
Perlahan, Pandji merasakan pandangannya menjadi lebih gelap dan tubuh yang awalnya sangat sakit akibat memaksa membuka gerbang dua alam, kini terasa semakin ringan dan kehilangan beban. Pandji semakin tidak bisa merasakan apapun. Tubuhnya lunglai tidak berdaya untuk melawan akhir kehidupan.
Pandji masih berusaha keras untuk merintis kesadaran, menggapai ingatannya yang mulai pudar dan juga membuka aliran tenaga dalam di sisa fisiknya yang tidak terluka. Namun, semua sia-sia. Tubuh pemuda tujuh belas tahun itu terlalu lemah, jangankan untuk membuka aliran tenaga dalam, untuk bernafas saja sudah tidak ada jalan. Mana cadangan kehidupan Pandji telah habis.
Lalu bagaimana Pandji bisa pulang?
Jika memang takdir kematian menjemputnya sekarang, Pandji hanya berharap bisa menghadirkan wajah ibundanya yang penuh kasih sayang dalam memorinya sebelum ajal menjelang. Sekali lagi, Pandji gagal! Permohonan terakhirnya juga tidak terkabul. Pandji tetap melayang tanpa ingatan dan tanpa kesadaran.
Akhirnya tidak ada lagi usaha yang dilakukan Pandji selain pasrah pada Tuhan. Mungkin dia memang ditakdirkan mati dalam usia tujuh belasan. Jadi, saat kegelapan pekat mulai menyapa dalam kelam, Pandji mulai menerimanya dengan lapang. Tidak ada penolakan atau perasaan ingin menghindar lagi. Raga Pandji sepenuhnya telah mati rasa dan siap lelap dalam tidur abadi selamanya.
Kenangannya pada kehidupan terhapus permanen. Yang ada hanya kekosongan jiwa yang siap kembali pada Sang Pencipta, pemilik dirinya yang sebenarnya.
Pandji tersenyum dalam damai. Setidaknya dia sudah berupaya menjadi anak yang baik dan membanggakan untuk orang tua selama hidupnya.
Tidak ada penyesalan meskipun Pandji tidak sempat menitipkan wasiat atau ungkapan sayang pada orang-orang yang dicintainya, orang-orang yang masih harus dilindunginya. Ah, mereka pasti akan mengerti suatu hari nanti, mengerti mengenai situasi sulit yang dihadapi Pandji, mengerti kalau Pandji benar-benar tak berdaya menghadapi takdir ilahi yang sedang terjadi.
Pandji yang berada di ambang batas kehidupan tidak menyadari kalau ada satu cahaya kuning kemerahan melesat menyambar tubuhnya. Menguasai raganya yang siap jatuh ke dalam pusaran portal waktu, portal sihir lain yang bisa melemparkan siapapun ke tujuh dunia dengan beda dimensi.
__ADS_1
Ini adalah pusaka yang dijaga ras penyihir dari sejak benda ini diciptakan. Tidak pernah digunakan karena sangat terlarang melebihi apapun. Pusaka ini konon bisa merubah takdir seseorang, yaitu dengan cara lari dari takdir yang satu, menuju takdir yang lain. Pusaka ini adalah satu-satunya peninggalan dari para pendo'a, yaitu penyihir suci yang hanya mengabdikan diri pada Yang Satu.
Pandji belum sadar sepenuhnya saat terngiang samar di pikirannya suara perempuan sedang berbicara.
Rasa sakit yang tadi sudah menghilang kembali menyiksanya dengan hebat. Pandji ingin meronta dan mengaduh sekerasnya, seumur hidup belum pernah dia merasakan sakit yang nyaris membunuhnya seperti sekarang.
Apa aku tidak jadi mati? Kenapa aku kembali merasakan sakit ini?
Pandji mengeluh dalam hati, matanya masih sangat berat untuk dibuka meski dia merasakan ada udara berhembus dari hidungnya.
Telinga Pandji yang sebelumnya sudah tuli kembali mendengar suara-suara alam. Ada air mengalir tak jauh dari tempatnya berbaring tak berdaya. Ada suara kicau burung dan desau daun tertiup angin, ada udara dingin yang menyapa bagian kulitnya yang terbuka serta ada suara dua orang yang sedang bercakap-cakap.
Untuk menggerakkan satu jari, Pandji butuh waktu lima menit memusatkan tenaga di telapak tangannya. Itupun tidak ada hasilnya. Tubuhnya masih tidak bisa digerakkan sama sekali.
Sampai sepuluh menit berikutnya, Pandji hanya bisa bernafas teratur dan malah sangat mengantuk. Hal itu disebabkan ada cairan manis seperti madu dimasukkan paksa oleh seseorang ke dalam mulutnya.
Dengan bantuan tenaga dalam, orang itu juga memaksa tubuh Pandji untuk merespon ramuan manis yang sudah berada dalam perutnya. Membantu agar Pandji segera menyerap khasiat cairan tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih bantuanmu, Welas! Aku akan membawanya sekarang!" Suara pria berbicara dengan sopan terdengar samar di telinga Pandji.
"Terima kasih kunjungannya, Den bagus! Sampaikan salamku untuk Satrio Pamungkas, terima kasih karena telah menyelamatkan Mpu Sapta!" Pandji mendengar perempuan bernama Welas menjawab ramah.
Pandji tak sempat mengaduh apalagi melihat siapa yang sedang bicara, siapa yang menolongnya dari hisapan pusaran gerbang waktu? Siapa yang menyelamatkan nyawanya? Siapa yang meredakan seluruh sakitnya? Siapa yang memberikan 99 mustika penyihir yang diuntai menjadi kalung dan kini menggantung di lehernya?
Pandji hanya merasakan tubuhnya kembali melayang dalam dekapan seseorang yang auranya tak pernah asing selama hidupnya. Pandji menebak, dirinya sekarang berada di atas naga yang sedang melesat cepat membelah udara terbuka.
Sayangnya, Pandji tidak bisa menikmati perjalanan pulang menuju rumahnya di Pakualaman, matanya enggan terbuka dan kesadarannya kembali hilang dalam buaian angin gunung yang turun dari puncak Merapi. Pandji tidur lelap dalam pelukan kasih pemilik mantra lanjaran.
***
...**Hai Allover semua,...
...ini adalah end story dari perjalanan Pandji sebagai Satrio Pamungkas di sesion 1. Tapi, saya tidak bisa janji untuk melanjutkan petualangan Pandji di tujuh dunia pada sesion 2 karena beberapa alasan**....
...Terima kasih sudah mengikuti kisah Pandji dan calon haremnya sampai sejauh ini hehehe......
__ADS_1
...Salam sayang - Al...