
"Pandji …," teriak salah satu orang remaja seusia Pandji yang berlari mendekat.
"Aswanta … apa yang kau lakukan di sini? Semua murid masuk ke dalam aula," kata Pandji tak senang. Teman sekelas yang duduk di sebelahnya justru muncul di saat yang paling tidak diinginkannya.
"Aku mencarimu di kelas tadi, aku juga ketinggalan masuk aula. Begitu di aula kamu tidak ada aku sengaja keluar lagi untuk menemukanmu." Aswanta terengah dan berusaha mengatur nafas.
Paru-paru Aswanta serasa kosong karena berlari menghindari kejaran siswa yang mendadak brutal, tapi dia tidak berhenti sebab belum melihat sahabatnya, Pandji.
"Pergilah ke aula, aku sedang tidak ingin diganggu!" Pandji mengedikkan kepala ke arah teman-teman yang mulai melolong karena mencium bau darahnya.
"Ya aku tau, aku tadi kucing-kucingan dengan mereka saat mencarimu."
"Jadi apalagi yang kau tunggu, Aswanta?" Pandji melebarkan mata dan mengeraskan suara saat bicara agar Aswanta segera enyah dari hadapannya.
"Aku di sini untuk membantumu, Sobat!" Sebuah cengiran yang dibenci Pandji muncul, bahkan Aswanta dengan percaya diri berdiri di depan Pandji untuk jadi perisai utama.
"Aswanta …," panggil Pandji setengah menahan kesal.
"Hm … apa?" jawab Aswanta tak sedikitpun menoleh. Matanya masih fokus ke arah datangnya bahaya.
"Apa kau sudah minum obat?"
Aswanta mendesis ringan, "Apa maksudmu, Pandji? Aku tidak gila!"
Pandji menonyor kepala temannya dari belakang, “Jika kau waras sebaiknya menyingkir dari depanku, jangan berlagak jadi pahlawan untukku!”
__ADS_1
“Aku memang bukan pemenang turnamen, tapi aku juga punya keahlian bertarung. Aku juga tidak tega jika wajah menyebalkanmu itu sampai tergores kuku mereka,” kilah Aswanta sok bijaksana.
“Sejak kapan kau begitu peduli padaku?”
“Sejak kau dirawat di rumah sakit dan aku tidak sempat menjengukmu!”
Pandji mengernyit, “Aku merasa ini bukan balas budi atau ungkapan rasa bersalah. Biar kutebak, kau melakukan ini untuk cari perhatian Prameswari kan?”
Aswanta tergelak tak percaya, “Kenapa tebakanmu tepat, Sobat?”
Pandji memaki Aswanta dengan banyak kalimat kotor karena saking kesalnya. Dia bergeser dan bersiap di samping Aswanta dengan ekspresi berantakan.
“Kau tak bersenjata?” tanya Pandji pada akhirnya.
Aswanta hanya mengepalkan kedua tangan dan bersiap dengan gaya tinju, “Aku ahli dalam pertarungan tangan kosong!”
Matahari berada di atas kepala saat teman-teman Pandji yang dikuasai iblis menyeringai, berdiri membentuk formasi lingkaran dan menempatkan Pandji dan Aswanta di tengah kawanan.
Aura gelap semakin pekat, geraman teman-teman Pandji yang siap menerjang terdengar menggidikkan. Mata-mata yang hampir kehilangan cahaya kehidupan menyoroti Pandji dengan garang.
Merasa terkepung, dengan konyol Aswanta berpindah tempat. Dia mengambil posisi beradu punggung dengan Pandji.
Baru saja membenahi posisi, satu siswa melolong dan langsung menerjang ke arah Aswanta yang menyambutnya dengan gaya tinju bebas.
"Pandji … bisakah kau pinjamkan aku satu pedangmu?"
__ADS_1
"Tidak! Kau akan membunuh teman-teman kita tanpa sengaja jika menggunakan senjata ini," sahut Pandji tak peduli. "Lagian jika kau mati, aku yang akan mendapatkan Prameswari!"
Aswanta melayangkan tinju ke rahang temannya yang sudah hilang kendali, tinju yang tak ada artinya sama sekali. Jangankan jatuh terpelanting seperti harapan Aswanta, bergeser satu inchi saja tidak. "Kaparat ini …!"
"Jangan menyesal begitu … kau bilang ingin membantuku!" seru Pandji seraya menghindari terjangan di depannya. Menjegal kaki siswa yang hampir mencakarnya dan menghadiahi gagang pedang pada leher temannya itu.
Suara debam terdengar lirih saat siswa yang dihantam Pandji jatuh tersungkur dan pingsan. Seperti waktu di kelas, sebelum makhluk yang merasuki temannya pergi, Pandji membakarnya dengan membabatkan Asih Jati.
"Pandji … please, sampaikan ke Prameswari aku menyukainya sejak dulu. Andai aku tak selamat …." Aswanta melantur karena beberapa kali tinju dan tendangannya tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Wajah Aswanta mulai berdarah dan ada lebam karena beberapa serangan yang tak mampu dihindarinya, sementara Pandji masih serius dengan beberapa teman yang mulai sadar setelah makhluk yang menguasai pergi meninggalkan tubuh mereka.
“Bisa kau sampaikan sendiri kalau kalian nanti bertemu di alam baka,” sinis Pandji tanpa mengubah nada suara. Dia masih mendengar Aswanta menyumpahinya.
Pandji bergerak cepat, menggunakan kaki untuk menjatuhkan lawan dan membuatnya pingsan dengan gagang pedang. Menghabisi makhluk yang mencuri kesempatan untuk pergi menggunakan kesaktian pusaka penganten.
Di luar barrier sihir milik Pandji yang masih menyala hijau kebiruan, sepasang mata mengawasi dengan sorot tajam.
Taring yang keluar dari mulut membentuk seringai mengerikan, liurnya menetes karena bau darah pemuda yang sedang bergerak lincah menghabisi pasukan iblisnya.
Umpan rendahan yang diberikan kepada pemuda tampan itu dimakan dengan baik.
Untuk sebuah kemenangan besar, pengorbanan memang diperlukan, itu yang ada di pikiran makhluk buruk rupa yang ingin jadi penguasa dunia.
Tak ada salahnya mempelajari kekuatannya mengingat tubuh itu yang paling sempurna untukku!
__ADS_1
***