
Suara gelegar menggetarkan angkasa, memecah keheningan malam yang sebelumnya terasa mencekam. Menciutkan nyali karena cahayanya yang terang seperti aliran lava merah membelah langit.
Benar-benar pemandangan indah yang tidak mungkin bisa ditemui setiap hari.
Selanjutnya, petir besar pecah menjadi ratusan cahaya kecil, dan badai petir menyambar bumi tepat di lokasi yang dipenuhi oleh pasukan iblis.
Raungan marah dan jerit kesakitan memenuhi kesunyian, lolongan demi lolongan meramaikan suasana perang. Abu hitam bertebaran dan menghilang dalam kehampaan di tengah pasukan yang mulai kocar kacir karena kejutan tak disangka jatuh di antara kesiapan mereka.
BLAR!!!
Malam kembali terang benderang dalam sekejap. Satu petir biru turun dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, lalu menghantam kepala salah satu panglima pasukan Nergal. Mengubahnya menjadi asap yang kemudian menyatu dengan malam.
"Bocah sialan …." Suara gemeretak gigi dari mulut Mas Gun terdengar keras, menyumpahi anak muda yang masih fokus mengolah mana sihir dalam tubuhnya.
BLAR!!!
"Yang Mulia Nergal?!" pekik salah satu panglima pasukan yang tidak sempat selamat setelah tersambar petir biru milik Pandji.
Dua panglima Nergal hancur menjadi debu di depan matanya yang menatap dingin ke arah luar. Tidak ada reaksi apapun dari pangeran iblis yang berada dalam tubuh putra Mas Gun tersebut.
Mulut Nergal masih terkunci rapat meskipun panglima pasukan yang tersisa serentak meminta aba-aba untuk mulai berburu.
Tidak satupun yang bisa memastikan sudah berapa lama waktu berlalu dalam suasana ngeri karena badai petir bertubi-tubi menghujani pasukan mereka, sampai akhirnya Nergal yang bersemayam dalam tubuh Dirga menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Siapkan seluruh pasukan sekarang, kita akan menyerang mereka dengan kekuatan penuh!" Nergal berkata pelan setelah matanya selesai mengamati jumlah mana sihir Pandji yang tersisa setelah membuang kekuatannya untuk menciptakan keajaiban.
Nergal sudah bertaruh banyak dengan membiarkan pasukannya mati sebelum melawan. Namun, pilihan Nergal dengan sejumlah perhitungan. Dia sengaja menguras mana sihir Pandji agar lebih mudah saat menghadapinya.
Toh sisa pasukannya masih jauh lebih banyak untuk menghabisi manusia yang berkumpul di belakang sosok pemuda yang sudah menghunus dua pedang hitamnya.
Ekspresi Mika yang berdiri di samping Pandji memburuk saat menyaksikan pasukan manusia Nergal mulai bergerak. Keyakinan Mika pada kekuatan aliansi tidak banyak membantu menenangkan hatinya.
Pada kenyataannya memang sulit untuk bisa tetap tenang ketika melihat jumlah pasukan iblis yang dipimpin Nergal, bahkan orang-orang sakti yang sudah berumur dan berpengalaman dalam kesatrian pun merasa gugup.
"Aku rasa kamu perlu relaksasi, Mika! Kamu terlalu banyak berpikir negatif." Pandji yang masih berdiri di samping Mika tertawa pelan, dia mungkin jadi satu-satunya orang yang masih bisa tertawa dalam situasi demikian.
"Aku ingin tahu berapa persen kemungkinan kita bisa membuat keadaan lebih menenangkan hatiku. Bukan berarti aku takut, tapi berbicara peluang menang mungkin akan membuat keadaan jadi lebih baik."
" … " Masalahnya Mika tidak yakin kalau aliansi yang dipimpin ayahanda Pandji bisa melakukan hal itu.
Ucapan Pandji sekarang mulai membuatnya sakit kepala, dia menyesal kenapa tadi harus membahas sebuah kemungkinan yang terasa tidak mungkin.
"Tidak ada yang mustahil, Mika! Jaga dirimu … sadarkan sebanyak mungkin penduduk desa yang kerasukan iblis, aku akan menghadapi Nergal dan menahan sebanyak mungkin iblis yang memiliki kekuatan tinggi!"
Jika aliansi tetap bertempur sesuai dengan pengaturan, harapan menang tetap ada meskipun tipis. Ayahanda Pandji dan beberapa tetua kesatrian bersedia mengurus tujuh paranormal yang ada di belakang Nergal. Sementara sisanya menjadi tugas Aswanta dan seluruh pasukan yang tergabung dalam aliansi.
Mana sihir Pandji meruap di sekitarnya, bercampur dengan mana kegelapan yang memenuhi udara di depannya.
__ADS_1
Satu sosok yang dicari Pandji melesat dengan pedang terhunus padanya. Memimpin pasukan yang datang bagai bayangan hitam dalam pekatnya malam.
TRANG!!! TRANG!!!
Nergal mengayunkan pedang di antara pasukannya yang menyerbu dengan ganas. Dan suara logam berdentang nyaring meramaikan malam. Perang telah berkobar sengit, dua kubu saling memangsa dan berusaha menjatuhkan lawan secepat yang mereka bisa.
Pandji tidak hanya menghadapi Nergal, tapi juga tiga panglimanya yang secara bersamaan menghunuskan senjata padanya.
KLANG!!!
Pertarungan tidak akan mudah untuk Pandji, tapi pusaka penganten dalam genggaman Pandji seperti memberikan janji bahwa Damar Asih mampu mengakhiri empat iblis yang sedang gencar menyerang.
Damar Jati dan istrinya menyala dengan aura paling angker di antara semua pusaka yang dipakai oleh para ksatria.
Mika yang mengamati situasi Pandji ikut merasa frustasi, dia sedang disibukkan oleh penduduk desa yang harus segera disadarkannya. Hatinya berdoa tulus agar Pandji memiliki keberuntungan yang bagus, karena jika berakhir buruk … mungkin tidak akan ada tempat aman lagi untuk pasukan aliansi putih berdiri.
Sulit untuk menggambarkan perasaan Mika saat melihat Pandji menghadapi Nergal dan tiga iblis lainnya. Kedua tangannya gatal ingin ikut membantu pemuda yang harus dilindungi dengan nyawanya, tapi penduduk desa adalah prioritas yang diperintahkan Pandji untuk diurusnya.
Berada dalam dilema besar, Mika mempercepat ayunan dua belatinya dan mengambil semua kesempatan yang ada untuk mengikis waktu menghadapi pasukan manusia Nergal.
Mika hanya ingin ada diantara Pandji dan Nergal. Bertarung bersama hingga takdir berbicara padanya.
***
__ADS_1