SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 137


__ADS_3

Nergal mendengus kesal saat Pandji mematahkan satu serangan besarnya. Pedang panjang yang digenggam erat Dirga bergetar setelah beradu dengan ketajaman bilah Damar Jati.


Iblis dalam tubuh manusia itu hampir mengumpat marah tak terkendali, pedangnya yang merupakan pusaka dalam kategori terbaik tidak mampu menahan Damar Jati. Bekas gores dan gumpil selebar rambut pada bilahnya membuat hati Nergal terluka.


"Sejujurnya aku tidak ingin terburu-buru dengan perang besar ini, tapi sepertinya kau sudah mengetahui rahasiaku dan berniat menghabisiku sedini mungkin." Nergal mundur satu langkah. Matanya beralih dari bilah pedangnya ke arah wajah Pandji yang sama sekali tidak bisa ditebak karena tanpa ekspresi.


Pandji mengayunkan pedangnya cepat dan mempersempit jarak pada salah satu panglima yang berniat mengambil jeda menghindar. Dia berbicara monoton pada Nergal dalam serangan mematikan. "Sejujurnya aku tidak peduli dengan rahasiamu, kau bisa membawanya ke neraka dan menyimpannya di sana!"


Panglima pasukan Nergal yang diburu Pandji bergerak terlalu sedikit untuk menghindari pedang merah Pandji, tak ayal bahunya terbelah dan satu tangan bersayapnya putus dengan dramatis. Raungan dari mulutnya menjadi pusat perhatian iblis yang bertempur tak jauh dari mereka. "Bocah sial … kau benar-benar manusia tidak beradab!"


Mengabaikan umpatan dan sumpah serapah lawannya yang kewalahan, Pandji menarik pedangnya. Lalu mengayunkan lebih cepat membentuk tebasan dan tusukan yang mengarah ke jantung panglima pasukan tersebut.


KRAK!!!

__ADS_1


Belum sempat menghindar, pedang biru Pandji dengan telak membabat melintang tubuh yang sedang terhuyung. Mengaburkan jeritan yang seharusnya keluar lantang. Erangan pendek mengantar panglima yang belum sepenuhnya sadar kalau dia sudah dikirim lebih dulu menuju alam baka.


Nergal menutupi rasa terkejutnya saat melihat serangan Pandji yang menurutnya terlalu cepat dan tak terduga. "Berapa banyak waktu yang kau butuhkan untuk mendapatkan kekuatan itu, bocah?"


Pandji berdecak pelan sambil membuat tebasan-tebasan panjang untuk satu panglima pasukan Nergal yang paling dekat dengannya. "Jadi sekarang kau penasaran dengan bakatku, hah?"


"Aku berniat menawarkan kesepakatan yang sangat menguntungkan mu, Pandji!" Nergal mencoba bernegosiasi. Dia berusaha membantu bawahannya dengan beberapa serangan balasan. "Bukankah itu namamu?"


Pandji mempercepat serangannya, menyabet kepala Nergal dengan garang. "Aku aku perlu memperkenalkan diri sekarang?"


Satu benturan dahsyat terjadi, angin yang keluar dari dua pedang yang beradu membuat tekanan besar di area Pandji dan Nergal bertarung. Kesempatan kecil yang tercipta karena Nergal melompat menghindari tebasan selanjutnya dimanfaatkan Pandji untuk menyerang salah satu panglima yang sedang tertegun seraya mengatur mana.


BRET!!!

__ADS_1


Tubuh panglima pasukan Nergal terbelah menjadi dua dan langsung hancur menjadi debu pekat yang hilang tersapu angin kencang dari sabetan pedang Pandji.


Nergal menggertakkan gigi gerahamnya, negosiasinya terjawab dengan kehilangan dua panglima. "Kau benar-benar bocah sialan, Pandji!"


"Jangan menahan diri, Nergal!" ujar Pandji menantang. Tidak ada acara mengulur waktu dalam rencananya.


"Aku memberi kesempatan berpikir padamu sekali lagi!"


Pandji menyeringai dingin, "Aku berpikir dengan pedang! Jadi jangan terlalu memaksakan diri untuk mengelabuhi ku, Nergal!"


Tanpa menunggu komentar Nergal, Pandji kembali menyerang dan mempersempit jarak dengan Nergal. Pusaka penganten menderu dan sesekali memijar menyilaukan ketika Pandji memompa mana agar masuk ke dalam pedangnya.


Malam masih sepertiga sebelum matahari terbit, pertempuran masih sengit dimana-mana. Semua sibuk dengan lawan yang ada di depan nya masing-masing, tidak sedikitpun pasukan aliansi yang bertarung di luar heksagram sihir. Semua sudah sesuai perintah dan pengaturan yang dibuat ayahanda Pandji.

__ADS_1


***


__ADS_2