SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 107


__ADS_3

Setelah mengusap pipi beberapa kali, pemuda di depan Tirta mulai bicara.


"Eh, maksudnya ada tarifnya? Aku nggak minta diselamatkan, nggak ada perjanjian hitam diatas putih dan aku bukan orang yang bisa diperas seenaknya!"


" … " Tirta baru mau menjelaskan, tapi sudah didahului oleh pemuda yang baru saja ditolongnya.


"Gini aja deh, iblis yang tadi sudah dikeluarkan … suruh saja masuk ke dalam tubuhku lagi … aku nggak punya uang buat bayar!" kata pemuda itu bersungut-sungut.


"Heh … kamu pikir keluarga Abisatya kekurangan dana hingga harus mengemis harta padamu?" sarkas Tirta melotot.


"Ya trus apa? Kalau ngomong jangan muter-muter!"


"Kamu kira saya komidi putar?" ujar Tirta mulai jengkel.


"Maksudnya aku harus bayar pakai apa?" Kekesalan merayap di hati pemuda yang kini melotot pada Tirta.


"Pakai tenaga, semua ksatria yang sudah diselamatkan wajib ikut berperang melawan iblis. Kamu lihat Badrika dan pasukannya itu kan?" tanya Tirta menunjuk ke arah luar gerbang yang ambruk.


"Sebanyak itu?" tanya pemuda itu menahan tersedak. Matanya membulat dan mulutnya terbuka lebar.

__ADS_1


"Hm …." jawab Tirta dengan hanya bergumam ringan.


"Aku mau pingsan saja sampai perangnya selesai," ujarnya berusaha memukul tengkuk sendiri agar kehilangan kesadaran. "Bisa bantu pukul aku, Tirta?"


"Kawan, tidakkah kau sedikit saja punya rasa malu? Lihatlah teman-temanmu sudah berdiri mengangkat senjata siap memperjuangkan hidup, baik itu nyawa milik pribadi atau keluarga di rumah masing-masing.


Aku sudah kehilangan kedua orang tua karena orang-orang seperti Badrika, apa kau ingin jadi yatim piatu sepertiku juga?


Dunia kita sedang diserang, Kawan! Jika kita tidak melawan, kita akan jadi tanah pijakan mereka.


Apa yang kita korbankan hari ini untuk melindungi anak cucu dan keluarga kita di masa depan.


Menunduk lesu, pemuda tadi ikut mengangkat senjata dan masuk dalam barisan. "Aku ikut, Tirta! Aku juga ingin menyelamatkan orang tua dan saudara kembarku."


Tirta menoleh sekilas dan tersenyum lebar. Semangatnya berkobar seperti api yang tidak mungkin dipadamkan. Tekadnya kuat, tidak akan mengampuni mereka yang sudah menjajah tempat kelahirannya, bahkan berani mengambil keluarga tercinta.


"Aku yang akan menghadapi Badrika," ucap Mika seraya meraba dua belati yang disimpan di pinggang.


"Tidak boleh, lebih baik kamu menahan perempuan bercadar itu. Dia kekurangan mana, lebih mudah dilumpuhkan!"

__ADS_1


Mika mendengus kesal, Pandji tidak mungkin bisa dibantah. "Baiklah! Lalu bagaimana dengan tiga chimera?"


"Raksa, Gia dan Oma akan mengurusnya," ujar Pandji datar. "Aswanta akan memimpin semua ksatria untuk melawan pasukan yang lebih rendah," sambung Pandji.


"Apa kamu akan menyelamatkan jiwa dan raga Badrika?" tanya Mika penasaran.


"Tergantung situasi."


Mika mengangguk dan bergumam, "Bukan hal mudah untuk mengeluarkan pemimpin dari tubuh Badrika."


"Betul ... aku butuh ayahanda untuk membuka tujuh gerbang tubuh Badrika dan butuh keberadaan Ibunda di waktu yang sama sebagai penyembuh," terang Pandji menghembus nafas berat.


"Semoga mereka lekas kembali," desis Mika.


"Aku juga berharap demikian," gumam Pandji. Dua pedang yang tergantung di punggung dicabutnya. Firasatnya mengatakan tidak akan lama lagi.


BLAR!!! KRAK!!!


Udara terus saja bergoyang seperti air di dalam balon transparan, kubah lanjaran berkali-kali memijar dan bergetar hebat. Hanya menunggu waktu untuk hancur dan perang sesungguhnya dimulai. Perang antara manusia dan iblis.

__ADS_1


***


__ADS_2