
Tangan Pandji iseng menyentuh pipi Mika dan menepuk-nepuk perlahan, "Hei, kamu tidur terlalu lama, Mika … bangunlah!"
Mika membuka mata bersama hilangnya tirai gaib yang menjadi penghalang antara Pandji dan keluarganya. Reflek tangannya menyingkirkan tangan Pandji yang masih menempel di pipinya.
"Bukankah seharusnya aku ikut membacanya?" tunjuk Mika pada buku yang sudah tertutup dengan sendirinya. "Kenapa kamu biarkan aku tidur, Pandji?"
"Bukan salahku, Mika. Aku tidak tahu kalau kamu tidur saat aku membacanya, mungkin terkena sirep," bual Pandji kalem.
"Hah? Jangan kebiasaan membohongiku, Pandji! Mana ada sirep bisa masuk ke ruangan ini, apalagi ada ayahanda!" Mika menarik buku ke hadapannya dan membuka beberapa lembar. "Kosong? Yang benar saja?!"
Wajah Mika berubah-ubah, dari kesal, marah dan kecewa.
"Lebih baik kamu belajar membaca dan menulis aksara kawi mulai sekarang, jadi saat kitab itu bisa dibaca lagi bulan depan … tidak akan ada kesulitan saat menerjemahkannya!" tutur Pandji lembut.
Bukan Pandji kalau tidak memiliki banyak alasan, daripada repot-repot membacakan kitab untuk dua wanita bulan depan … lebih baik cari aman dengan menyuruh Mika belajar agar nanti gadis di depannya itu bisa membimbing adiknya juga, Giandra.
Melihat ekspresi Pandji yang cenderung tidak peduli, Mika mengeluh jengkel, "Kenapa harus ada kitab yang hanya bisa dibaca pada hari tertentu? Bukankah ide yang membuatnya cukup sinting?"
Pandji hanya mengedikkan bahu, membereskan buku kusam dan perkamen penanggalan dengan acuh. "Anggap saja penyihir itu memang sedikit kurang waras, walaupun harus aku akui sihir ciptaannya sangat mengerikan!"
Ayahanda Pandji yang menyimak obrolan putranya ikut bertanya untuk memastikan. "Jadi wanita itu benar-benar datang?"
"Maksud ayah penyihir pemilik buku?" tanya Pandji pelan, tidak ingin didengar yang lain.
__ADS_1
"Hm … dia benar-benar mengunci keberadaannya, bahkan dariku!"
Pandji sedikit terkejut, "Lalu bagaimana ayah tau kalau penyihir itu akan hadir saat aku membuka buku miliknya?"
"Dia datang lewat mimpi, hanya satu kali … tanpa wujud! Dia mengirimkan suara untuk memberitahukan kemungkinan dia akan mengunjungimu secara khusus," terang Ayah Pandji datar. "Apa dia cantik? Maksud ayah suaranya sangat menarik saat bicara!"
Pandji menaikkan kedua alis dan menatap ayahnya yang tampan dengan pandangan geregetan. "Dia penyihir, Ayah! Mau suaranya dibuat manis atau dibikin seperti ayam berkotek juga bisa."
"Apa kau melihat wajahnya?"
Sebenarnya apa yang pria ini pikirkan? Apa Ibunda kurang cantik?
Pandji menggeleng jengkel, "Tidak, dia memakai tubuh Mika. Ohya apa ayah mendengar apa saja yang tadi dibicarakannya? Pandji merasa pusing dengan banyaknya penjelasan yang disampaikannya!"
"Tidak, mungkin dia memang hanya ingin bertemu dan bicara hal penting pada Mas Pandji!"
"Hm … apalagi?"
"Bisakah kita membahas ini hanya berdua saja, Ayah? Pandji tidak mau Ibunda dan Oma khawatir," kata Pandji memohon dengan suara lirih.
"Kita ke ruang kerja ayah kalau begitu!" Pria dengan wajah tenang dan senyum tipis itu berbisik pelan sebelum meninggalkan ruangan. "Percayalah, ibundamu tetap yang tercantik, Mas Pandji!"
Pandji menyeringai pada ayahnya, lalu mengangguk samar. Dia mendekati ibundanya. "Pandji ada perlu sama ayah, Ibunda ajak Oma istirahat lebih dulu aja!"
__ADS_1
"Mas Pandji menyimpan sesuatu dan ingin ibunda tidak tahu? Urusan laki-laki?"
"Ehm … bukan begitu, ini cuma soal pusaka dan rencana bisnis Pandji, Ibunda! Sumpah!" jawab Pandji dengan wajah meyakinkan dan memperkuat ekspresi dengan tidak berkedip.
"Pandji?!" tegur ibundanya lembut. "Wajah itu tidak bisa membohongi Ibunda!"
"Oke … oke, Ibunda boleh ikut!" ujar Pandji bersungut-sungut. Semua usaha untuk mengelabuhi wanita yang melahirkannya itu belum pernah berhasil.
"Oma nggak boleh ikut?" tanya Oma Pandji menekan, tak mau kalah dengan ibundanya. Penuh aura intimidasi.
Pandji hanya bisa mengangguk lesu, "Boleh, Oma!"
"Bagaimana denganku?" Mika cengengesan di depan wanita-wanita yang kehadirannya tidak bisa ditolak Pandji. Mencoba peruntungannya.
Pandji mendelik, tidak mentolerir sedikitpun permintaan Mika. "Tidak!"
"Mas Pandji?!" tanya Ibunda Selia tak yakin. "Mika sudah lama di sini, kalian juga berjuang bersama. Dia bukan orang lain!"
"Iya, iya semua boleh ikut!"
Kalau tau begini ngapain repot-repot pindah tempat ke ruang kerja ayah?!
***
__ADS_1
...Happy nice weekend teman-teman!...
...Jangan lupa dating, mumpung masih musim hujan!...