
Pandji hanya tersenyum masam, di siang hari terik begini iblis pun tetap unjuk diri, tubuh manusia benar-benar menjadi pelindung sempurna baginya.
"Eh ya … selamat siang, Mbak e yang kapan hari iseng masuk mimpi saya?" tanya Pandji berkedip beberapa kali sebelum menyapa. Memastikan bahwa wajah cantik yang dilihatnya belum berubah menjadi kambing betina atau kampret betina.
Suara tawa melengking menggidikkan telinga, begitu mereda suara mesra berbisik di telinga Pandji, "Apa kau datang karenaku? Atau karena ilmu yang kutawarkan?"
"Bagaimana ini, Paman? Sebenarnya Pandji datang untuk apa?"
"Keluarkan iblis wanita itu dari tubuh Arum! Dia penuh tipu daya, Mas!" jawab Ayahanda Arum dengan nada kesal.
Pandji tertegun bingung, belum jelas dengan apa yang didengarnya. Paman Candika menyeret istrinya untuk menyingkir lebih jauh, begitu juga dengan kedua orang tua Pandji.
Di depan rumah yang berupa halaman cantik itu tersebar mana hitam membentuk kubah besar yang mengurung Pandji dan Arum.
"Kau dalam kuasaku, Cah bagus!"
What the hell? Bukankah aku seharusnya beristirahat di rumah, aku baru saja pulang dari rumah sakit dan harus mengurus makhluk ini?!
"Bisakah aku mengambil pedang lebih dulu?" tanya Pandji asal. Matanya menembus ke dalam tubuh Arum, mencari cara agar iblis yang menguasainya mau melepaskannya tanpa bertarung.
"Apa aku terlihat mengerikan? Kau sangat tidak sopan dengan wanita cantik sepertiku, Bocah!"
__ADS_1
Pandji tak memperdulikan ucapan wanita iblis yang mengambil tubuh arum, dia merapal mantra sihir segera karena panas matahari yang terik mendadak hilang. Berganti dengan mendung gelap dan angin kencang. Hawa sedingin es menyebar memenuhi kubah hitam.
"Aku bukan bermaksud tak sopan … aku hanya ingin membuat kesepakatan!"
"Wow! Jadi kau mulai tertarik dan belajar bernegosiasi sekarang. Biar aku tebak, kau akan memintaku melepaskan gadis ini dan menukar dengan dirimu, benar? Lalu kita akan berduel hidup dan mati? Niatmu mudah sekali dibaca, Cah bagus!"
Pandji menggaruk kepalanya, "Kesepakatan apa yang kau tawarkan? Tak mungkin kau hanya ingin memberikan aku ilmu tanpa misi. Memberikan dirimu tanpa tujuan, kau tak bisa menyembunyikan niat terselubung dengan kecantikan."
Arum mendongak dan melolong, "Mungkin sedikit kekerasan tak mengapa, aku sebenarnya tak ingin melukaimu. Tapi … sudahlah!"
Tubuh Arum bergetar seperti orang terkena sengatan listrik, matanya yang semula normal tampak lebih banyak berwarna putih. Kedua tangannya merentang terbuka, seiring dengan mulutnya yang merapal mantra, tiba-tiba angin dingin menyapu tubuh Pandji dengan keras.
Mana sihir meluap dari tubuh Pandji, memutar dan menggantung di atas kepalanya. Siap untuk diubah menjadi serangan balasan.
Memikirkan luka fisik yang mungkin saja akan diderita Arum, Pandji mengurungkan diri untuk membalas serangan. Dia berteriak dengan keras, "Aku bersedia menukar gadis itu dengan buku yang kau inginkan!"
Tiba-tiba badai angin dingin berhenti, awan yang menggantung di dalam kubah sedikit terkikis. Lengkingan tawa gembira terdengar membahana, "Kau memang pintar membaca situasi, Cah bagus."
“Lepaskan dia, aku jaminanmu!” kata Pandji tanpa ekspresi.
“Berikan buku itu sekarang!” gumam Arum. Tubuhnya sedikit bergetar dan matanya kembali normal.
__ADS_1
“Bukunya ada di rumah, kau boleh datang ke rumah dalam bentuk asli atau memakai jasad Arum! Aku akan memberikannya di sana!”
"Kau pasti menipuku!"
"Begini saja, silakan kau kuasai tubuh gadis bodoh itu aku tidak peduli. Dia tidak ada hubungan keluarga denganku, apapun yang sudah Paman Candi lakukan itu kesalahannya sendiri … jadi dia yang akan menanggung resiko kehilangan anaknya.
Tentang buku itu, kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya walaupun aku mungkin mati di tanganmu! Pertarungan ini tidak akan berguna dan tidak akan mengubah apapun!"
Pandji membalikkan badan dan hendak pergi meninggalkan Arum yang masih menimbang kata-katanya.
"Baiklah … aku setuju denganmu!" seru iblis dalam tubuh Arum penuh keraguan.
Menoleh melihat arum, sebaris kalimat datar keluar dari mulut Pandji, "Datanglah dan temui aku lima hari dari sekarang, tengah malam!"
Tubuh Arum mendesis dan menunduk dalam, asap hitam keluar dari lubang-lubang yang ada di kepalanya membentuk gumpalan hitam di atas kepala dan lenyap bersama hembusan angin.
Aura aneh menghilang bersama runtuhnya kubah hitam yang mengurung Pandji dan Arum.
Pandji dengan sigap menangkap tubuh Arum yang lemas dan hampir jatuh ke tanah karena kehilangan kesadaran.
***
__ADS_1