
Waktu subuh baru saja berlalu, salah satu abdi dalem kepercayaan keluarga datang mengetuk pintu ruang penyembuhan.
Pandji membuka pintu, menemukan Ibunya Atika berdiri dengan gugup. "Mas Pandji, sampaikan ke Ayahanda, ada mobil keluarga Den Bagus Candika di halaman depan. Sopirnya membawa Ibu Risa, sepertinya sakit dan tidak sadarkan diri."
"Suruh bawa masuk ke ruangan ini, Mbak Nur!" Suara Ibunda Pandji terdengar lembut menyembunyikan rasa tegangnya.
Pandji kembali masuk ke dalam ruangan setelah abdi dalem meninggalkan kamar khusus itu. "Sepertinya ada keadaan darurat, Ibunda!"
"Selama masih ada nafas, selemah apapun dan seberat apapun lukanya … masih ada kesempatan untuk sembuh." Ibunda Pandji berbicara seraya menyiapkan tempat untuk Risa.
Beberapa ramuan rempah racikan Ibunda pandji yang berada dalam wadah-wadah kecil dibuka dan disiapkan. Ibunda Pandji tak berhenti merapal doa dan mantra penyembuhan untuk pasien yang akan ditanganinya.
Meski tidak terlalu lebar, tempat tidur dari batu itu bisa dipakai untuk dua orang. Ketegangan sedikit naik saat tubuh Ibunda Badrika dibawa masuk ke dalam ruangan.
Aura gelap yang tertinggal di dalam tubuh wanita bernama Risa itu menyebar ke udara dan memenuhi ruangan.
"Hati-hati dengan sisa energi gelap yang masih menyala dalam tubuh Risa, Diajeng!" ucap Ayah Pandji mengingatkan.
__ADS_1
Senyum manis Ibunda Pandji mengembang, "Aku mengerti, Kangmas. Percayalah padaku!"
"Mas Pandji keluar dulu ya! Ibunda mau melepas baju tante Risa," perintah Ibunda Pandji mulai tergesa setelah menyentuh tubuh Ibunda Badrika yang sedang sekarat.
"Aku juga keluar, Diajeng? Risa … temanku!" tanya Ayah Pandji menyeringai miring.
Ibunda Pandji merasa tidak perlu menjelaskan, dia hanya menaikkan kedua alis dan mengedikkan kepala ke arah pintu. Mengusir suaminya yang sedikit tidak tau diri dan juga putranya yang penasaran dalam level tertinggi.
Ayah dan anak keluar dengan ekspresi yang tak tertebak, mungkin hanya kaum laki-laki yang bisa memahami isi kepala dua orang itu.
"Bagaimana bisa Badrika melukai Ibunya sendiri, Ayah?"
"Apa Badrika masih bisa diselamatkan, Ayah?"
Wajah Ayahanda Pandji berubah sendu, "Mungkin bisa … mungkin juga tidak!"
"Apa kita berhak mencabut nyawa badrika jika berhadapan dengannya, mengingat Paman Candika masih berharap putranya itu sembuh," tanya Pandji menatap lurus mata Ayahnya.
__ADS_1
"Situasi yang akan menentukan, jika keberadaannya adalah sebuah ancaman untuk kelangsungan hidup manusia … Ayah rasa melenyapkannya adalah pilihan utama. Karena sebenarnya kita sedang berhadapan dengan ras iblis yang mencoba hidup dalam dunia nyata," jawab Ayah Pandji datar.
Dimensi terbagi menjadi dua, nyata dan maya. Ibarat sebuah cermin dengan dua ruang yang berbeda, berdampingan tapi memiliki batas yang seharusnya tidak bisa ditembus.
Manusia sebagai ras mortal yang hidup di dunia nyata dengan angkuh menciptakan ilmu untuk melintas dimensi dengan cara menembus batas, sebaliknya ras iblis yang menempati ruang maya juga melakukan hal yang sama.
"Iblis sebagai ras immortal berjumlah jauh lebih banyak daripada manusia, pasukannya menyebar dan melakukan penyerangan saat tiba di dimensi manusia.
Sebelum mereka benar-benar menguasai wilayah Yogya, kita harus mengupayakan untuk memberantasnya!" sambung Ayah Pandji menerawang ke halaman depan yang mulai terang karena matahari akan segera terbit.
"Apa yang akan Ayah lakukan?"
"Ayah sedang memikirkan sebuah rencana." Dengan langkah berat Ayah pandji pergi menuju kamar, meninggalkan putranya dalam banyak pertanyaan. "Sebaiknya Mas Pandji juga istirahat!"
"Baik, Ayah."
Sebuah rencana? Dua atau tiga buah rencana rasanya lebih baik, Ayah!
__ADS_1
***