
Pandji sedikit lega meskipun nafasnya memburu karena baru saja melepaskan mana dalam jumlah sangat besar untuk menghabisi seratus lebih kawanan maroz, kakinya bergetar seperti tidak kuat lagi menopang tubuh. Sisa mana dalam tubuhnya tidak cukup untuk membuat barrier pelindung.
Tangan Pandji terulur menangkap Damar-Asih yang melayang di depannya, seketika energi panas dan dingin masuk ke dalam tubuh Pandji dan membuat penyesuaian.
Pandji mengatur nafas dan bergumam lirih pada Mika, "Beri aku waktu sepuluh menit untuk memulihkan tenaga, Mika! Lindungi aku!"
"Aku tahu tugasku, Mas Pandji!" sahut Mika dengan ekspresi khawatir. Wajah Pandji terlihat lelah, banyak keringat menetes pada wajah dinginnya.
"Kamu berhasil menghabisi mereka dengan cepat, Sobat!" teriak Aswanta takjub.
"Kita masih ada pekerjaan berat, Guru! Mereka yang berkepala dua jauh lebih kuat daripada yang sudah kita potong lehernya," tegur Tirta dengan nada sangat serius.
Satu maroz berkepala dua mendekati tiga pemuda yang sudah bersiap dengan senjata terhunus, sementara satunya melolong panjang dan melompat ke arah Mika dan Pandji.
Sementara Mika menghadapi makhluk buas yang berusaha mencabik tanpa henti, Pandji memanfaatkan waktu untuk membuat rune sihir berbentuk heksagram dengan ujung pedangnya.
Pandji duduk bersila di tengah heksagram untuk mengembalikan staminanya yang terkuras, dia harus siap beberapa menit lagi karena Mika dan tiga temannya mulai kewalahan dengan dua maroz yang bukan saja kuat, tapi satu kepala mereka mampu menyemburkan api.
Meski ada dalam perisai kuning Mahesa, tiga pemuda itu masih menerima cakaran dan semburan api yang hampir menghanguskan kulit karena panasnya.
Mahesa mulai lelah dan kehabisan tenaga sehingga perisainya pun mulai menipis, akibatnya pertahanan mereka mudah ditembus oleh serigala besar dengan dua moncong yang terus menyeringai memamerkan taring penuh lendir kehitaman.
Dalam kondisi terdesak, teman-teman Pandji mulai berteriak histeris memanggil namanya.
"Sobat … bisakah kau bangun dari mimpimu sekarang!" Aswanta memutar pedang pendeknya dan menangkis sabetan cakar yang hampir merobek lengannya.
__ADS_1
"Aku melindungimu, Guru … tapi ini tidak bisa lama, tenangaku juga sudah mulai kritis!" jerit Tirta panik.
"Jaga diri kalian, aku harus membantu Mika sebentar!" teriak Mahesa meninggalkan dua temannya saat dilihatnya Mika sudah sangat kepayahan menghadapi lawannya. Bajunya robek dan terbakar di beberapa tempat.
Selang beberapa menit, Pandji membuka mata dan menyalakan heksagram sihirnya. "Arahkan binatang dari alam kegelapan itu agar masuk ke dalam heksagram!"
Dengan sekuat tenaga, mereka berempat menahan serangan dua makhluk yang menggila dengan api yang terus disemburkan dari mulut.
Mika dan Mahesa sudah masuk kedalam heksagram yang seketika melemahkan setengah tenaga dari maroz yang memburu keduanya. Kerjasama dua belati Mika dan tombak Mahesa akhirnya bisa melukai lawan yang terjebak dalam lingkaran sihir.
Pandji menghadang maroz yang menerkam Aswanta dengan kekuatan Damar Jati. Pedang biru sedingin es itu menyambar tepat pada salah satu kepala yang terus menyemburkan api.
KRAK!!!
Derak batok kepala terdengar nyaring, pecah berkeping dan hangus jadi abu saat Pandji memberi tusukan susulan dengan pedang merah yang menghantarkan energi panas.
“Kami tidak mungkin meninggalkanmu bertarung sendiri, Sobat!” pekik Aswanta keras kepala. Nafasnya sudah hampir habis saat mengayunkan pedang untuk menghentikan amukan maroz terakhir.
Pandji melompat seraya mengayunkan dua pedangnya, menebas dan memotong kaki depan maroz yang sudah kehilangan satu kepala tapi masih kuat menyerang Aswanta.
Raungan panjang menggugah malam, tubuh maroz yang sedang terhuyung karena kehilangan dua kaki depannya dihajar Tirta dengan tarian pedang seperti ombak.
Dalam sekejap, cairan hitam terakhir yang mengalir dari tubuh serigala dua kepala pun hilang ditelan bumi. Meninggalkan senyap pada malam yang memang dingin dan sepi.
Nafas-nafas tak beraturan terdengar samar dari mulut teman-teman Pandji yang sedang mengambil posisi duduk bersila untuk menstabilkan energi.
__ADS_1
Pandji menatap kegelapan lain yang berjarak seratus meter lebih dari tempatnya berdiri, aura pekat yang sudah dikenalnya ada di sekitar sana, mengawasi dari kejauhan, dari balik gulitanya malam.
Badrika … kau tukang intip sialan!
Badrika baru saja kehilangan dua peliharaan terbaik dan satu pasukan maroz yang baru saja turun menembus dimensi untuk mengambil alih desa yang sudah ditentukannya.
Andai saja tenaganya tidak habis untuk membantu membuka portal kecil antar dimensi, seharusnya Badrika sudah bisa mengambil alih tubuh Pandji malam itu juga.
Aura kegelapan yang dirasa Pandji makin menipis dan tak lama menghilang, Pandji sedikit menurunkan kewaspadaan setelah inderanya tidak menemukan kejanggalan lain.
"Kalian baik-baik saja?" Tanya Pandji kepada timnya setelah suasana terkendali dan Badrika pergi melintas dimensi.
Mika yang telah selesai memeriksa keadaan mereka menjawab masam, "Selain luka ringan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"
"Hampir subuh, sebaiknya kita pulang untuk istirahat!"
Tidak ada perdebatan, satu persatu masuk ke dalam mobil dengan perasaan lelah.
"Aku ingin sekali tidur setelah ini," ucap Mahesa datar.
"Aku juga," sambung Aswanta dan Tirta kompak.
"Kau serius ingin mengemudi?" tanya Mika pada Pandji yang tampak masih lelah.
"Tidurlah!" jawab Pandji singkat seraya memutar arah mobil.
__ADS_1
Dengkuran terdengar dari kursi bagian belakang, tiga pemuda yang biasanya berisik sudah lelap ke alam mimpi. Tidak lama, Mika juga memejamkan mata indahnya, meninggalkan Pandji mengemudi sendirian, melaju pelan menuju rumahnya yang berada di area Pakualaman.
***