SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 44


__ADS_3

Pandji menarik pedangnya yang baru saja bersentuhan dengan kuku panjang salah satu serigala besar yang menubruknya saat Chimera pimpinan mereka selesai menggeram.


Kuku makhluk ini setajam belati yang juga terbuat dari logam, seperti milik wolverine dalam film X-Men saja!


Mengamati sebentar bilah pedangnya yang baru digunakan untuk menangkis serangan, Pandji tersenyum bangga dengan karya ayahnya. Bilah pedang itu utuh tak tergores sedikitpun.


Dia tidak tau siapa yang menempa dan membuat ulang dua pedang yang berasal dari pusaka penganten versi lama miliknya. Yang Pandji tau itu dibuat bukan hitungan hari, tapi memakan waktu satu tahun lebih.


"Sepertinya ini serius, Damar!" gumam Pandji mengingatkan roh yang bersemayam dalam pedangnya.


Pandji menghindari terkaman demi terkaman sambil menganalisa situasi. Beberapa benturan yang terjadi karena pedangnya menangkis kuku setajam belati masih terus terdengar.


Pandji gusar karena tidak melihat Chimera yang seharusnya ada di antara mereka, padahal yang harus dilakukan Pandji untuk segera mengakhiri pertarungan adalah dengan melumpuhkan Si Pemimpin.


Satu tebasan ke leher membuat kepala dua makhluk hitam lepas dan menggelinding entah kemana, tubuh yang jatuh langsung menghilang terinjak kawanan yang beringas menyerang Pandji.


Seketika dinding api terbentuk di sekitar Pandji, mengurung Pandji di tengah kawanan yang dahaga dengan darah ksatria.

__ADS_1


Meskipun Pandji sudah mengerahkan semua tenaga, banyaknya serigala dengan kekuatan lebih baik dari yang ada di rumah Biantara tak urung membuat Pandji kewalahan juga.


Beberapa kuku tajam berhasil mengoyak baju dan menggores kulit lengan Pandji. Keluhan Pandji diikuti sabetan dan tusukan mematikan pada makhluk yang sudah melukainya. Pandji tak segan mengubah mereka menjadi abu atau jadi serpihan es batu.


SRET!!!


Goresan panjang melukai punggung Pandji yang sedang sibuk menangkis dan membabat serangan dari depan.


"Aarrggg …." pekik Pandji tertahan.


Seketika semua moncong serigala yang ada di sana mendongak dan mengendus udara yang berbau manis darah Pandji. Darah yang membuat rasa haus makhluk hitam seperti mereka menjadi lebih menyiksa.


Chimera yang dicari-cari Pandji muncul dengan seringai mengejek, kuku tajam yang berhasil melukai punggung Pandji dipamerkan dengan gaya mengerikan. Berdiri dengan kedua kaki belakangnya, Chimera itu seperti menggenggam sepuluh belati sangat tajam pada tangannya.


“Baiklah kambing buduk, aku akan mengasah kukumu dengan kedua pedangku!”


Pandji meloncat dan menebaskan pedangnya secara bergantian, meliuk dan berkelit saat cakar tajam Chimera berusaha keras menancap pada tubuhnya.

__ADS_1


TRANG!!! TRANG!!! TRANG!!!


Pandji melihat beberapa kuku Chimera yang beradu dengan pedangnya terpotong, menghilang sebelum jatuh ke tanah.


Makhluk berkepala bayangan kambing dengan dua tanduk mundur perlahan dan melolong kuat. Kawanan serigala memberikan jalan mundur dan menutupi Chimera dari penglihatan Pandji.


Mengayunkan dua pedangnya, Pandji terus maju merangsak ke arah perginya Si Pemimpin. Berapapun makhluk yang berusaha menghalangi ditebas dan terpotong seperti ayam yang disembelih secara acak.


Daripada sebagai ksatria, Pandji lebih terlihat seperti tukang jagal yang serampangan memotong hewan sekehendak hatinya. Amarah yang meluap membuat Pandji tidak menjaga diri dengan baik. Dia terlalu banyak menggunakan mana sihirnya.


Ketika Chimera yang dicarinya ada di depannya dalam kondisi prima, Pandji justru sudah banyak kehilangan energi.


Baju Pandji koyak merata dan banyak darah menetes dari luka yang terkena cakar maupun taring makhluk gaib yang jadi lawannya. Penampilan Pandji tak ubahnya seperti gelandangan muda yang tampan dan mengenaskan.


Pandji mengeluh dengan suara rendah, “Damar … jika aku tak selamat, bisakah kau sampaikan maafku pada Ibunda?”


***

__ADS_1


__ADS_2