
Merasakan tubuhnya semakin sakit dan panas, Pandji memilih mendengarkan Damar dengan memakan buah seperti pisang berwarna hitam dan beberapa biji yang dirasa mirip dengan biji bunga matahari. Semuanya berwarna hitam dan terasa dingin di tangan.
Pandji mengunyah lebih cepat lalu duduk dengan posisi lotus untuk menyerap semua khasiat buah dan biji yang baru saja tiba di lambungnya. Matanya terpejam rapat menahan sensasi melepuh di seluruh bagian tubuh.
Sesekali raga Pandji bergetar hebat seperti orang sedang menggigil menahan dingin, detik berikutnya bermandi keringat hingga nafasnya serasa hampir putus.
Ternyata tidak mudah mencerna apa yang disebut Damar Jati dengan buah surga dunia kegelapan tersebut. Pandji lebih suka menamainya sebagai buah setan karena efek terbakar seperti di dalam neraka yang dirasakan saat selesai mengkonsumsinya.
Sesuai apa yang dikatakan Damar, satu jam berikutnya kondisi tubuh Pandji berangsur stabil dan membaik. Dia merasakan kualitas tulangnya meningkat, ada tambahan energi yang tersimpan dalam tubuhnya meskipun itu adalah energi kegelapan.
Damar Jati tersenyum lebar melihat Pandji membuka mata. "Luar biasa, Mas Pandji hanya butuh waktu sepenanakan nasi untuk mencerna tiga jenis makanan ajaib itu. Orang lain setidaknya butuh satu hari untuk satu buah!"
"Aku tersanjung meski rasanya hampir mati, Damar!"
"Itu untuk Mas Pandji, untuk menenangkan perut setelah bekerja keras mencerna tiga buah tadi." Damar Jati menunjuk sesuatu yang teronggok di depan Pandji.
__ADS_1
Pandji menaikkan dua alisnya, melihat dua umbi seperti kentang berwarna hitam yang ditunjuk Damar. "Apa lagi ini? Ubi setan?"
Damar tergelak mendengar pertanyaan konyol Pandji. "Saya rasa namanya kentang meskipun tidak mirip, dan yang berwarna hitam itu yang paling baik kualitasnya. Tapi perlu dimasak lebih dulu untuk menghilangkan racun yang terkandung didalamnya sebelum dimakan!"
"Oh, jadi bisa dibakar atau direbus dulu?" tanya Pandji tertarik. Dia mengambil satu kentang dan mengaktifkan elemen api pada telapak tangannya untuk mematangkan umbi yang disebut Damar kentang. Pandji penasaran apalagi yang bisa dia dapatkan dari makanan ajaib dunia kegelapan.
Setelah beberapa saat, bau gosong menyeruak dan kentang ditangan Pandji berubah menjadi arang. Pandji kembali menaikkan alisnya dan menggerutu saat mencicipi makanan yang jadi tak layak konsumsi tersebut. "Aku tidak bisa memakan ini, Damar! Keras seperti batu dan lebih pahit dari ramuan apapun yang pernah aku minum."
Damar tertawa lucu melihat ekspresi Pandji yang cukup menderita, "Biar Mika saja yang membakar untuk Mas Pandji!"
"Kau baru makan satu ayam, Mika! Biarkan semua kentang itu untukku! Kamu perempuan, makanmu dikit dan kamu tidak pernah makan serakus ini di Yogya!"
Mengabaikan pernyataan Pandji, Mika memakan satu kentang miliknya dengan lahap. "Ini juga enak, Mas! Entahlah … di sini aku merasa enak makan!"
Pandji menggeleng ringan tidak terima, memakan kentang dari Mika yang rasanya jauh lebih baik daripada makanan pertama yang disodorkan Damar. "Jadi kapan kita bergerak, Damar?"
__ADS_1
"Setelah malam berlalu, Mas Pandji! Lebih aman jika kita pergi ke kota siang hari, di dunia iblis waktu berkebalikan dengan dunia manusia."
Pandji mengangguk ringan, menyetujui ide Damar Jati. "Baiklah!"
"Tidakkah mencurigakan jika kita bepergian dengan kondisi seperti ini, Damar? Maksudku penampilan kita akan sangat mencolok nantinya," ujar Mika memberi pendapat.
"Sebenarnya tidak sedikit manusia yang berpindah ke dunia kegelapan seperti saya dulu. Dengan alasan yang berbeda-beda mereka akhirnya menetap di sini, jadi bisa dibilang ada ras manusia juga di sini." Damar Jati menceritakan sedikit pengalamannya di masa lalu sebelum bertemu raja iblis dan tinggal di kerajaan.
"Sebaiknya kita tidak mengambil resiko apapun, aku berjanji pulang dalam kondisi utuh pada ibunda, Damar!" ujar Pandji tegas. "Kita akan menyamar!"
Mika langsung sepakat dengan ide tersebut, dengan senyum lebar dan sok cantik dia menimpali ucapan Pandji. "Aku setuju … jujur saja aku juga takut jika raja iblis tertarik padaku dan bermaksud menjadikanku selirnya di sini!"
Pandji dan Damar menaikkan sudut bibir bersamaan, menyeringai rumit sambil menatap Mika tak percaya.
***
__ADS_1