar ke udara bersamanya dan mengeratkan genggamannya, memastikan leher Ginanjar tidak lepas dari cengkeraman maut tangannya.


Ginanjar melepaskan beberapa pukulan tangan kosong ke tubuh pria yang membawanya ke udara, tapi Ayah Pandji tidak bergeming sama sekali, hingga pukulan itu akhirnya semakin melemah dengan sendirinya. Ginanjar lemas karena tidak ada pasokan udara yang masuk ke dalam paru-parunya.


Dengan tangan yang masih mencekik kuat, Ayah Pandji kembali turun ke tanah dan membanting Ginanjar hingga kepalanya membentur tanah dengan keras. Suara patah tulang leher menandakan berakhirnya riwayat salah satu dukun kesohor yang sudah berumur itu. Ginanjar berpulang dengan mata melotot dan lidah menjulur.


"Kau membunuhnya!" seru Mas Gun dengan marah yang berkobar-kobar. Raut wajahnya memburuk seketika melihat kematian temannya. Mas Gun menerjang dengan keris berselubung awan hitam yang menghunus tajam di depan mata Ayah Pandji.


Serangan tapak dilancarkan setelah keris Mas Gun beradu dengan trisula Ayah Pandji. Mas Gun kembali merangsek sesaat setelah meninggalkan jasad tanpa nyawa paranormal yang mati di tangan Ayah Pandji, mengabaikan dadanya yang sakit karena pukulan tapak.


"Aku tidak akan pernah melepaskan orang yang telah membunuh Andara! Aku akan membunuh putramu dan wanita penyihir yang selalu mengikutinya!" Mas Gun terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar dari mulutnya sambil mengatur nafas, dadanya hampir meledak sekarang, tangan Ayah Pandji sepertinya hanya mendarat ringan tapi efek yang ditimbulkan lumayan menyengsarakan.


Ayah Pandji berusaha mendapatkan keseimbangan tubuh secepatnya, menyambut serangan dua paranormal yang bergerak karena Mas Gun sempoyongan.


"Aku rasa kau hanya cemburu padaku, lagi pula kau juga terlalu tua untuk Andara. Aku sangsi apa kau masih bisa menyenangkannya di tempat tidur! Kau tidak punya anak dengan wanita itu kan?" Ayah Pandji menjawab lantang, tidak memperdulikan ancaman lawan hingga membuat Mas Gun semakin merah padam.

__ADS_1


“Kau … benar-benar arogan, aku akan membunuhmu sekarang juga!" pekik Mas Gun tak kalah lantang. Melupakan kondisinya yang kepayahan demi untuk membalaskan dendam.


"Kalau begitu mari bicara sambil bertarung! Jujur saja aku sedang sibuk dengan dua temanmu ini." Ayah Pandji melancarkan serangan balasan setelah menghindari tusukan keris pada wajahnya dan menangkis sabetan keris lain pada perutnya.


Ayah Pandji tidak memberi kesempatan dua orang di depannya untuk menghindar, dia terus mempersempit jarak dan bertukar serangan dengan cepat. Lebih muda dan kuat secara fisik membuatnya sedikit lebih untung daripada tujuh paranormal yang mengeroyoknya.


Nafas mereka mulai tidak teratur karena lelah setelah bertempur cukup lama. Serangan mereka juga sudah tidak sesempurna di awal pertarungan, dan karena itulah Ayah Pandji mampu mencabut nyawa keduanya tidak lama setelah satu goresan panjang dia dapatkan di lengan kirinya.


"Hahaha … ternyata kau bisa juga terluka," ejek Mas Gun kasar menutupi rasa terkejut karena kematian dua temannya yang terbilang mengenaskan. Dia menyeringai sinis setelah melepaskan serangan yang mendorong mundur Ayah Pandji beberapa langkah.


Ayah Pandji tersenyum tipis melihat darah yang menetes ke ujung jarinya, “Hanya luka kecil, kau tak perlu mengkhawatirkanku, Pak Tua! Sebaiknya kau pikirkan nasibmu saja, karena sepertinya aku tidak ingin berlama-lama denganmu dan tiga dukun itu! Kalian bisa maju bersamaan!"


***


...Happy weekend ... maaf cm 1 bab, kalau masih kangen sama aksi Lanjaran ke-21 besok saya update lanjutannya. Thanks dukungannya. ...

__ADS_1


...Cium jauh - Al...


__ADS_2